"Deh, ziarah terus ki, kak. Doakan saya juga nah, kak." Begitu chat japri dari seorang sahabatku, Ais, melalui WhatsApp (WA).

Aku menjawabnya; "iye, ayo ke Mandar, kita pigi ziarah sama-sama." Aku menjawabnya dalam dialek Sulawesi. Ais lagi berada di Makassar, Sulawesi Selatan. Aku memang biasa memasang status ketika melakukan kegiatan apa pun di WA.

Di Januari 2020 ini, aku sudah memasang foto ziarah kubur sebanyak dua kali. Pertama, fotoku di kubur Imam Lapeo, salah seorang yang dipercaya sebagai wali di Mandar, Sulawesi Barat. Kemudian, kedua, aku juga memposting fotoku di kubur Ammana Pattolawaliseorang raja Mandar yang meninggal karena diserang Belanda; kuburnya terletak di Alu, Tinambung, Sulawesi Barat.

Tahun-tahun sebelumnya, aku menposting foto diriku di kubur-kubur berikut; kuburan presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, di Blitar, Jawa Timur. Kuburan kakek para wali, Syeh Jamaluddin Akbar di Wajo-Sengkang, Sulawesi Selatan. 

Kuburan Syeh Yusuf, Guru tasawuf yang termasuk dalam Wali Pitue (tujuh wali di Sulselbar) di Katangka, Gowa, Sulawesi Selatan. Kubur Sultan Hasanuddin, Raja Gowa yang terkenal dengan gelar yang diberikan oleh Belanda, Ayam jantan dari timur di Gowa, Sulawesi Selatan. 

Kuburan Karaeng Pattingalloang, seorang Raja yang mencintai ilmu pengetahuan dan memiliki atlas, bola dunia di zamannya, sesuatu yang sangat langka saat itu, kuburnya di Gowa, Sulawesi Selatan.

Kuburan Kanne Pakande Ate, Kakek "pemakan hati", dan kuburan anak bidadari  di Campalagian, Sulawesi Barat. Kuburan Annangguru Saleh, guru mursyid tarekat Qadiriah di Pambusuang, Sulawesi Barat. Ke "makam" Todilaling yang kabarnya dikubur bersama dayang-dayangnya sebanyak empat belas pasang laki-laki dan perempuan yang mengiringi hari-harinya di dalam kubur sambil memainkan alat musik di Tinambung. Dan lain sebagainya.

Beberapa tahun terakhir ini, aku memang lagi getol-getolnya, rajin ziarah kubur. Bukan karena ingin bergelar Sarkub alias sarjana kuburan. Namun, niat ngecash diri saat ini lebih penting. 

Aku men-cash diri dengan ziarah karena ziarah, baik kuburan maupun makam (petilasan), merupakan jalan terbaik mengingatkan diri akan adanya Tuhan. Akan datangnya kematian karena kita merupakan "makhluk hidup" yang tidak akan hidup selamanya. 

Ketika melakukan ziarah kubur, selain meng-charge diri tadi, kita sekaligus mengasah kepekaan batin kita. Rasanya, ada perasaan yang sedih sekaligus bahagia dalam ziarah itu. Sedihnya mengingat beliau-beliau yang telah dikubur, seseorang tokoh atau leluhur yang telah mendahului kita, namun nama mereka selalu disebut-sebut sebagai seseorang yang "berguna".

Ada sesuatu yang berbeda ketika aku berada di kuburan-kuburan tadi. Tapi menurutku, "sesuatu" itu pada kubur orang yang tertentu saja. 

Mereka "pahlawan" yang sesungguhnya, karena kepedulian mereka pada sesama. Mengapa tidak bisa seperti mereka, belajar dari perjalanan hidup mereka? Apalagi jika mereka memiliki kontribusi pada kehidupan selama hidupnya sehingga menjadi pembelajaran. 

Pembelajaran agama, sejarah, sosial, sampai pada budaya. Kita bisa belajar agama tidak secara langsung dari orang yang dikubur ketika beliau-beliau adalah wali, wakil Tuhan di dunia. Caranya, dengan jalan mencari "pegangan" yang dibacanya ketika hidup. Kita bisa belajar sejarah secara tidak langsung dengan mengetahuinya dari orang yang dikubur hidup pada tahun berapa ketika mereka adalah raja atau bangsawan. 

Kita bisa belajar "ilmu sosial" ketika tahu mereka yang di kubur mempunyai jejak hidup kemanusiaan, pengabdian sosialnya. Kita bisa belajar budaya secara tidak langsung dari model atau bentuk nisan yang beraneka ragam berdasarkan strata sosialnya seseorang di masyarakat atau dan periode tahun kuburan.

Belajar Merasa Bukan Hanya (untuk) Bergaya

Ziarah adalah amaliah mengunjungi tempat suci yang mengandung makna rohaniah untuk mengingat kembali, memperkuat keyakinan, menyadari kefanaan hidup di dunia, dan (untuk) memperoleh berkah keselamatan (Sunyoto, dalam Zuhriah 2013). 

Ibuku adalah orang yang pertama mengajariku untuk menyukai ziarah kubur. Ajaran ini turun-temurun dari ibunya. Ibunya atau nenekku sendiri menyukai ziarah karena "belajar" dari ayahnya. Kami biasa berziarah kubur di Mandar ketika menjelang bulan Ramadan tiba atau dan waktu liburan karena kami tinggal di Makassar.

Kubur yang kami ziarahi biasanya adalah kuburan keluarga, yaitu leluhur kami, tokoh agama yang dianggap wali, tokoh masyarakat seperti raja dan turunannya, dan makam atau petilasan orang-orang yang dianggap "moksa" hilang di dunia.

Seperti makam Maradia Baro-baro dan keluarga sampai hewan-hewan, seperti kambing peliharaannya yang menghilang pada malam hari. Ketika kami ke sana berziarah, cuma ada batu penanda di atas pegunungan, pada tanah yang lapang dan luas. 

Biasanya, kami ke sana bersama pengantin baru, keluarga yang baru menikah. Maksudnya, mungkin juga untuk memperkenalkan anggota keluarga baru di keluarga kepada mereka di alam lain. Tradisi ke makam ini sudah turun-temurun dari kakek kami empat lapis generasi di atasku.

Hari gini, walau ada "paham" yang melarang ziarah kubur, ziarah makam, apalagi "bertawassul" pada yang di kubur maupun di makam, aku tetap menjalaninya. Menurutku, tawassul adalah jalan mendekatkan diri pada Tuhan, bukan untuk menyembah yang di dalam kuburan.

Dari kuburan, atau makam, aku merasakan spiritual mengingat Tuhan, kami akan kembali pada-Nya karena dengan berziarah berarti mengasah rasa, kepekaan pada hati. Dan ketika aku take a picture untuk di -sharing memperlihatkan pada orang bahwa berziarah juga keren kok. Gaya hidup ziarah kubur ini bukan hanya milik generasi tua yang berumur, namun juga kaum milenial. 

Apalagi, banyak booth-booth untuk berfoto yang cantik dan unik pada wilayah kubur. Entah tanda kuburnya yang klasik, model dulu. Tempat kuburan yang biasa jauh dari kota, terletak di desa, atau pegunungan yang seru karena sekalian berpetualang atau wisata spiritual. 

Sampai pada suasana di pekuburan yang sepi mencekam ditemani lolongan anjing dari jauh yang membuat bulu kuduk berdiri seperti menonton film horor.

Namun, jangan hanya ziarah kubur untuk memposting foto. Tanpa share ilmu, tanpa mendapatkan "spirit" apa-apa dari ziarah kubur yang seharusnya buat hidup lebih hidup.