Penikmat Kopi Senja
2 minggu lalu · 332 view · 3 menit baca · Politik 82251_46965.jpg
republika

Yusril Tantang Habib Rizieq

Yusril Ihza Mahendra menanggapi seruan Imam Besar FPI, Habib Rizieq Shihab. Yusril menantang pimpinan FPI tersebut agar berani mendirikan partai. 

Yusril juga meminta caleg PBB berlatar belakang FPI agar mundur. Sebelumnya Habib Rizieq Shihab, melalui video yang beredar, memang menyatakan agar caleg PBB dari FPI untuk mundur. 

Perlawanan Yusril ini merupakan babak baru dalam perpolitikan nasional sejak PBB secara resmi mendukung Jokowi-Ma'ruf. Sekaligus kepastian kegagalan partai Islam dalam pileg dan pilpres 2019.

Terpolarisasinya partai Islam dalam pilpres maupun pemilu bukanlah cerita baru. Sejak Orde Lama, hal itu sudah terjadi dan kini hal yang sama terjadi.

Yusril sebagai representatif cendekiawan muslim dan Habib Rizieq sebagai sosok ulama, kini mereka saling berhadapan. Tantangan Yusril kepada Habib Rizieq sesuatu yang wajar dalam demokrasi. Apalagi Habib Rizieq sudah memiliki ormas yang bersifat nasional.

Namun Habib Rizieq bukanlah ulama yang mudah tergoda dengan tantangan itu. Publik malah menilai Yusril sedang galau dan panik sehingga menantang HRS.

Yusril yang tidak dipilih dalam pilgub DKI Jakarta, tidak pula diajak bergabung secara serius oleh Prabowo telah memutuskan melawan Prabowo dan siapa pun pendukungnya, tak terkecuali Habib Rizieq Shihab.

Menurut pandangan saya, Habib Rizieq tidak akan mendirikan partai karena akan mereduksi peran strategis yang dilakukannya selama ini. Berada di luar sistem politik kepartaian merupakan posisi yang cocok dimainkan Habib Rizieq Shihab. Sama halnya ketika UAS menolak pinangan ulama sebagai cawapres.

Meski demikian, tantangan Yusril perlu direspons Habib Rizieq. Dan akan menarik bila Habib Rizieq berani mendirikan partai politik dan menjadi capres 2024.

Perlawanan Yusril terhadap Habib Rizieq sekaligus membuktikan bahwa umat Islam semakin matang berdemokrasi. Tidak ada pengkultusan individual, Yusril lakukan tanpa takut sedikitpun.

Yusril juga ingin menegaskan bahwa dirinya siap bertarung dengan siapa pun dalam politik. Dan dia juga siap berteman dengan siapa pun demi kepentingan politik.

Sebagai kritikus yang kerap membuat panas pemerintah, Yusril kemudian malah menjadi pendukung Jokowi-Ma'ruf dalam pilpres 2019. Itulah politik, selalu tidak pasti namun asyik.

Yusril memang tidak pernah menjadi oposisi, meski kerap mengkritisi pemerintah. Yusril dekat dengan semua presiden, pernah mendapat posisi di pemerintahan. Sehingga sikapnya kali ini tidaklah mengherankan.

Tantangan Yusril kepada Habib Rizieq adalah usaha mengajak Habib Rizieq Shihab melibatkan diri langsung dalam sistem politik. Ketika berada dalam lingkaran itu, Habib Rizieq Shihab akan merasakan langsung dinamikanya.

Yusril ingin Habib Rizieq Shihab bisa menyatukan partai-partai politik berbasis Islam. Dan itu harus dibuktikan dengan pendirian sebuah partai politik yang dapat mengakomodir semua kepentingan Islam.

Misi mustahil ini yang coba ditawarkan Yusril kepada Habib Rizieq Shihab. Dan menurut pandangan saya, Habib Rizieq Shihab tidak akan terpancing dalam aroma kemarahan Yusril. Habib Rizieq Shihab tidak tertarik menjadi ikon politik umat Islam.

Konflik Yusril dan Habib Rizieq Shihab sangatlah merugikan umat Islam secara politik. Harusnya keduanya lebih mengedepankan kepentingan umat, kepentingan rakyat, dan demokrasi dibandingkan pendapat masing-masing.

Padahal, politik adalah seni tata kelola hidup bersama untuk mencapai kebaikan bersama. Politik bukanlah soal perebutan kekuasaan dengan berbagai cara, seperti banyak dipahami dan dipraktikan sekarang ini.

Islam adalah agama damai, sebuah ajaran yang mengajarkan nilai-nilai luhur, persatuan dan kesatuan. Yusril dan HRS haruslah menyandarkan cara pandang politiknya pada nilai-nilai Islam yang damai, dimulai dengan perdamaian keduanya.

Seruan Habib Rizieq Shihab sebenarnya sebuah tantangan pembuktian bagi Yusril dan tak perlu dijawab dengan tantangan pula. Habib Rizieq Shihab harusnya tak perlu mengeluarkan pernyataan tersebut, toh semua parpol berpeluang melakukan korup.

Harusnya Habib Rizieq Shihab membiarkan kadernya di PBB dan berkompetisi secara sehat. FPI dan PBB sejatinya serupa meski tak sama, mereka sama-sama memperjuangkan kebaikan dengan cara berbeda.

Politik dan Agama memang tidak bisa dipisahkan, keduanya saling terkait sehingga HRS maupun Yusril harus merumuskan kembali tafsiran berpolitik menurut Islam tanpa mereduksi demokrasi.

Sebagai makhluk penafsir, Habib Rizieq Shihab maupun Yusril perlu menafsir politik dan Islam di Indonesia secara historis-logis-kritis. Mempelajari lagi sejarah politik umat Islam dan parpol berbasis Islam yang pernah ada.

Kajian historis-logis-kritis akan menghindari ahistoris, ngawur, emosional, kultus, maupun dominasi kebenaran sepihak. Pernyataan kedua tokoh ini tampak ahistoris sehingga wajib bagi kita mengkritisinya.

Pernyataan jangan mendukung atau memilih parpol pendukung penista agama misalnya. Kesalahan pimpinan parpol tidaklah serta merta menjadikan kader parpol tersebut juga salah karena ada mekanisme pengambilan keputusan yang berbeda disetiap parpol.

Sementara itu, tantangan Yusril kepada Habib Rizieq Shihab jugamenunjukkan ketidaksiapan Yusril menjawab tantangan Habib Rizieq Shihab sehingga memberikan tantangan lainnya kepada pemberi tantangan.

Polemik keduanya semakin tidak historis-logis-kritis. Sebuah tontonan tidak menarik didalam berdemokrasi kita.