LAGU MARIE BUAT DOA
Derai-derai lara
Merangsek ke jendela
Bertanya apa kabarku
Rintik-rintik malu
Menetes di kepala ku
Kapan kereta menjemputku
Di ruang ini doa tiada terdengar lagi
Tertutup bising suara perut
Dan setrikaan yang maju mundur
Langit pun telah sesak oleh pinta
Empat mulut kan menganga pagi ini
Sedang tiada apa terhidang di sana
Ku pikir Tuhan lagi tertawa
Belum selesai bait ku, ia tinggalkan

LAGU MARIE BUAT THOMAS
Apakah langit sedang kelabu di kediamanmu, kasihku?
Ku rasa tidak bahkan cerah dan angin sepoi menyentuh pipimu
Lain denganku, bukan angin bukan tangan kasarmu
Hanya tangis yang mencium pipiku dan rasanya silu
Apakah bulan sedang tersenyum mandangimu, kasihku?
Ku yakin iya karena kau tlah di kerajaan-Nya sang Maha Iba
Sedang aku, jangankan bulan orang-orang mandangi aku
Penuh dengan rasa kasihan dan malu aku dengan hidupku
Apakah jalanan lengang di sana tanpa keriuhan, sayangku?
Tentu saja, karena ungkapan cinta disampaikan dalam doa di sana
Lain denganku, semua mulut mengacung hiba
Dalam kesempatan yang sama menghinakan kau, kasihku!

ZIARAHI ENGKAU
Pentingkah kau mengetahuinya kira-kira? Aku pikir hal itu menjadi sesuatu yang tidak masuk akal dan tak bena lagi. Menziarahi engkau yang sudah mati dengan sebelah kaki menghasung aku  berkaul agar kau nongol lagi. Sedeng!
Dulu sekali ketika kau masih hidup sambil menghitungi jari ke mana kita pergi, aku mengasihi mu. Kau katakan kalau kita tak pernah kemana-mana. Beda sekali dengan kekasihmu dulu. Layuh aku!

Dulu sekali, ketika hujan turun perlahan kau usap muka aku dengan selorohan mu yang kurang lucu. Tapi aku suka!
Sekarang kau telah menggantung separoh jantungku di halaman belakang gereja dan separohnya lagi kau tinggal untuk ku rasakan benci dan cinta sekaligus! Sering berfikir aku, memang lebih baik kau mampus saja. Lucunya, pikiran itu membuat ku terus berdosa.

Menjadi pasanganmu memang tak ada untungnya.
Sesekali ku ingat ketika motoran ke kampung halamanmu yang jaraknya sekitaran 3 jam. Tak ada uang di saku tapi kita tetap melaju. Gairah muda yang blagu. Ku kira setelah sampai kita kan senang-senang makan durian atau lemang ternyata hanya duduk makan angin dan sedan tawa pura-pura.

Pernah lagi, kau ajak aku berkunjung ke rumah teman mu. Aku masih ingat, saat itu orang tua temanmu pergi bekerja dan meninggalkan ia di rumah dengan adik-adiknya yang masih bayi. Kau peluk aku dan membisikkan kalau kita tidak akan seperti orang tua teman mu itu. Aku percaya saja!
Ternyata lebih parah ya!

PESAN THOMAS UNTUK MARIE
Tidak ada satupun di dunia ini yang abadi, begitu kan Marie? bahkan kemiskinan.
Aku ucapkan kalimat itu padamu saat kita menikah dulu.
Agar kau yakin bahwa hidup denganku akan bahagia.
Kesedihan hanya sementara. Kepedihan sebentar saja (begitu kataku)
Tapi tahun ke tahun, tampaknya ada hal abadi yang melekat pada diri kita. Antara lain; kesedihan, kemalangan, kemurungan dan lain-lainnya. Dan aku tak punya kuasa untuk menjorokkan nasib itu ke luar diri kita. Malang.. Malang.. Malang..
Jadi maaf saja Marie, bila ku terkesan tak memikirkan mu. Bila aku tergiring menyiakanmu. Bila aku terseret ke lubang ego untuk meninggalkanmu, Marie.
Aku tinggalkan sepenuh jantung ku untukmu, biar bisa kau peluk. Bila kau rindu, lekatkan jantungku ke telingamu akan kau dengar maaf maaf maaf dari ku.
Hidup hanya sekali Marie dan aku gagal menjalaninya.

LAGU MAGDA UNTUK MAMA
Ada seorang laki-laki Ma, ia penuh perhatian.
Ingin mengenalkan ia sebagai apa pada mu namun Magda bingung harus menyebutnya sebagai apa.
Berulang kali ia mengatakan padaku Ma, "Magda, kau sudah sewajarnya memikirkan dirimu sendiri!".
Berpuluh kali ada ia mengujar ke telingaku sampai akhirnya aku tergoda Ma.
Aku harus membakar cakrawala ku sendiri. Mengejar cita-cita dan bahkan mungkin sekali cinta yang perhatian.
Kali ini, Magda mintakan Mama untuk maklum.
Mama bisa faham.
Magda dari jauh pun akan mendoakan agar mama bisa cepat pulih dari kehilangan-kehilangan yang menyakitkan!

PESAN BENNY UNTUK MAGDA
Kira-kira begini lah Magda, nanti.
Hidupmu bakal terpaku mengenangkan hidup yang kau tinggalkan.
Bentuk dari penyingkiran kedukaan mu masih dangkal, masih sedalam ego.
Betul Magda, kita mesti memikirkan diri sendiri tapi
Kedukaan bagi keluarga adalah kedukaan yang rata bagi semua yang tenggelam di dalamnya.
Aku berpesan padamu, tinggallah dulu barang sejenak. Hingga naik sudah ke permukaan semua nestapa. Bersakit dahulu pun tak apa.
Tapi tampaknya pesan-pesan ku ini bakal mental bagimu. Ya sudahlah!
Nasihatku, jika nanti kau ingin membagikan cerita keluarga kita pada anak-anakmu, kelak, ceritakanlah yang baik-baiknya saja! Bohong sedikit pun tak apa! Dah!