Sebagai sebuah bangsa yang majemuk atau plural, Indonesia disimpulkan oleh para pendiri bangsa untuk harus memiliki satu “azimat pemersatu” yang sifatnya ideologis. Sang Putra Fajar atau Bung Karno menamainya dengan Pancasila.

Pancasila adalah sebuah ideologi paripurna yang nilai-nilainya digali dari banyak sumber nilai, baik dari nilai-nilai asli bangsa Indonesia, sampai dengan nilai-nilai yang sifatnya universal seperti kemanusiaan dan keadilan.

Pada tanggal 18 Agustus 1945 disahkanlah Pancasila oleh PPKI, yang mana PPKI beranggotakan perwakilan dari berbagai macam golongan (suku, agama, etnis, dll). Sehingga Pancasila yang sekarang kita baca dan hayati adalah destilasi dari tumpukan pemikiran pendiri bangsa yang sifatnya objektif dan mewakili pluralitas Bangsa Indonesia.

Terbukti sudah puluhan tahun Pancasila mampu melewati tahap demi tahap fragmen rezim dan kekuasaan, Pancasila sudah berjalan malampaui babak demi babak dinamika berbangsa namun Pancasila tetap terjaga “kesaktian” dan “kesakralannya”.

Sebagai tata nilai yang adiluhung Pancasila sudah seharusnya kita hormati dan kita jaga lewat sikap dan perilaku kita sebagai anak bangsa. Tetapi dewasa ini terjadi beberapa fenomena ketidakhormatan anak bangsa terhadap asas tertinggi negara ini.

Beberapa waktu yang lalu kita mendapati berita tentang pelecehan Pancasila oleh seorang penyanyi dangdut ternama, Zaskia Gotik. Zaskia mengatakan bahwa, “Lambang sila kelima Pancasila bebek nungging dan proklamasi Indonesia dibacakan setelah azan subuh, tanggal 32 Agustus”.

Candaan yang dirasa masyarakat sebagai pelecehan terhadap lambang negara ini pun menuai kecaman dan akhirnya masyarakat melaporkan pedangdut ini ke pihak berwajib. Namun jangan terburu-buru kita marah terhadap pernyataannya tersebut. Kita dedah dulu bagaimana mekanisme hukum di Indonesia menjawab sikap saenake dewe dari Zaskia Gotik.

Pasal yang digunakan untuk menjerat orang yang menghina simbol negara adalah Pasal 57 a jo Pasal 68, bahwa Setiap orang dilarang mencoret, menulis, menggambar, atau membuat rusak Lambang Negara dengan maksud menodai, menghina, atau merendahkan kehormatan Lambang Negara. Lalu pertanyaannya, apakah pernyataan Zaskia Gotik mampu merendahkan kehormatan dan kesakralan Pancasila?

Kalau kita menganggap Pancasila hanya sebagai ornamen untuk memperindah ruangan kelas atau museum dan nalar kita hanya mampu membayangkan simbolisasi gambar garuda dengan warna dan tameng serta gambar-gambar di dalamnya, mungkin wajar kalau kita menganggap Zaskia telah menurunkan martabat Pancasila.

Tetapi jika pikiran kita telah mampu melampaui simbol gambar dan mampu menangkap keagungan nilai-nilai Pancasila, maka kita tidak akan menganggap pernyataan Zaskia Gotik sebagai sesuatu hal yang dapat menodai Pancasila.

Menurut Charles Sander Pierce, simbol adalah tanda yang menunjukkan hubungan alamiah antara penanda dengan petandanya. Hubungan di antaranya bersifat arbriter, hubungan berdasarkan konvensi (perjanjian) masyarakat. Konvensi atau perjanjian penyimbolan poin-poin dalam Pancasila dengan gambar garuda dan berbagai ornamen di dalamnya merupakan alat untuk mempermudah masyarakat dalam mengetahui dan memahami Pancasila.

Pancasila yang sebenarnya bukan berupa gambar tetapi berupa tatanan nilai dan ini bersifat abstrak. Pancasila yang berupa nilai-nilai inilah yang semestinya kita jaga dan pertahankan secara mati-matian.

Lantas jika kita berbincang mengenai mekanisme pemberian sanksi hukum di Indonesia, terutama pasal-pasal mengenai penghinaan atau pencerabutan kehormatan, maka biasanya akan kita temui kata “secara sengaja”, dan proses kesengajaan dalam bertutur kata merupakan hasil dari olah intelektualitas.

Tidak bisa kita menghukum anak kecil berumur tiga tahun yang berkata bahwa ayah dan ibunya berkelamin sama. Sebab, timbunan intelektualitas dalam benak si anak kecil belum mampu untuk tahu perihal jenis kelamin orangtuanya.

Berarti bisa kita kategorikan anak kecil itu tidak sengaja atau belum tahu, karena belum cerdas secara pemikiran. Sama halnya dengan persidangan nenek pencuri kayu atau kakao di hutan yang mereka tidak tahu bahwa perbuatannya itu adalah sebuah tindak pidana.

Inilah wilayah-wilayah di mana masyarakat dan penegak hukum seharusnya mampu bersikap bijak dalam memutuskan perkara hukum. Masih banyak pencemooh Pancasila lainnya dari kalangan agamawan ekstrem dan figur publik yang secara sengaja menghina Pancasila, mengatakan bahwa Pancasila itu taghut, Pancasila itu ajaran neolib, Pancasila Sukarno itu pasal ketuhanannya terletak di pantat dan sebagainya.

Mereka itulah yang sejatinya harus ditangkap dan diadili karena mereka sengaja menghina Pancasila. Namun sejatinya sejuta celotehan penodaan terhadap Pancasila tidak akan mampu menodai sedikit pun nilai-nilai luhur Pancasila. Sebab, Pancasila yang sejati adalah nilai bukan gambar. Mari kita lampaui gagasan semiotik kita tenang Pancasila.