Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan top fans badge Facebook dari sebuah halaman resmi Angkatan Bersenjata Israel, yaitu Israel Defense Force (IDF).

Halaman ini memang didesain menarik. Bagi Israel, Zionisme sebagai bentuk ideologi bangsa tidaklah mungkin tercapai tanpa pertahanan militer yang mahal, kuat, dan garang.

Memperkuat aspek pertahanan, bagi Israel, dianggap sebagai bentuk riil dan mudah dipraktikkan untuk membayar lunas kewajiban melindungi hak-hak dari setiap warga negaranya. Israel dengan tegas dan keras akan menuntut siapa saja yang mengusik ketenangan hidup warganya.

Bahkan, lebih gila lagi, Israel akan membuat perhitungan berlevel dendam kesumat jika menyangkut harkat, martabat, serta keselamatan harta dan jiwa warga negaranya.

Beberapa halaman resmi pemerintahan Israel juga saya ikuti. Termasuk juga halaman-halaman pergerakan keyahudian tak luput dari jempol (like) saya.

Ketertarikan saya terhadap Israel yang identik dengan Zionisme dan seambrek keunikan lainnya semata-mata hanya berelasi dengan ketertarikan ilmu pengetahuan saja.

Adalah nonsense memberikan penilaian terhadap Israel jika tanpa mendalami dan berinteraksi dengan relasi logos dan mitos yang membangunnya. Berdiri di posisi netral adalah sikap bijak dalam memahami Israel sebagai negara dan bangsa, serta Israel sebagai ideologi keagamaan.

Dengan melihat komentar-komentar pada setiap halaman Facebook-nya, terlihat mereka begitu mencintai Israel sebagai negara dan Israel sebagai ideologi keagamaan. Tingkat kecintaannya sudah di level ultranasionalisme untuk Israel sebagai bangsa dan negara, sebagaimana model NKRI Harga Mati itu.

Sedang kecintaan Israel sebagai ideologi keagamaan sudah di tingkat kecanduan agama hingga level hipostasis. Sikap ultranasionalisme dan kecanduan agama itu dibangun oleh perjuangan pembebasan yang mahahebat dari reaksi penindasan yang menghantam diaspora Yahudi sebagai suku bangsa dan agama di seluruh belahan dunia.

Salah satu bagian menarik Zionisme adalah hubungan antara liberalisme dan romantisme yang bersatu di dalamnya.

Sebuah racikan sedap dari pemikiran liberal yang berkiblat pada  konsepsi rasionalisme dan dibumbui dengan psikologis moral tradisional. Liberalisme romantik yang mengadopsi kritik romantik akal dan melampirkan nilai positif dari jiwa manusia, seperti semangat, emosi, dan cinta.

Liberalisme romantik merupakan salah satu motivator fundamentalisme agama dan gerakan kembali ke nilai-nilai tradisional. Perang, cinta, dan agama adalah tiga cita rasa pengalaman manusia dari sebuah pertarungan konsep romantis dan konsep rasionalis dalam mengartikan sebuah kebebasan.

Zionisme yang merupakan liberalisme romantik juga sebagai gerakan politik resmi yang didirikan oleh jurnalis Theodor Herzl pada tahun 1897, setelah rilis bukunya yang berjudul Der Judenstaat.  

Sungguh istimewa, dari sebuah buku hingga membidani gerakan liberalisme romantik dengan hasil nyata, yaitu kelahiran sebuah negara yang bernama Israel Raya pada tahun 1948.

Herzl yang memiliki visi liberlisme romantik ini berpendapat bahwa cara terbaik untuk menghindari antisemit dan penindasan adalah mendirikan sebuah negara Yahudi yang merdeka.

Untuk mewujudkan hal itu, Herzl membuat Zionisme agar dapat mengadopsi liberalisme berperang, liberalisme cinta, dan sekaligus liberalisme iman.

Zionisme juga merupakan bagian dari napas demokrasi, namun perlahan telah terkikis hingga menjadikan Israel sebagai bangsa etnis yang sektarian dengan misi-misi ideologis dan kolonialis.

Dalam Der Judenstaat, Herzl menguatkan akan kemungkinan berdirinya sebuah negara Yahudi di mana pun. Bagi Herzl, tempat tidaklah begitu penting. Hal mendesak pertama adalah menanamkan konsep liberalisme romantik di seluruh komponen diaspora Yahudi yang tersebar di dunia.

Liberalisme romantik sangat fokus dan kuat terikat dengan romantisme sejarah dan tradisi keagamaan yang menghubungkan orang-orang Yahudi ke tanah Israel.

Dengan konsep liberalisme romantik ini, membuat Zionisme tidak memiliki ideologi yang seragam, hingga berkembang Zionisme Umum, Zionisme Agama, Zionisme Buruh, Zionisme Revisionis, Zionisme Hijau, dan lainnya.

Pengaruh doktrin agama membuat tegaknya identitas keyahudian mereka dengan menentang asimilasi Yahudi ke dalam masyarakat lain. Dalam artian luas, mereka benar-benar menjaga kemurnian sebagai bangsa pilihan Tuhan.

Gerakan yang berbasis liberalisme romantik ini terus berlanjut, terutama untuk melakukan advokasi atas nama Yahudi sebagai negara dan sebagai ideologi keagamaan. 

Bentuk nyata dari liberalisme romantik adalah paradoks dari liberalisme itu sendiri. Salah satu paradoksnya adalah ungkapan-ungkapan, semisal “Tidak ada pemisahan antara agama dan negara untuk Israel Raya".

Liberalisme romantik ala Herzl yang diejawantahkan dalam Zionisme telah diperkuat oleh peranan dua politisi ulung, Shaaron dan Barak, hingga berhasil mendominasi kekuatan induk negara tersebut.

Atas pengaruh itu, apa pun dinamika yang sedang terjadi, Israel tetaplah berada di bawah kendali Zionisme serta berkiblat pada ajaran Yahudi sebagai asas ideologi bangsa.