“This is your destiny…”

Pagi menjelang siang hari Minggu ini, cuaca cukup gerah.

Saya memacu kendaraan motor agak melebihi batas kecepatan maksimum berkendara dalam jalanan kota yang 40 km/jam menjadi 45 km/jam.

Cuman beda 5 km/jam sebetulnya gak ada pengaruh, tapi cukup membuat saya kaget dan menarik tuas rem mendadak saat melintas satu warung Tegal yang tampak bersih kinclong berwarna dominan hijau dan kuning.

Ciiiiitt...” Begitu rem motor saya berdecit. Sekira 2-5 meteran saya melewati warung Tegal yang dari kejauhan telah tampak jelas bercorak hijau, kuning dan merah itu, yang bertuliskan nama Kharisma Bahari.

Saya memutar kendaraan sedikit sambil waspada dengan pengguna jalan lainnya dari arah berlawanan. Lalu, saya memarkir motor pada posisi aman.

‘Sedia Soto Ayam’ demikian ada tulisan besar-besar tergurat rapi, sebagai ciri khas keberadaan sebuah warung Tegal yang mangkal di pinggir jalan.

Tampak rapi dari depan sebuah warung Tegal yang khas menggurat merk waralaba dalam tatanan warna yang seolah bergerak-gerak dari kejauhan, yakni perpaduan hijau, kuning, merah dan putih.

Saya pun memasuki warung Tegal ini, suasananya nyaman, bersih, kinclong, aneka hidangan tertata rapi dibalik etalase kaca yang menginspirasi teknologi layar sentuh, touchscreen.

Oh iya ada lagu dangdut lawas pertanda pengelolanya adalah generasi tahun 70-an yang bisa mengindikasi kemampuan mengolah masakan yang bakal bercita rasa rumahan, alami, matang dan dewasa.

Saya sebut cita rasa dewasa, karena gak mengandalkan micin.

Sayur Capje, sambel, orek tempe kering dan kerang menjadi pilihan saya kali ini. Sementara, nasi saya minta separuh saja biar nanti pas diabadikan tak terlalu melimpah memenuhi piring khas warung Tegal, yang berdiameter klasik bangsa 20-an senti.

Seporsi menu pilihan berupa nasi dan pilihan aneka lauk hasil menyentuhkan telunjuk di kaca etalase dalam warung Tegal.

Menikmati sepiring menu warung Tegal apabila sedang sendirian, paling sip ya pas menghadap etalase penuh aneka lauk di hadapan.

Sedangkan apabila berdua, bertiga, berempat sama teman, kenalan, kerabat, kolega pun calon rekanan bisnis, sebaiknya memilih meja persegi berbangku duduk panjang.

Entah ya, kenapa menikmati sepiring hidangan warung Tegal yang selalu menggunakan sendok garpu itu mesti beriring rasa lapar dadakan, sehingga menikmatinya pun lebih menggairahkan, telap-telep, tak perlu mengunyah berstandar 30-35 kali sesuapan.

Seolah-olah, sontak punya pikiran lambung dan usus punya gigi geligi yang menyempurnakan kunyahan dari mulut, sehingga cara menikmati sepiring menu warung Tegal pun seringkali dengan cara lhap-lhep, cenderung lekas tandas.

Lumayan pedas sambal warung Tegal pilihan saya kali ini. Sesruput dua sruput es teh manis cuma-cuma yang ternyata tetap serius bercita rasa es teh manis betulan meski gratisan, telah menjadi penawar dahaga sekaligus kepedasan.

Wih, puas saya dalam perjalanan telah dipertemukan dengan warung Tegal waralaba, Minggu pagi ini.

“This is your destiny...” Lamat-lamat saya mendengar suara serak bersanding hembusan napas berat dari dalam topeng wajah si Darth Vader, sang sosok antagonis karena lebih memilih dark side pada The Force, dalam serial opera saga luar angkasa Star Wars.

Pas mau pamit dan bayar tagihan pesanan, eh tiba-tiba kedua mata saya bertumpu pada gundukan tempe goreng tepung yang tampak renyah.

Saya pun minta sepotong, lalu duduk lagi sambil menggigit tempe goreng garing itu sampai bunyi keriyukannya seolah menembus jagat raya.

“Keriyuuukk... Yuk, yuk, yuk, yuk, yuukk..” Demikian suara echo normal yang menggema.

“Yuk Keri yuk.... yuk, yuk, yuk, yuuk, yuukk...” Kalo ini suara echonya lagi rusak, ya Saudara dan Saudari, pembaca yang baik hati.

Seorang bapak-bapak berlogat Tegal yang menjadi pengelola warung ini, dengan sangat ramah bahkan berkenan memberi saya menuang air teh tawar dalam gelas minuman saya yang telah kosong tinggal beberapa potongan es batu saja.

Ya, saya minta teh tawar saja. Lha mau minta es teh manis kok kesannya saya bodong, nggak punya udel.

Patut diakui bahwa kekayaan khazanah hasil olahan masakan khas Indonesia yang begitu melimpah, telah turut memberi andil dalam menumbuhkan peluang usah, yang memicu perputaran ekonomi.

Pemenuhan kebutuhan akan usaha bidang olahan masakan pun jelas. Setiap orang butuh makan yang diubah menjadi energi, guna menjalani kegiatan sehari-hari.

Juga, keterbatasan waktu yang seolah tak cukup selama 24 jam sehari, membuat banyak orang mengandalkan olahan masakan yang dibutuhkan dari orang lain sebagai penyedia, ketimbang memasak sendiri.

Oleh karenanya, aneka lauk hasil masakan warung Tegal, yang sering kali tampak menggunung begitu menggugah selera siapapun yang memandangnya dari luar, adalah satu alternatif pilihan.

Apalagi jika warung Tegal itu punya komitmen untuk siap siaga selama waktu yang bagi banyak orang seolah kurang cukup untuk putaran sehari semalam, yakni; 24 jam

Mari meWartegkan Indonesia.