Dunia entertainmen selalu dipenuhi dengan kejutan-kejutan. Pernikahan artis yang mencuri frekuensi publik, perceraian, pelecehan seks, hingga prostitusi artis. Terbaru adalah kasus yang dianggap sebagai penghinaan simbol dan lambang negara yang dilakukan oleh pedangdut Zaskia Gotik.

Artis yang dikenal dengan goyangan itiknya tersebut membuat penulis tergelitik untuk ikutan nimbrung membahas kehebohan yang membuat sebagian pejabat negara sekelas DPR/MPR berang tak karuan. Saking berangnya, sebagian dari anggota DPR/MPR itu meminta supaya Zaskia dihukum seberat-beratnya.

Tak ada yang salah memang dengan tuntutan manusia-manusia ‘suci’ Senayan itu. Namun, penulis menilai terlalu berlebihan kiranya bila persoalan tersebut ditimpakan pada Zaskia Gotik semata. Menurut penulis, ada yang salah dengan penanaman ideologi kebangsaan yang diterapkan selama ini. Dinas Pendidikan, pejabat legislatif serta segenap elemen terkait selayaknya melakukan introspeksi diri pula terhadap kejadian itu.

Mengapa Zaskia Gotik yang dianggap sebagai public figure bisa tidak hafal akan isi dari Pancasila? Apa karena ia hanya lulusan Sekolah Dasar kemudian juga kita memakluminya? Bukan. Bukan di sana letak permasalahannya.

Bahkan, sebagaimana penuturan kuasa hukum dari Zaskia Gotik sendiri, masih banyak selebritis yang tak hafal pula isi Pancasila. Hafal saja tidak, lalu bagaimana bisa memahami akan makna dari lima sila itu? Itulah sebenarnya pertanyaan yang harus segera dijawab oleh para pejabat di negeri antah berantah ini.

Bebek nungging Zaskia Gotik sebenarnya menampar muka para pejabat negeri ini. Ketidakbecusan dalam mengelola negara, tidak tepatnya sasaran dalam sosialisasi penanaman ideologi kebangsaan melalui 4 pilar. Lalu, mengapa kesalahan harus sepenuhnya ditimpakan pada Zaskia Gotik atas degradasi nasionalisme ini? Bukankah ini sama saja dengan buruk rupa tapi cermin yang dibelah?

Degradasi nasionalisme, serta pembiaran penghinaan terhadap simbol dan lambang negara kerap dilakukan oleh setiap manusia yang hidup di republik ini. Kita seakan tak peduli dan abai, saat melihat bendera merah putih yang telah diperjuangkan dengan darah dan air mata oleh para pahlawan, jatuh tergeletak di atas tanah.

Padahal, hanya demi bendera dwi warna tersebut, para pejuang tanah air harus jatuh bergelimpangan meregang nyawa. Mengapa orang-orang yang berlaku demikian tak diberi stempel sebagai sosok penghina simbol Negara?

Itu pertama. Kedua, adakah yang marah dan mengecam keras aksi-aksi yang dilakukan oleh sebuah organisasi yang mengusung tegaknya sistem kekhalifahan Islam di bumi pertiwi ini? 

Mereka begitu bangga dan jumawanya mengorganisir ribuan massa di lapangan yang tepat berada di jantung pemerintahan Indonesia. Bukankah ini sebuah ancaman bagi tegaknya NKRI? Mengapa bukan organisasi semacam ini yang harus diluruskan dan diberi pengarahan tentang ideologi kebangsaan Indonesia?

Dinas pendidikan selayaknya segera turun ke bawah, melihat realitas dunia pendidikan di tanah air. Bobroknya sistem pendidikan berimbas pada rapuhnya wawasan kebangsaan generasi didik dari bangsa ini.

Sistem pengajaran yang ada cenderung menjauhkan anak didik dari gagasan besar para pendiri bangsa. Hingga membuat anak didik tak mampu menghafal Pancasila atau gagap ketika diminta menyebutkan isi sumpah pemuda.

Penanaman nasionalisme kebangsaan sejatinya harus ditanamkan sejak dini. Sehingga nantinya tidak ada lagi generasi-generasi  seperti Zaskia Gotik yang tak hafal dan paham Pancasila. Sungguh penulis memimpikan hadirnya para selebritis yang tak hanya pandai berakting di layar kaca melainkan juga pandai, cerdas serta memahami dengan cermat pesan para pendiri bangsa.

Peran DPR/MPR juga patut dipertanyakan prihal agenda sosialisasi empat pilar kebangsaan yang telah dicanangkan. Sampai seberapa jauhkah tingkat keberhasilan penanaman ideologi kebangsaan tersebut telah dilakukan? Adakah sebuah lembaga yang pernah melakukan penelitian terkait tingkat keberhasilan dari sosialisasi empat pilar itu? Ini pertanyaan besar yang harus segera dijawab oleh manusia-manusia ‘suci’ Senayan dan kita semua!

Kalau sekiranya penulis diperkenankan untuk sumbang saran terkait hal itu, maka penulis menyarankan agar sekiranya agenda sosialisasi empat pilar tak hanya menyasar kalangan mahasiswa dan aktivis saja, melainkan juga menyasar segenap kalangan. Baik itu selebritis, petani, nelayan, buruh, guru serta penduduk di kampung-kampung.

Sistem dan gerakan seperti ini, menurut penulis, akan tepat sasaran. Tentunya hal ini memerlukan kerja sama segenap pihak demi menjaga tetap tegaknya bangunan NKRI, disertai pula pemahaman ideologi kebangsaan yang utuh untuk segenap suku bangsa yang tinggal di dalamnya.