Ketika saya pacaran pertama kali, bapak saya menggunting beberapa artikel dari koran tentang apa yang terjadi pada perempuan yang melakukan extramarital sex. Dia juga menasihati tentang bagaimana laki-laki memandang perempuan yang mau bersetubuh dengannya tanpa menikah. Bagaimana laki-laki itu akan merendahkan dan tidak menghormati perempuan itu. 

Saya percaya 250 persen pada bapak saya; bukan karena guntingan koran yang nggak jelas kebenarannya, tapi karena bapak saya adalah pelaku. 

Bapak saya pernah bercerita bahwa ia benci terpaksa menikah dengan ibu karena ibu hamil saya. Jadi kesimpulannya, dia tidak senang dengan pernikahannya dan menyesali saya harus ada karena extramarital sex yang dia lakukan. Bapak saya juga bukan cuma sekali dua kali selingkuh. Thanks to him (and many other men) saya jadi percaya bahwa perempuan hanyalah segumpal daging pemuas nafsu bagi laki-laki.

Ketika saya masih lugu dan percaya bahwa guru itu jujur dan hanya menginginkan kebenaran bagi siswanya, dosen agama saya mengatakan bahwa zina adalah ketika partner kita adalah segumpal daging pemuas nafsu, entah dalam pernikahan atau tidak. Untuk selanjutnya, ini definisi zina yang saya pakai dalam tulisan ini. Dan bukankah zina itu dosa?

Ketika saya menghadapi pengalaman seksual saya yang pertama, saya merasa kacau. Dan berdosa. Pacar saya (waktu itu) memang memuaskan saya. Saya juga tidak menganggap hubungan kami berdua itu hubungan yang suci dan Tuhan menginginkannya, saya bahkan tidak berpikir tentang Tuhan ketika melakukannya. 

Meski saya menghormati sepenuhnya pacar saya itu sebagai manusia bebas dan saya yakin dia juga menghormati saya.

Manusia sering begitu sombong menganggap dirinya lebih mulia dari semua makhluk lain, terutama binatang. Kita sering mengatakan seseorang "kelakuannya seperti binatang" hanya karena ia mengikuti instingnya yang tidak merugikan siapa pun tapi bertentangan dengan norma dan kenyamanan "bersama". 

Mengapa kita begitu "gatel" mengurusi dan mengatur urusan privat orang lain?

Padahal kita hanya sedikit lebih beruntung dari hewan dengan tidak serta-merta "berkembang biak dan memenuhi bumi dengan keturunan" kita. Kita bisa pakai kontrasepsi atau membungkusnya dalam institusi dulu sebelum memenuhi bumi lalu merasa lebih suci dan mengikuti perintah Tuhan karenanya.

Binatang yang kita tuduh hanya bisa mengikuti nafsu yang tidak suci itu, setahu saya tidak ada yang obesitas. Mereka tahu kapan merasa puas dan cukup. Kita tidak. Puas dan cukup sangat sulit kita pahami. 

Kabar yang lain, tak ada satu pun binatang yang berhasil memenuhi muka bumi dan menggusur makhluk yang lain seperti manusia. Beberapa binatang bahkan punah karena manusia yang "lebih mulia". 

Jadi, begitu salahkah nafsu sehingga jadi awal segala penderitaan - dukkha? Seperti kata Sang Buddha. Begitu nistakah seks sampai Maria-ibu Yesus harus tetap perawan ketika hamil Yesus, melahirkannya, bahkan selamanya? Meski ia punya suami yang sah. Begitu penting untuk menjauhkan simbol kesucian dari seks. 

Bila seks begitu buruk, mengapa Tuhan meminta kita berkembang biak dan seks adalah cara melaksanakan perintah itu? Bila seks begitu dekat dengan dosa dan neraka, mengapa dari perkosaan Tuhan tetap bisa meniupkan kehidupan? Padahal dosa dan neraka adalah kematian abadi?

Adakah di antara kita yang bisa melihat partnernya melulu suci? Dan tetap bisa memenuhi bumi dengan keturunan? Yang di setiap intercourse-nya siap untuk membesarkan satu anak lagi karena anak adalah anugerah Tuhan?

Apakah kita perlu merasa mulia dengan menuduh makhluk lain tidak suci? Begitu inginkah kita menentukan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh bagi orang lain juga makhluk lain? Bahkan menentukan dosa orang lain. Kita jadi lebih tuhan dari Tuhan dan menjadi hakim bagiNya.

Dan yang lebih sedih, perempuan yang lebih sering jadi bulan-bulanan penghakiman itu. Bukankah PSK lebih disingkirkan dan dianggap sampah masyarakat dibanding pengunjungnya? 

Bukankah istri simpanan yang dianggap perusak rumah tangga orang lain dan bukan si suami yang memang tidak pernah ingin setia? Bukankah perempuan yang dipandang hina ketika tidak perawan saat menikah dan laki-laki dianggap penakluk yang hebat?

Ataukah karena seks begitu nikmat sehingga kita ingin menguasainya? Seperti juga dengan semua kekayaan lain di dunia ini? Begitu manusia menginginkan sesuatu, manusia segera menemukan cara untuk menginstitusikannya agar bisa dikuasai. Sehingga manusia lain harus mengakui kekuasaan tersebut.

Ingat harta, tahta, wanita? Seks (salah satu yang diwakili oleh kata wanita) adalah kepunyaan, kekayaan, dan kekuasaan. Makin kaya dan berkuasa seorang laki-laki, makin banyak istrinya (atau simpanannya) dalam "harem".

Dengan menguasai seks dan mengatur seks, menguasai orang lain menjadi lebih gampang karena seksualitas tak terpisahkan dari kemanusiaan. Ini juga mengapa para feminis mengatakan perkosaan adalah masalah kekuasaan. Dengan memperkosa, pelaku tanpa banyak kata-kata menekankan bahwa laki-laki yang lebih kuat, lebih berkuasa, dan karenanya perempuan harus menjadi objek, tinggal di rumah, dan menuruti kata laki-laki. 

Saya jadi kasihan pada Tuhan. Begitu seringnya Ia dijadikan "kaki tangan" manusia yang ingin menguasai sesamanya. Dosa diobral sebegitu murahnya dan Tuhan jadi monsternya.

Saya yakin tidak pernah ada yang memberi pesan pacar pertama saya itu seperti yang saya terima. Saya pacar pertamanya juga. Tapi apakah ada yang mengatakan padanya "Hati-hati, perempuan akan melihatmu rendah bila kamu tidak perjaka!". Setahu saya sih, adik laki-laki saya tidak pernah dapat pesan itu dari bapak saya.