Kata "sambat" mungkin sudah sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari, apalagi kini sudah menjadi bahasa gaul di media sosial. Bahkan, tak jarang pula menjadi trending topic di twitter. Nah, istilah "sambat" sendiri berasal dari bahasa Jawa yang memiliki arti mengeluh.

Mengeluh kiranya sudah menjadi kebiasaan yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan kita. Kini memiliki akun sambat merupakan hal lazim bagi para pengguna media sosial. Ya, mungkin banyak juga dari kita menjadi salah satu pemilik akun yang sering membuat cuitan tentang curhatan maupun sambatan di salah satu platform media sosial. Termasuk saya sebagai salah satu pengguna media sosial yang juga memiliki akun sambat di twitter.

Meski sambat terkesan negatif, tetapi ada juga efek positif atau manfaat yang kita peroleh. Namun, sebelum membahas hal itu, saya pernah mengalami hal yang nggak enak ketika sambat dan curhat kepada teman. Mungkin hal ini juga relate bagi beberapa orang yang pernah mengalaminya.

Belajar dari pengalaman saya sebelumnya, ketika saya curhat dan sambat kepada teman terkadang respons dari mereka tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Ya itu memang bukan salah mereka juga sih.

Tapi kadang saya merasa kesal saja, niat hati ingin berbagi curhatan dan sambatan supaya dapat solusi dan saran, eh malah diajak adu nasib yang mereka rasakan. Dengan kata lain mereka selalu membandingkan dan menganggap ‘enteng’ masalah kita daripada masalah mereka.

“Lo masih mending, lah gue malah pernah.....”

Kalimat di atas mungkin menjadi salah satu respons yang sering kita dengar ketika curhat dan sambat dengan teman. Ya memang tidak semua orang akan merespons seperti itu, tetapi juga tidak menutup kemungkinan bahwa pasti ada saja oknumnya.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai mencoba membuat akun untuk mengunggah cuitan mengenai keluh kesah dan curhatan yang saya rasakan. Memang awalnya aneh, apalagi saya sempat berpikir, “lah ngapain ya gue sambat di medsos pasti nggak ada juga yang peduli”.

Ya pokoknya pikiran saya waktu itu beranggapan kalau berbagi sambatan dan curhatan di akun sambat itu percuma saja.

Tapi itu cuma awalnya, semakin lama kok saya merasa nyaman ketika berkeluh kesah di media sosial. Apalagi tak jarang juga, ada beberapa akun orang lain yang mampir di cuitan saya untuk sekadar memberi semangat dan memberi solusi atau saran.

Dari situ saya merasa lebih dihargai ketika sambat dan curhat tentang masalah yang saya alami dan merasa zona nyaman saya itu ketika berkeluh kesah di akun sambat. Mungkin beberapa dari kalian juga ada yang merasa nyaman ketika sambat di media sosial.

Lalu, apa saja manfaat yang dapat dirasakan setelah berkeluh kesah di akun sambat?

1. Membuatmu merasa lebih lega

Ya, dengan mengeluh dan meluapkan segala beban yang kamu tanggung tentunya akan membuatmu menjadi lebih lega. Mungkin dengan sambat tidak akan bisa menyelesaikan masalah, tapi setidaknya bisa mengurangi sedikit bebanmu.

2. Mencegah stres dan depresi

Kalau kamu punya masalah dan memendamnya sendirian itu hanya akan menambah beban pikiranmu atau malah akhirnya bisa buat kamu stres sendiri. Kalau sedang tidak ingin bercerita tentang masalahmu dengan teman atau orang di sekitarmu, setidaknya kamu bisa bebas meluapkan segala keluh kesah di akun sambatmu.

3. Membuatmu belajar untuk menerima saran dan kritik

Saat kamu membuat cuitan sambat, bisa jadi ada yang dengan senang hati memberi respons berupa saran atau bisa juga memberi kritik untuk kamu. Dari sini kamu bisa belajar untuk menerima dan menghargai saran dan kritik dari orang lain. Sehingga, kamu menjadi tahu apa yang harus diperbaiki dalam diri kamu, serta mendapat solusi dari permasalahanmu.

4. Bertemu teman senasib

Terkadang ketika mengunggah cuitan sambat, entah itu soal cinta, sekolah, keluarga, teman, putus asa, ataupun pekerjaan, mungkin akan membuatmu bertemu dengan seseorang yang membaca itu akan merasa sama nasibnya denganmu. 

Mungkin ada juga yang meninggalkan jejak komentar di cuitanmu, seperti “Wah, ini sih aku banget” atau “Gila sih ini relate banget sama aku”. Sehingga, kamu tidak akan merasa sendirian lagi, bahkan bisa menjadi akrab dan mencari solusi masalah kalian bersama.

5. Menjadikan kamu pribadi yang lebih kritis

Ketika kamu mengeluh atau bersambat, tak jarang juga kamu akan berpikir “Kenapa aku bisa jadi kayak gini, ya?” atau “Haduh gimana cara nemu solusinya, ya?”. Nah, pada momen inilah yang bisa membuat kamu lebih berpikir kritis dalam menganalisis segala hal yang menjadi akar dari masalahmu.

6. Memanusiakan dirimu sendiri

Mengeluh itu wajar. Jangan menutupi dirimu untuk berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Selain capek fisik, kamu juga akan capek batin maupun pikiran. Kalau ada masalah, tidak ada salahnya untuk mengeluh, jangan malah menutupi kesedihan dan segala permasalahan yang kamu hadapi sendiri.

Meski banyak orang beranggapan bahwa sambat di media sosial itu hal negatif dan hanya buang-buang waktu saja, tetapi nyatanya bagi sebagian orang ada juga yang merasakan manfaatnya. Bersyukur itu memang penting dan harus dilakukan, tapi saya rasa mengeluh sesekali juga bukan menjadi suatu masalah yang besar. Bukankah jika di dunia ini ada sesuatu yang harus disyukuri, maka ada juga sesuatu yang pantas untuk disambati?

Hidup bahagia memang menyenangkan, tetapi menyendiri sambil menangis dan sambat sebentar itu menjadi hak untuk dilakukan. Ingat salah satu judul drama korea yang populer yaitu It’s Okay to Not Be Okay, yang bisa diartikan tidak apa-apa kalau merasa tidak baik-baik saja. Kita itu manusia bukan benda, jika ingin mengeluh ya ungkapkan saja.

Meski ternyata mengeluh ada juga manfaatnya, tapi jangan terlalu sering melakukannya. Berarti itu masalahnya ada dalam diri kamu sendiri.