“Hom pimpah alai hom gambreng, neng Ijah pake baju rombeng”. Masih ingatkah dengan kalimat ini? Kalimat yang dahulu sangat akrab di telinga anak-anak tahun 90 an hingga awal abad 21. Kalimat yang acap kali digunakan ketika akan memulai suatu permainan atau menentukan bagian dari permainan tradisional anak.

Disebut sebagai anak-anak yang lahir dari generasi Z dan Alpha, generasi ini begitu familiar dengan teknologi, bahkan sudah terpapar teknologi sejak mereka dilahirkan. Di era globalisasi seperti saat ini, banyak permainan tradisional yang hampir punah. 

Padahal permainan tradisional mempunyai segudang manfaaat seperti melatih ketangkasan, kreativitas, kerjasama, hingga merekatkan interaksi sosial. Namun nyatanya, Gadget dan permainan elektronik lebih dikenal oleh anak-anak zaman sekarang. Lalu, akankah permainan tradisional bisa bertahan melawan derasnya arus digital?

Menurut Johan Huizinga dalam bukunya Homo Ludens (1938), permainan tradisional adalah puncak dari segala hasil kebudayaan. Permainan tradisional adalah salah satu bagian dari ragam kebudayaan yang tumbuh di Indonesia. Sebelum gempuran perkembangan teknologi muncul, aneka permainan tradisional sempat mewarnai kehidupan anak-anak Indonesia.

Permainan tradisional itu sendiri muncul turun-temurun dari generasi ke generasi yang sarat akan filosofi dan banyak sekali mengandung nilai-nilai luhur yang terkandung dalam permainan tradisional. Contoh dari permainan tradisional ialah congklak, egrang, bekel, gobak sodor, gundu, boy boy-an, petak umpet, gasing kayu dan lain sebagainya.

Permainan tradisional kini telah dianggap asing oleh sebagian banyak orang. Selain pengalaman, latar belakang seseorang saat dibesarkan, asal daerah, kawasan perkotaan, hilangnya lahan bermain juga menentukan meleknya seseorang terhadap permainan tradisional. 

Indonesia adalah salah satu negara yang menyimpan kekayaan permainan tradisional, hampir setiap daerah memilikinya. Sayangnya, kini hanya sedikit permainan dan alat tradisonal yang masih diingat oleh sebagian orang seperti petak umpet, egrang, dan congklak.

Berkaca terhadap ancaman kepunahan permainan tradisional, kini banyak komunitas yang telah menggalakkan edukasi dan mengenalkan berbagai macam permainan tradisional pada anak-anak. Berdasarkan data Komunitas Hong, sebuah komunitas pelestari permainan tradisional di Indonesia yang berada di Ciburial, Cimenyan, Bandung, Jawa Barat. 

Diperkirakan ada 1.000 lebih permainan tradisional dari Sabang sampai Merauke, tapi yang berhasil tercatat lebih sedikit. Dari jumlah itu, hanya 20 persen yang masih eksis dan tetap dimainkan oleh publik terutama di pedesaan.

“Jumlah yang sudah kami kumpulkan sudah ada 890 jenis,” kata pendiri Komunitas Hong, M. Zaini Alif. Munculnya berbagai komunitas yang ingin menghidupkan permainan tradisional bertujuan agar permainan tradisional tidak tergerus oleh perubahan zaman juga senantiasa terjaga kelestariannya. 

Tidak hanya bagi anak-anak, tujuan berdirinya berbagai komunitas ini adalah untuk menyadarkan orangtua betapa bahaya dampak yang ditimbulkan dari anak yang kecanduan gadget.

Pengenalan kembali akan permainan tradisional pun sangat membutuhkan peran penting dari orangtua. Ini berarti, pemahaman dan kesadaran terhadap pentingnya permainan warisan nenek moyang ini masih perlu ditingkatkan. Padahal umumnya permainan tradisional jarang membutuhkan peralatan khusus dan terkesan mudah untuk ditemukan atau dibuat.

Upaya-upaya lain yang dilakukan untuk melestarikan permainan tradisional adalah mengadakan festival permainan tradisional anak atau melalui lomba 17 agustusan. Tujuan diadakannya festival permainan tradisional anak ini merupakan bentuk pengenalan budaya lokal sekaligus memenuhi hak anak untuk bermain dan memanfaatkan waktu luang dengan kegiatan yang positif dan kreatif. 

Biasanya anak akan lebih antusias mengikuti perlombaan atau festival karena terdapat lawan main yang nyata serta suporter yang turut memeriahkan acara. Tak hanya melalui lomba 17 agustusan, pekan budaya juga menjadi salah satu upaya untuk mengenalkan dan melestarikan permainan tradisional.

Mahasiswa Sastra Daerah untuk Sastra Jawa Unversitas Indonesia pernah menggelar Pekan Budaya Jawa dengan tema “Nguri-uri Dolanan” yang dilaksanakan pada 28—30 Oktober 2015 lalu di sekitar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI. 

Ada beberapa agenda yang diselenggarakan, yaitu Lomba Permainan Tradisional. Menurut Ketua Pelaksana Pekan Budaya Jawa, Ashar Ardianto, pada Oktober 2015 lalu, kegiatan tersebut mengusung tema tentang eksistensi permainan tradisional anak, karena adanya keresahan mahasiswa terhadap permainan tradisional yang kini sudah mulai luntur dan jarang ditemui tersebut.

Terlepas dari banyak hal yang telah disebutkan diatas, alasan mengapa permainan tradisional harus tetap dipertahankan dari zaman ke zaman adalah karena generasi anak-anak zaman sekarang cenderung individualis dan sibuk bermain dengan gadget mereka, sehingga mereka lupa bahwa mereka perlu bersosialisasi dengan kawan-kawannya serta lingkungan di sekitarnya. 

Maka dari itu, perlu adanya sosialisasi mengenai permainan tradisional anak karena melalui permainan tersebut, anak dapat belajar untuk menghargai dan berkomunikasi lebih baik dengan orang lain.

Selain itu, permainan tradisional adalah aset bangsa. Permainan tradisional merupakan bukti dari kekayaan budaya kita sebagai bangsa. Tentunya, permainan ini adalah warisan dari leluhur jati diri bangsa ini. 

Apabila permainan tradisional kelak menjadi barang yang asing untuk kita dan anak cucu kita maka dapat dipastikan kebudayaan Indonesia telah bergeser kepada kebudayaan bangsa lain dan anak cucu kita tidak akan pernah merasakan kekayaan warisan budaya leluhur.