3 tahun lalu · 3596 view · 2 min baca · Olahraga zidane.jpg
Foto: http://www.rtve.es

Zinedine Zidane: Khalifatullah Penakluk Eropa!

Jika ada seorang Khalifah yang akan membuatku tertarik untuk berbaiat dan bersumpah-setia, dia tiada lain adalah Khalifatullah al-Habib ila Qalbi Zaynuddin Yazid Zaydan al-Faransi. Ya, yang kumaksud tentulah Zinedine Yazid Zidane alias Zizou, pelatih Real Madrid asal Prancis yang baru saja memenangkan Liga Champions (29/5/2016). Bagiku, Zidane adalah Khalifah atau duta terbaik Islam yang telah memancarkan seribu cahaya di langit Eropa, aha, bahkan Dunia!

Dia bahkan telah menaklukkan hatiku sejak merajalela di Italia bersama Juventus. Sejak 1996, tak ada pemain bola sejagat raya yang paling kupuja, baik tekhniknya, visinya, pencapaiannya, maupun akhlaknya di dalam dan luar lapangan melebihi Zizou. Terhadap engkau, aku hanya sami’na wa ta’ajjabna, cuma bisa tunduk dan takjub!

Mungkin ada yang keberatan atas sanjunganku atas akhlakmu. Bukankah kau mengakhiri karir dengan menanduk dada pemain Italia, Marco Materrazzi, di laga final Piala Dunia 2006? Ya, saat itu dikau tampak gegabah, tapi yang juga layak ditanya: apa sebenarnya isi dada sosok yang kau tanduk itu? Jika melihat rekam jejaknya, aku tak heran kau terpaksa melakukan aksi konyol itu.

Aku sempat patah hati saat kau meninggalkan Juventus demi berhijrah ke Madrid di tahun 2001. Tapi sekaligus juga mafhum: mungkin itu sudah jalan takdirmu demi menaklukkan klub-klub Eropa dan menjuarai Liga Champions bersama El Galacticos. Tendangan volimu mengoyak jala Bayern Leverkusen di laga final Liga Champions 2002, dan engkau sah merajai Eropa!

Aku tak pernah meragukan sepak-terjangmu saat membela Perancis dan karena itu selalu berkiblat ke Les Blues saat kau bermain—kini tak lagi. Engkau adalah roh dan panglima tim Perancis yang telah mengajari bocah-bocah Samba tentang bagaimana bermain indah seperti di laga final Piala Dunia 1998. Subhanallah, engkau menang dengan gaya!

Kemarin malam, engkau kembali menaklukkan Eropa, alhamdulillah tanpa darah dan tanpa keringat pula. Engkau memilih pemain, mengatur taktik-strategi, dan memberi instruksi kepada anak buahmu dari pinggir lapangan. Aku sempat sangsi kau akan berjaya menghadapi taktik cerdik Simeone dan singa-singa lapar yang dia asuh. Para pemain Atletico itu seperti tampil dengan sebelas Simeone sementara di kubumu tak tampak seorang pun Zidane.

Gol Sergio Ramos di menit ke-15 tentulah bagian dari rencana yang sudah kau persiapkan dalam latihan. Penguasaan bola yang kalah dominan mungkin pula kau sengaja demi meredam bahaya serangan balik Gabi dan kawan-kawan. Namun tatkala di menit ke-72 dan ke-77 engkau mengganti Kross dengan Isco dan Benzema dengan Vazquez—setelah terpaksa menarik Carvaljal yang terkapar di menit ke 52—aku berfirasat Madrid akan tamat.

Tapi dewi fortuna masih berpihak padamu, Zizou, dan engkau kembali ditakdirkan untuk menaklukkan Eropa. Kali ini sebagai pelatih. Kegagalan penalti Griezmann di menit ke 48 dan gol balasan Carrasco di menit ke 79 hanya membawa laga derbi Madrid di Milan itu ke perjudian nasib di dadu penalti. Kau yang tampak kalah taktik dan strategi dan para pemainmu yang seperti kehabisan bensin sejak babak kedua akhirnya meraih La Undecima juga.

Sebagai pelatih yang baru menjabat enam bulan, respekku besar karena kau menjadi penakluk Eropa sekaligus pelatih Prancis perdana yang memenangkan Liga Champions. Zaydan al-Faransi telah memenangkan “Perang Badar” yang kelak akan mewarnai kiprahnya di kancah sejarah kepelatihan. Sebagai prestasi pertama yang kau torehkan, pertarungan ini tentu akan mengangkat pamor dan moralmu.  

Elit Madrid dan masyarakatnya tentu takkan lagi syak-wasangka untuk mempertahankanmu di posisi komandan. Mereka tentu juga berharap agar kau kelak memenangkan perang-perang lainnya: Uhud, Khandaq, Khaibar, Mu’tah, Hunain, Taif, Tabuk, dan El Clasico.

Walau emoh menjadi pendukung Madrid, aku pun berharap engkau tak hanya berjaya di Milan seperti kemarin, tapi kelak juga merebut Paris, Munich, London, bahkan Barcelona. Tanpa darah dan lebih baik lagi bila bersama Arsenal, hahaha. Takbir!   

Artikel Terkait