Beberapa bulan yang lalu, saya pernah membaca sebuah tulisan yang dibagikan beberapa orang ke media sosial. Awalnya saya mengira itu tulisan Mba Nana (Najwa Shihab). Namun ketika saya mengusut, eh ternyata itu tulisannya Mas Tere Liye. Tulisan berupa pesan untuk generasi milenial.

Tulisannya begini :

Adik-adik remaja sekalian, jika kalian masih bercita-cita jadi PNS, biar besok2 hidup terjamin sampai tua, maka itu cita-cita generasi lama sekali, orang tua kita dulu, SMA angkatan 70-80 mungkin masih begitu. Jika kalian bercita-cita jadi karyawan BUMN, biar gaji bagus, pensiun ada, besar pula, maka itu juga generasi lama, paman-paman, tante-tante kita dulu, SMA angkatan 90-an, itu cita-citanya. Jika kalian bercita-cita jadi karyawan multi nasional company, perusahaan swasta besar, biar bisa tugas di LN, tunjangan dollar, itu juga cita-cita kakak-kakak kita dulu, yang SMA angkatan 2000-an.

Kalian adalah generasi berbeda. Kalian adalah yang SMP, SMA, atau kuliah di tahun 2010 ke atas. Seharusnya kalian tidak bercita-cita seperti itu lagi. Kalian adalah warga negara dunia, tersambung dengan seluruh sudut dunia. Apa cita-cita kalian? Jadilah pekerja kreatif, wiraswasta, profesi pekerjaan bebas, dan pekerjaan2 yang menakjubkan lainnya. Kalian menonton film seperti Iron Man, Avengers, Minion, maka besok2 giliran film kalian yang ditonton orang. Kalian jadi konsumen Burger King, KFC, dll, maka besok2 giliran orang lain yang jadi konsumen franchise milik kalian. Hari ini kalian memakai baju, pakaian buatan orang lain, besok2 giliran orang lain yg pakai baju kalian. Hari ini kalian berobat ke rumah sakit, besok2 giliran orang yang berobat di klinik dengan sistem dan cara berbeda milik kalian.

Itulah dunia kalian. Masa depan. Jangan mau hanya jadi pengikut, follower, tapi berdiri di depan, giliran orang lain yang mengikuti dan mendengarkan trend yg kita buat. Maka saat itu tiba, kita bisa benar2 bilang: Merdeka!!

Ayolah, lupakan sejenak bekerja jadi PNS, karyawan BUMN, atau karyawan swasta, masuk pagi, pulang malam. 30-40 tahun bekerja, pensiun. Bukan berarti itu tidak oke. Apalagi merendahkan pekerjaan ini. Bukan. Tentu saja pekerjaan2 ini oke, terhormat. Tapi itu sudah terlalu banyak orang yang melakukannya, terlalu banyak orang yang bercita2 seperti itu, masa’ kita akan ikut jalan serupa, saatnya kalian memulai jalan berbeda. Jangan takut dengan kegagalan, jangan takut dengan tidak punya pekerjaan, menganggur, dll. Sepanjang kita memang sungguh2, tahan banting, kita bisa menjadi yang terbaik di bidang yg kita geluti.

Setinggi apapun jabatan kalian, jika masih PNS, karyawan BUMN, karyawan swasta, maka sejatinya tetap saja suruhan orang lain. Punya atasan, dan hidup kita laksana siklus dari bulan ke bulan, gajian ke gajian. Asyik duduk di belakang meja, lamat-lamat menatap media sosial, komen ini, komen itu, dan sebagainya, dan sebagainya. Tapi tetap saja begitu-begitu saja hidup kita. Tidak, adik-adik sekalian, hidup kalian bisa lebih berwarna. Kalian bisa jadi apa saja. Jangan buat sempit cita-cita, mimpi-mimpi kalian. Generasi kalian seharusnya tidak terikat waktu, tidak korupsi waktu, sebaliknya, kalian bebas dan fleksibel menentukan jam kerja sendiri.

Kalau diringkas tulisan itu, kira-kira begini pesannya Mas tere: “kepada pemuda/pemudi, ASN bukanlah jaminan satu-satunya untuk masa depan. Cita-cita untuk menjadi ASN itu sudah usang. Jadilah pekerja kreatif”.

Syahdan, di media sosial semisal FB, tulisan itu, di share oleh mereka yang tidak mencalonkan diri menjadi  ASN.

Tulisan Mas Tere itu, menurut saya merupakan sebuah pesan yang baik untuk generasi milenial. Dan sepertinya, apa yang dikatakan Mas Tere sedikit terbukti. Coba misalnya kita ketik di mesin pencarian Google tentang kisah-kisah sukses generasi milenial, Kita akan menemukan nama-nama generasi milenial yang sukses berprofesi sebagai pekerja kreatif.

***

Barangkali betul apa yg dikatakan Mas Tere. Perkembangan zaman dan juga kemajuan teknologi akhir-akhir ini, membuat  cita-cita  generasi milenial, tak sama dengan cita-cita orang tua terdahulu.

Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan saya adalah apa benar bercita-cita sebagai ASN merupakan cita-cita yang sudah Usang? 

Sayangnya kalau kita menilik tentang fenomena pemuda/pemudi kita kiwari, sepertinya ASN masih menjadi  dambaan. Sehingga pesan baik yang disampaikan Mas Tere, tak berjalan lurus sesuai dengan kenyataannya.

Pasalnya, bukan hanya dambaan/cita-cita, tetapi menjadi ASN sepertinya masih merupakan pilihan generasi milenial. Coba saja kita baca di surat kabar atau media elektronik, kita akan dibuat tercengang. Data pendaftar CPNS  dari tahun ke tahun, selalu mengalami kenaikan dan kebanyakan yang mendaftar adalah usia-usia muda. 

Saya ambil contoh data di Tahun 2017 saja, jumlah pelamar CPNS mencapai 2.433.656. Di Tahun 2018, jumlah pelamar di situsweb sscn.bkn.go.id tercatat sebanyak 4.436.694. Sedangkan Tahun 2019 terjadi peningkatan jumlah pelamar dari sekitar 4 juta menjadi 5 juta. Belum lagi data di tahun 2020 dan 2021 sekarang ini, coba pembaca cek sendiri. Mencengangkan bukan? 

Berangkat  dari data itu, saya bisa menyimpulkan bahwa ASN masih menjadi cita-cita atau menjadi dambaan generasi milenial.

Zaman terus berubah, teknologi terus berkembang inovasi/kreatifitas terus di tingkatkan. Akan tetapi, ASN sepertinya masih tetap manjadi prioritas.

Bukannya pesimis, tetapi kalau kita mau jujur, kebanyakan dari kita lebih menyukai pekerjaan-pekerjaan yang mudah, yang menjamin masa depan di hari tua (Seperti Gaji pensiun). Walaupun tidak mudah juga sih, pekerjaan ASN.

Sehingga tidak semua dari kita mau menjadi pekerja swasta, atau pekerja-pekerja kreatif lainnya.

Barangkali ada dari generasi milenial yang berkeinginan menjadi pekerja swasta. Namun karena beban moril, ia mengikuti keinginan orang tuanya untuk menjadi ASN.  Sebab, masih ada orang tua yang  beranggapan bahwa ASN adalah pekerjaan terbaik yang menjamin masa depan, hingga pada masa tua anaknya. 

Mungkin dengan itu, tak heran kalau setiap tahun, kita melihat terjadi kenaikan jumlah pendaftar CPNS

Kendati kita tau bersama bahwa banyak pekerjaan lainnya  bisa menjamin masa depan. Sepertinya, masih ada juga dari kita yang menimbang-nimbang untuk terjun sebagai pekerjaan swasta. Masih berhitung tentang, enak atau tidaknya, untung atau ruginya menjadi pekerja kreatif.