1 tahun lalu · 1038 view · 5 min baca · Lingkungan 28621_22266.jpg
BBC (Link: http://www.bbc.com/indonesia/topik/buku)

Zaman Now, Menggunakan Kertas = Melestarikan Hutan

-

Apa yang kalian bayangkan mengenai tehnik beternak yang baik? Kebanyakan orang akan berkata, Peternak yang baik akan mencari bibit ternak terbaik dan merawatnya dengan baik agar dapat menghasilkan ternak yang gemuk sehingga si Peternak dapat menjual dengan harga yang baik atau ketika disembelih dagingnya akan banyak untuk mendapatkan pendapatan yang baik. Perternak yang baik tersebut butuh pendapatan yang baik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menjadi modal untuk membeli hewan ternak selanjutnya agar usahanya berlanjut.

Filosofi dari cerita Peternak tersebut adalah setiap orang yang berusaha tidak akan mau rugi atau ingin untung, ingin usahanya berkelanjutan dan tentunya ingin terus eksis dibisnis tersebut. Analogi mengenai Peternak tersebut dapat berlaku juga di industri kertas, yaitu tidak mau rugi, ingin usahanya berkelanjutan dan tentunya ingin eksis berbisnis di Indonesia, terlebih industri kertas merupakan salah satu unggulan Indonesia selain sektor Migas.

Cerita industri kertas, maka tidak dapat dipisahkan dengan kondisi hutan di Indonesia karena bahan baku dari kertas adalah bubur kertas (pulp) yang bersumber dari kayu bulat yang ditanaman di Hutan. Sedikit bercerita tentang kehutanan, berdasarkan beberapa literatur disebutkan bahwa periode kejayaan sektor kehutanan pada periode tahun 1970 sampai dengan 1990.

Pada saat itu, Indonesia menguasai pasar produk kehutanan dunia, terutama melalui produk kayu lapis dan bahkan Indonesia menjadi barometer harga kayu lapis dunia karena sebagai pemain utama sehingga dapat mengatur harga. Sangat wajar Indonesia menguasai sektor kehutanan saat itu, karena luas hutan di Indonesia merupakan peringkat ketiga untuk luas hutan tropis di dunia setelah Brazil dan Zaire. Bisa dibayangkan, hutan kita luas dan masuk dalam kategori hutan tropis yang artinya sudah luas, produktif juga lahannya karena dengan iklim tropis sepanjang tahun mendapatkan hujan dan sinar matahari sehingga tumbuhan dapat tumbuh dengan baik karena fotosintesis berproses dengan sempurna.

Namun semua tidak seindah yang dibayangkan, petaka muncul ketika pengelolaan hutan pada saat itu tidak berjalan dengan baik sehingga hutan kita banyak yang terbuka dan laju deforestasi meningkat drastis. Pada saat itu juga kebakaran hutan dan lahan tidak henti-hentinya terjadi di Indonesia karena hutan yang ada menjadi semak-semak yang mudah terbakar ketika musim kemarau.

Peningkatan laju deforestasi atau pembukaan lahan hutan mengakibatkan Pemerintah Indonesia di tahun 1990 membuat konsep Hutan Tanaman Industri (HTI) yang dilegalkan melalui PP No 7 Tahun 1990. Konsep HTI pada dasarnya merupakan konsep rehabilitasi, karena pengelolaan HTI hanya boleh dilakukan pada lahan yang memiliki volume tanaman 20 meter kubik per hektar.

Sebagai gambaran, satu pohon berukuran sedang memiliki volume sekitar satu meter kubik maka dengan konsep pengelolaan HTI tersebut hanya dapat dilakukan pada lahan seluas satu hektar yang memiliki pohon sekitar 20 pohon. Jumlah tersebut sangat sedikit untuk ukuran hutan seluas satu hektar, oleh sebab itu jika konsep rehabilitasi hutan dengan konsep HTI jika berjalan dengan baik maka seharusnya dapat mengembalikan hutan kita yang rusak pada saat itu.

Namun, informasi tentang HTI yang beredar di masyarakat berbanding terbalik dengan fakta tersebut, HTI dituding merusak hutan karena merubah hutan alam, padahal pada saat itu hutan kita sudah sangat rusak dan HTI yang menjadi penyelamat dalam mengembalikan fungsi hutan Indonesia melalui konsep rehabilitasi.

Ketika konsep HTI dikembangkan pada saat itu, maka harus dipikirkan industri apa yang dapat menyerap kayu yang dihasilkan oleh HTI dan terpikirlah industri kertas sebagai konsumen dari pohon-pohon yang ditanam tersebut. Pohon yang ditanam harus ditebang untuk regenerasi serta menghasilkan fungsi ekonomi dari HTI.

Komersialisasi atau mendapatkan fungsi ekonomi bukanlah suatu yang haram dari pengelolaan hutan karena dalam paradigma pembangunan berkelanjutan pengelolaan sumberdaya alam terdapat tiga aspek yang dikelola dari sumberdaya alam yaitu aspek ekonomi, lingkungan dan sosial. Bagaimanapun mengelola hutan memerlukan biaya sehingga diperlukan fungsi ekonomi tersebut.

Selain hal tersebut, pohon yang dibiarkan sampai tumbang akan mengeluarkan CO2 bukan menyerap CO2 sesuai fungsi tumbuhan. Jika dilihat dari aspek pembangunan berkelanjutan, konsep HTI ini sudah meliputi tiga aspek tersebut yaitu aspek lingkungan dengan mengembalikan fungsi hutan, aspek ekonomi dengan menghasilkan kayu bulat untuk industri kertas dan aspek sosial sebagai tempat berinteraksi komunitas yang ada didalam areal HTI tersebut.

Kembali ke cerita Peternak, konsep HTI ini juga sama dengan Peternak  yaitu pengusaha HTI  tentunya tidak mau rugi sehingga mereka akan menjaga tanaman dan arealnya untuk dapat menghasilkan pohon yang besar dan cepat tumbuh, bisnisnya berkelanjutan serta eksis dan tentunya memperoleh keuntungan.

Ketika musibah kebakaran hutan dan lahan terjadi ditahun 2015, saya tidak habis pikir ketika HTI dan industri kertas dituding sebagai pembakar hutan karena mana mungkin mereka membakar barang miliknya yang menjadi barang dagangannya. Jika kita analogikan peristiwa kebakaran dengan cerita peternak maka peternak tersebut membakar sapi beserta kandangnya yang menjadi bisnisnya. Saya akal sehat saya, hal tersebut sangat kecil kemungkinan terjadinya.

Produsen industri pulp Indonesia sudah mendeklarasikan zero deforestation dan hanya akan menggunakan bahan baku dari HTI yang dikelola secara lestari dimulai sejak tahun 2013, jadi tidak ada lagi pembukaan hutan alam atau virgin forest kembali yang dilakukan oleh industri pulp.

Dengan demikian, pulp yang digunakan oleh industri kertas di Indonesia tidak menggunakan bahan baku pulp dari virgin forest di Indonesia sehingga tekanan terhadap virgin forest di Indonesia tidak terjadi oleh sektor industri kertas sejak saat itu. Oleh sebab itu, semakin meningkatnya produksi kertas semakin meningkatkan kebutuhan akan pulp serta HTI dan secara otomatis semakin banyak hutan-hutan kritis di Indonesia yang tertanami kembali.

Zaman now memang eranya paperless tapi industri kertas bukan hanya menghasilkan kertas yang digunakan untuk kita print, namun juga tisu, kardus, kertas sembahyang, kertas makanan (food pack) dan lain-lain.

Bisa dibayangkan kalau para kaum hawa ke toilet tidak ada tisu, ketika lulus sekolah kita tidak mendapatkan ijazah, ketika membeli barang elektronik tidak ada kemasannya, kita tidak punya uang kertas atau hanya tersedia uang logam dan ketika kita membeli makanan untuk dibawa pulang kita tidak menggunakan kemasan, saya rasa jawabannya tidak bisa.

Pada konteks Indonesia, kebutuhan buku tulis dan pelajaran untuk sekolah masih diperlukan, sangat jarang sekolah Indonesia menggunakan smart tablet untuk belajar seperti yang dilakukan di Finlandia sehingga kertas dapat dikatakan masih suatu kebutuhan pokok yang dibutuhkan oleh Indonesia untuk mencerdaskan masyarakatnya.

Kesimpulan dari artikel ini adalah terdapat fakta bahwa kita masih butuh kertas dan industri kertas serta pengusaha HTI tidak ingin rugi ditambah bahan baku kertas kita bersumber dari HTI yang arealnya berasal dari hutan yang tidak produktif atau kritis maka pandangan bahwa industri kertas Indonesia merusak hutan harusnya dapat diluruskan.

Secara logika, apabila industri kertasnya eksis maka HTI akan ikut Lestari dan hutan kita akan tetap terjaga. Zaman now menggunakan kertas sama juga dengan kita menjaga hutan. Rasanya tidak berlebihan juga kita membuat jargon untuk produk kertas sebagai berikut “zaman now, Indonesia pintar masyarakatnya, lestari hutannya dan kuat negaranya

Artikel Terkait