Tak pernah ada yang bisa menebak perjalanan hidup manusia dalam linimasa kehidupan ini. Tak selalu indah layaknya kisah Cinderella yang bertemu dengan pangerannya hanya karena sepatu kaca. Tak selalu selesai layaknya kisah Rangga dan Cinta dalam kisah Ada Apa Dengan Cinta 2 yang kembali bertemu setelah 14 tahun.

Namun, ada linimasa di mana sebuah kisah harus berakhir tragis layaknya kisah cinta Romeo dan Julia. Belajar dari kisah-kisah itu, Tak pernah ada pula yang menyangka Zinedine Zidane atau kerap dipanggil Zidane akan secepat ini menahkodai Real Madrid. Klub terbaik abad ke-20 dengan 10 gelar liga Champions, terbanyak hingga detik ini. Mungkin dalam beberapa tahun ke depannya juga tetap begitu.

Layaknya dua insan yang saling mencintai. Mungkin tak satupun Madridista yang membenci seorang  Zinedine Zidane, begitu juga manajemen klub, sponsor hingga Florentino yang menjadi bagian yang kesekian yang mencintai Zidane.

Terbukti setelah pensiun tahun 2006 dari Real Madrid dan sepak bola, klub tidak membiarkan Zidane melipir dari Real Madrid. Pernah diangkat menjadi Direktur Olahraga, Asisten Pelatih, Pelatih Castilla (Real Madrid B) hingga saat ini menjadi pelatih kepala Real Madrid.

Rasanya sangat realistis, siapa sih yang ingin menyia-nyiakan seorang Zidane. Legenda sepak bola yang telah mendapatkan segalanya baik untuk negara, klub hingga pada diri sendiri (Ballon D ‘Or). Salah satu aset paling berharga dalam sejarah sepak bola, juga bagi Real Madrid.

Zidane layaknya Doraemon yang memberikan segalanya bagi Real Madrid dengan kantong ajaibnya. Zidane layaknya seorang “penyihir jahat”  dalam kisah Harry Potter yang selalu ditakuti pemeran protagonis. Melihat Zidane bermain sepak bola layaknya kita melihat seorang seniman berpuisi, sangat indah. Siapapun sepakat bahwa Zidane merupakan seniman sepak bola terbaik yang pernah dimiliki bumi ini.

Linimasa itu bermula dari sebuah rencana besar pasca terpilihnya Florentino Perez menjadi presiden Real Madrid, 30 juni 2000. Florentino yang pada saat itu ingin membangun Real Madrid sebagai sebuah brand terbaik olah raga di dunia awalnya sudah mendatangkan Luis Figo dari Barcelona yang memecahkan rekor transfer dunia. Beberapa hari sesaat dia terpilih menjadi Presiden Real Madrid.

Setahun berselang tepatnya tahun 2001 Zidane-pun didatangkan Florentino Perez juga dengan rekor transfer dunia, memecahkan rekor transfer Figo. Sejak saat itu layaknya perempuan yang sangat cantik dengan pesona yang luar bias, Zidane mudah di cintai Madridista. Sebab sangat sulit rasanya bagi Madridista untuk tidak jatuh hati pada pemain yang telah memenangkan Piala Dunia, Piala Eropa juga telah meraih Ballon d’Or, sangat sulit.

15 tahun berselang setelah Zidane pertama kali di perkenalkan ke Santiago Bernabeu sebagai pemain. Kini Zidane sudah menjadi pelatih kepala di Real Madrid. Setelah sukses sebelumnya mempersembahkan Liga Champions sebagai Pemain (2002) juga sebagai Asisten Pelatih (2014).

Kini Zidane melesat jauh dari perkiraan banyak orang sebelumnya. Memotong selisih poin dari 12 poin memnjadi hanya 1 poin di La Liga hingga mengantar Real Madrid ke semifinal Liga Champions, panggung yang selalu pantas menjadi tempat pentas Real Madrid.

Zidane tahu persis resiko apa yang telah diambilnya. Sebab 15 tahun sudah mengenal dan tahu bagaimana sifat Florentino Perez yang sesuka hatinya memecat para pelatih yang dianggapnya gagal. Zidane tahu persis resiko itu. Namun, demi sebuah sejarah Zidane ambil resiko itu. Perjalanan sudah sejauh ini, layaknya sebagai pemain dan asisten pelatih. Segenap Madridista sudah mencintai Zidane yang kini sebagai pelatih.

Di Linimasa sejarah sepak bola di masa yang lalu. Tak banyak pemain hebat yang sukses juga di peruntungannya sebagai pelatih. Bisa di hitung jari siapa saja mereka. Sebut saja Carlo Ancelotti, Johan Cryuff, hingga Guardiola yang sukses sebagai pemain dan pelatih.

Malah mereka yang suskes sebagai pelatih dulunya bukan berasal dari pemain hebat. Sebut saja; Alex Ferguson, Jupp Heynckes, hingga nama Jose Mourinho tak pernah ada dalam deretan pemain terbaik FIFA. Inilah resiko karir yang diambil oleh Zidane ketika membesut Real Madrid. Belajar dari kegagalan-kegagalan pendahulunya.

Siapa tak mengakui kehebatan Van Basten, Inzaghi, Ruud Gullit, hingga “El Diaz” Maradona dalam mengolah sikulit bundar yang ujung-ujungnya tergoda untuk mengambil pekerjaan melatih klub sepak bola. Namun, akhirnya gagal.  Karena ekspektasi berlebihan, sukses sebagai pemain dan sukses pula sebagai pelatih.

Zidane saat ini sedang berada di persimpangan jalan mengikuti kesuksesan Guardiola atau mengikuti jejak kegagalan seorang Diego Maradona. Guardiola tak bisa dinafikan telah memberikan segalanya untuk Barcelona juga telah memberikan banyak gelar untuk Bayern Munchen.

Bandingkan dengan Maradona yang berulang kali mendapatkan “hadiah” surat pemecatan sebagai pelatih. Sebut saja Racing Club, Al Wasl dan AFA (Timnas Argentina) adalah deretan institusi yang memberikannya “surat cinta” pemecatan itu . Tentu ini tidak sepadan dengan namanya yang selalu menjadi perdebatan yang terbaik dalam sejarah sepak bola, dirinya (Maradona) atau Pele.

Rasanya tak perlu perdebatan panjang soal ini. Tinggal menunggu linimasa perjalanan waktu. Pilihan mana yang akan di ambil Zidane. Bila nanti Zidane akhirnya sukses pujilah dia layaknya seorang Guardiola. Namun, bila linimasa waktu membawa Zidane pada jejak Maradona, anggap saja Zidane “sedang belajar”  menjadi seorang Diego Maradona.

Tetap saja kenang dia seperti dulu, seorang seniman yang suka berpuisi, bersajak, dan bersyair di lapangan sepak bola yang suka melewati setiap kaki-kaki bek-bek lawan yang sedang dihadapinya. Juga layaknya “Penari Balet” yang suka berputar-putar diantara setiap organ tubuh pemain yang di hadapinya. Akan ada masa kemana linimasa berjalan, berputar dan mengelilingi waktu. Good Luck, Zizou.