Aplikasi YouTube pada saat ini menjadi salah satu media untuk mencari penghasilan. Dengan membuat konten berupa video dan ditonton banyak orang, hal tersebut bisa menjadi penghasil uang. 

Namun ada beberapa konten di Youtube yang dianggap tidak bermanfaat dan destruktif (merusak), biasanya disebut dengan konten sampah. Contohnya seperti konten video yang berisi pamer kekayaan dan prank.

Mayoritas orang sangat membenci para pembuat konten sampah yang ada di YouTube. Apabila ada suatu konten sampah di YouTube, orang-orang pasti menyalahkan para pembuat kontennya. Tetapi menurut saya belum tentu para pembuat konten tersebut yang salah. Karena munculnya konten-konten sampah bukan sepenuhnya salah si pembuat konten sampah itu.

Memangnya konten-konten sampah itu dibuat hanya sekadar iseng-iseng saja tanpa alasan? Lalu kenapa konten-konten sampah tetap ada sampai saat ini? Bahkan bisa sampai viral di dunia media sosial. Apakah hal tersebut hanya sebuah kebetulan dan keberuntungan si pembuat konten?

Jawabannya tidak lain adalah masyarakat itu sendiri. Seperti yang kita ketahui, tujuan dari membuat konten adalah untuk menarik banyak penonton. Apabila banyak yang menonton, maka konten tersebut dapat menghasilkan uang. Itulah tujuan yang paling utama dan mayoritas dari membuat koten di YouTube.

Untuk membuat suatu konten yang diminati dan ditonton banyak orang, maka konten tersebut harus sesuai dengan selera dan kesukaan masyarakat. Jadi masyarakatlah yang menjadi patokan dalam membuat suatu konten. Baik buruknya isi suatu konten tergantung pada selera dan tontonan kesukaan masyarakat.

Apabila masyarakat suka tontonan yang bersifat edukatif (mendidik), maka para pembuat konten yang biasa disebut dengan istilah YouTuber tersebut, akan membuat konten yang bersifat edukatif. Para pembuat konten (YouTuber) sebenarnya hanya mengikuti selera dan tontonan kesukaan masyarakat.

Jadi alasan konten-konten sampah muncul dan tetap ada sampai saat ini adalah, karena tontonan seperti itu yang disukai mayoritas masyarakat. Termasuk di negara Indonesia yang tercinta dan tersayang ini.

Banyak konten YouTube di Indonesia yang tidak bersifat edukatif (mendidik). Contohnya seperti konten prank, pamer kekayaan, drama buat-buatan, gosip, buka-bukaan aib, dan lainnya. Konten-konten seperti itu sangat mudah viral di negara Indonesia yang tercinta dan tersayang ini, daripada konten-konten yang bersifat edukatif (mendidik).

Namun jika dilihat, konten-konten yang bersifat edukatif di Indonesia jumlahnya tidak kalah banyak dengan konten-konten sampah. Tetapi konten yang bersifat edukatif selalu kalah dengan konten sampah dalam hal kuantitas (jumlah) penonton. Hal tersebut menandakan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia lebih menyukai konten sampah daripada konten yang bersifat edukatif.

Jadi konten-konten sampah muncul dan tetap ada sampai sekarang, karena mayoritas masyarakat menyukai tontonan seperti itu. Saya juga yakin, seandainya YouTube hanya menampilkan konten-konten yang bersifat edukatif saja, niscaya YouTube tidak akan terlalu diminati oleh masyarakat luas seperti saat ini. Karena untuk mayoritas orang, Youtube digunakan sebagai media hiburan berupa suatu tontonan. Bukan dijadikan sebagai media belajar.

Maka percuma menyalahkan dan mencaci maki para pembuat konten sampah. Karena mereka bukan penyebab utama munculnya konten-koten sampah. Mereka hanya membuat konten untuk mencari penghasilan, berdasarkan selera dan tontonan kesukaan masyarakat luas.

Seandainya masyarakat luas menyukai tontonan yang bersifat edukatif, saya yakin para pembuat konten (YouTuber) tersebut akan membuat konten yang bersifat edukatif (mendidik) juga. Sebab masyarakatlah yang menjadi pedoman dan patokan mereka dalam membuat suatu konten.

Namun masalahnya di negara Indonesia yang tercinta dan tersayang ini. Mayoritas masyarakatnya lebih menyukai tontonan yang bersifat santuy, menghibur dan bisa dibilang konyol. Daripada konten-konten yang bersifat edukatif (mendidik), contonhya seperti video-video pembelajaran. Konten-konten bersifat edukatif masih minim peminat di negara Indonesia yang tercinta dan tersayang ini.

Dari hal-hal tersebut, maka bisa disimpulkan kalau YouTuber adalah wujud dari selera tontonan masyarakat. Para pembuat konten (YouTuber) prinsipnya sama seperti para pedagang. Mereka memproduksi suatu konten berupa video untuk ditonton masyarakat luas, agar bisa mendapatkan uang.

Jadi untuk kalian para netizen yang membenci konten-konten sampah, dan ingin memusnahkannya dari muka bumi ini. Maka yang harus kalian lakukan adalah merubah selera tontonan masyarakat luas, ke arah konten-konten yang bersifat edukatif (mendidik).

Percuma kalau hanya menghujat dan mencaci maki para pembuat konten-konten sampah. Karena hal tersebut tidak akan membuat konten-konten sampah musnah dari muka bumi ini. Ibaratnya konten-konten sampah adalah barang dagangan, dan penonton adalah pembelinya.

Selama masih ada orang yang menyukai dan membeli suatu barang dagangan, maka barang dagangan tersebut akan terus diproduksi dan akan tetap ada. Maka jangan selalu menyalahkan para pembuat konten-konten sampah. Karena mereka sebenarnya hanya menuruti permintaan pasar.