Pada zaman modern seperti sekarang, tentunya banyak ilmu pengetahuan yang semakin berkembang pesat. Hal ini menjadi salah satu faktor adanya inovasi-inovasi yang ada, banyak sekali pembaruan yang dilakukan oleh para ilmuwan di belahan dunia ini.

Kata ilmu pengetahuan sendiripun tidak asing dalam kehidupan kita, ada banyak artikel, jurnal, dan sebagainya yang menggunakannya. Ilmu pengetahuan adalah gabungan dari pengetahuan-pengetahuan yang disusun, dikaji dan diamati serta berasal dari pemikiran yang logis.

Dalam hal mengembangkan ilmu pengetahuan, sebenarnya tidak hanya para filsuf dan ilmuwan dari Barat saja yang memberikan kontribusinya, walaupun sebagian besar sejarah memang mengarah kepada Barat. Pastinya Timur juga melahirkan tokoh-tokoh yang mempunyai pemikiran kritis tak kalah dengan Barat.

Para filsuf itu memberikan kontribusi dalam berbagai bidang, seperti contohnya adalah ilmu kalam, atau yang bisa dikenal sebagai kembarannya teologi Islam. Mungkin ilmu kalam sudah tidak asing di telinga kita, mestkipun tidak setiap hari kita dengar. Tapi pasti pernah sekali-dua kali kita mendengarnya.

Atau bisa jadi kita sering membicarakannya tanpa sadar bersama dengan teman atau orang lain. Penulisan karya ilmiah juga sering sekali kita baca, contohnya adalah di beberapa artikel, jurnal atau semacamnya. Di dalam bahasa Arab sebenarnya ilmu kalam atau teologi adalah sebuah argumen yang diberikan seseorang untuk memperkuat argumen yang lainnya.

 Bahkan ketika membahas mengenai ilmu kalam, sebenarnya kita akan teringat dengan adanya ilmu ketauhidan yang pernah dipelajari sebelumnya. Sejatinya ilmu kalam dan ilmu tauhid mempunyai kesamaan, mereka akan sama-sama membahas mengenai metafisika dan sekitarnya. Namun, ada yang sedikit membedakan.

Jika ilmu kalam, ia akan lebih cenderung menggunakan logika yang ada di dalamnya. (Anwar, 2007) Ketika berbicara mengenai ilmu tauhid, sebenarnya yang kita temukan adalah bagaimana penjabaran mengenai ke-Esaan Tuhan itu sendiri. Bersamaan dengan itu, Harun Nasution pun turut memberikan kontribusi pemikirannya ke dalam ilmu kalam, baginya ilmu kalam adalah teologi Islam.

Seperti apa yang sudah dijelaskan bahwa ilmu kalam adalah sebuah kata-kata, dengan itu ada dua pemahaman yang diberikan. Pertama, ilmu kalam sebagai salah satu perkataan atau ucapan dari Tuhan. (Nasution, 1978)

Kedua, ilmu kalam adalah sebuah argumentasi yang dilontarkan seseorang untuk menguatkan argumentasi lainnya. Tidak berhenti sampai di situ saja, masih banyak tokoh lainnya yang menyumbangkan pemikirannya.

Tidak lain adalah Ibnu Khaldun, ia merupakan salah satu filsuf Islam yang juga ikut mengungkapkan pemikirannya tentang ilmu kalam. Menurutnya ilmu kalam adalah sebuah ucapan, pemikiran logis, yang digunakan untuk memberikan pemahaman kepada beberapa orang yang keluar dari jalur Ahli Sunnah.

Setelah mengetahui apa arti ilmu kalam dari perspektif beberapa tokoh, ada satu tokoh yang akan menjadi pembahasan utama. Ia adalah seorang filsuf Islam, yang ikut serta berkontribusi dalam pemikirannya tentang ilmu kalam.

Bernama lengkap Muhammad ibnu Ibrahim ibnu Yahya Al-Qawami Al-Syirozi atau yang biasa dipanggil Mulla Sadra. Lahir pada tahun 979 H/1571 M dan meninggal pada tahun 1050/1640M. Salah satu pemikirannya yang sangat terkenal adalah konsep filsafat transendental yang dikenal dengan nama Al-Hikmah Al-Muta’aliyah.

Sebelumnya, Sadra sering sekali mengandalkan keadaan intelektual yang ia miliki. Namun seiring dengan berjalannya waktu, ia menemukan sebuah cahaya bahwa sebenarnya energi spiritual dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan adalah salah satu cara yang lebih baik daripada hanya sekedar mengembangkan diri.

Selain itu, menurut Sadra kebenaran yang mengarah kepada Tuhan, atau berserah diri dengan rasa ikhlas adalah kunci utama untuk sebuah kebenaran yang abadi. (Azis, 2015). Filsafat transendental yang dibuat oleh Sadra biasa disebut dengan Al-Hikmah Al-Muta’aliyah.

Dalam filsafat transendentalnya pula, Sadra sebenarnya menggabungkan banyak sekali ilmu. Di antaranya adalah filsafat, tasawuf, dan ilmu kalam (teologi islam). Al-Hikmah Al-Muta’aliyah juga memberikan perpaduan antara adanya intuisi yang dimiliki oleh manusia, pemikiran yang rasional, serta wahyu atau syari’at di dalamnya. (Abidin, 2004)

Sebenarnya, pemikiran yang diberikan Sadra tetap mengarah kepada ayat Al-Qur’an sebagai penguat dari argumentasi-argumentasi yang dilontarkannya.

Menurut Sadra, hikmah adalah di mana manusia berusaha untuk mengeluarkan hakikat dalam jiwanya sebagai manusia yaitu hawa nafsu, sifat yang tamak, yang selalu mementingkan segala unsur materi dan sebagainya untuk menjadi seseorang yang memiliki kepribadian suci, bersih, dan berusaha mendekatkan diri kepada Tuhannya.

Dengan kata lain, filsafat Sadra adalah salah satu akses untuk menuju kepada Tuhan. Di mana ketika manusia diciptakan, maka Tuhan tidak hanya membuat manusia menjadi sibuk kepada urusannya saja, tapi juga manusia harus mengerti bahwa Tuhan juga harus dikenali. (Dhiauddin, 2013).

Sehingga, jika dikorelasikan antara filsafat Sadra dengan zaman modern seperti sekarangKita diharapkan dapat memaknai perkembangan zaman dengan bijak. Sehingga teknologi yang berkembang menjadi hal yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Inovasi-inovasi yang ada harus berdasarkan dengan akal rasional yang ada, juga tidak melampaui batas agama yang berlaku. Berdasarkan banyaknya perkembangan ilmu yang bisa dianggap sebagai sumber kebenaran. Tetap saja, kebenaran yang paling afdol adalah berserah diri kepada Tuhan dan mensucikan diri ini dari segala hal yang bersifat material, apapun yang berasal dari Tuhan akan kembali ke Tuhan. (Abidin, 2004)

Sadra juga memberikan sedikit wejangan kepada orang di sekitarnya, intelektualitas bisa digunakan untuk menambah keimanan.

Konsep untuk mengenali diri sendiri sebenarnya juga diperlukan dalam masa sekarang, keberadaan dan mengapa kita ada harusnya dipikirkan secara seimbang. Jika kita hanya memikirkan keberadaan kita tentu akan ada banyak sekali tantangan untuk terus menciptakan beberapa karya yang mengarah tentang keberadaan diri kita sendiri.

Namun kenyataannya adalah, dalam dunia digital yang sudah berkembang seperti ini, kita lebih memilih untuk mengembangkan apa yang sebenarnya kita bisa lakukan. Termasuk pengembangan intelektual yang sangat dibutuhkan pada saat ini. Kesadaran yang pada saat ini sedang gencar-gencarnya adalah di mana manusia selalu berusaha memperbarui ilmu pengetahuan.

Tidak jarang mereka menganggap ketika mengikuti agama, itu hanya akan menghambat mereka. Terkadang kita menanggap dengan kembali kepada agama, artinya akan ada sebuah belenggu dalam diri kita untuk terus berkembang lagi. Padahal itu tidak sepenuhnya benar, dengan kita kembali kepada agama, menyadari siapa kita dan mengapa kita ada.

Sebenarnya akan membuat kita tahu bahwa dunia yang penuh dengan elektronik super canggih seperti sekarang tidak mungkin ada, tanpa adanya manusia yang cerdas, tangguh, berintelektual tinggi. Namun juga ada sumber dari ilmu pengetahuan itu sendiri, sumber itulah yang sebaik-baik sumber ilmu pengetahuan. Yaitu Tuhan.