Pernah nggak sih kalian merasa tidak akan mampu menghadapi suatu masalah? Ingin menyerah saja karena tidak yakin mampu melewati ini semua? Namun pada akhirnya, kamu sampai di titik ini, fase dimana kamu berhasil melewati itu semua. 

Setiap manusia pasti memiliki masalahnya masing-masing.  Mulai dari masalah kecil yang dihadapi dengan tawa atau masalah besar yang dihadapi dengan tangis air mata. Berulang kali pun saya ingin menyerah pada keadaan. Namun entahlah, kenapa saya masih ada di sini dengan raga yang baik-baik saja. 

Tahun 2020 merupakan titik terendah dalam hidup saya. Cobaan datang silih berganti tanpa memberi jeda untuk bernafas sejenak. Berharap esok akan menjadi lebih baik daripada hari ini. Namun kemudian, saya dipatahkan lagi oleh harapan-harapan saya sendiri.

Saya bertanya-tanya. Mengapa bahagia tidak pernah berpihak kepada saya? Seolah-olah hidupku hanya dipenuhi oleh kesedihan yang tak berujung. Saya pun mulai membandingkan diri ini dengan orang lain yang seratus kali lipat lebih bahagia daripada saya dan perlahan perasaan iri itu muncul. 

Sebuah pertanyaan timbul di benakku. Mengapa hidup ini tidak adil? Mengapa bahagia hanya mendatangi mereka tapi tidak dengan saya? 

Kepribadian saya pun mulai berubah. Yang semula ceria dan banyak tawa, menjadi gadis pendiam yang lebih banyak menghabiskan diri di kamar. Sekadar mencoret-coret buku untuk meluapkan emosi atau menulis apa yang aku lakukan hari ini. Atau terkadang pula, aku menulis cerita untuk mengeluarkan sampah yang memenuhi kepalaku.

Saya mulai menarik diri dari pergaulan. Berulang kali menolak ajakan teman untuk bertemu. Bahkan sekadar membalas chat mereka pun saya ogah-ogahan. Bukan karena saya membenci mereka, namun karena saya malas berpura-pura bahagia padahal nyatanya tidak. 

Menunjukkan pada dunia bahwa saya tidak baik-baik saja pun tidak ada gunanya. Bukankah dunia akan terus berputar tanpa peduli jika kamu sedang hancur?

APAKAH LEBIH BAIK MENYERAH?

Semua manusia pasti punya titik lelah masing-masing. Begitu pula dengan saya. Ketika saya sudah tidak mampu lagi untuk memikul beban berat itu sendiri, saya sering kali menangis. Ingin sekali berteriak pada dunia bahwa saya tidak mampu lagi untuk menghadapi semua ini. 

Namun yang bisa saya lakukan hanyalah terisak tanpa suara sembari menepuk-nepuk dada untuk menghilangkan sesak yang menggangu. Terkadang, di waktu yang sensitif, saya mulai menyakiti tubuh saya sendiri. Menjambak rambut atau mengepalkan tangan kuat-kuat agar kuku jari yang tajam itu melukai telapak tangan saya.  

Terbersit rasa untuk menyerah. Namun apakah menyerah adalah jalan terbaik yang diberi Tuhan untuk saya? Apakah perjuangan saya untuk menghadapi masalah itu harus dibalas dengan keputusasaan? 

LANTAS BAGAIMANA BISA KAMU MELEWATINYA?

Entahlah, saya tidak ingat dengan detail cerita itu berjalan. Bukankah lebih baik menghapus kenangan buruk dan mengingatnya kembali sebagai pembelajaran? 

Yang saya ingat adalah saya menyerah namun tidak ingin melakukan hal-hal konyol yang akan saya sesali nantinya. Sebisa mungkin saya mencari alasan untuk bertahan, bahkan untuk hal sekecil apapun. Hal-hal tersebut saya tulis di notes ponsel sebagai pengingat bahwa masih ada seribu satu alasan untuk saya hidup. 

"aku bertahan untuk mie rebus dengan sawi yang dimakan saat cuaca dingin dan hujan turun. Demi film dan series yang belum sempat aku tonton. Demi musik yang tersusun rapi di playlist-ku, dan demi tempat-tempat yang belum pernah aku kunjungi". 

Terlihat sepele bukan? Namun dengan alasan-alasan tersebut akhirnya saya dapat berada di titik ini. Saya mampu melewati masa-masa kelam itu dengan mengandalkan alasan yang menurut orang lain sepele.

Selain itu, Tuhan memiliki peranan yang besar dalam hidupku. Mungkin benar jika awalnya saya merasa kecewa dengan takdir yang Ia berikan kepadaku. Namun seberapa kecewanya saya, diri ini tidak bisa berpaling dari-Nya.

 Di sepertiga malam, di atas sajadah berwarna merah itu, tangisku pecah. Semua kata yang sudah saya rangkai buyar seketika. Bibir ini sudah tidak mampu berucap, biarlah air mata menjadi perantara terbaik keluh kesahku dengan Tuhan.

Memang benar, Tuhan adalah tempat pulang terbaik. Masalahku memang tidak selesai dalam sekali waktu, namun saya mendapat kekuatan yang luar biasa untuk melewatinya. 

HIKMAH YANG BISA DIAMBIL

Berulang kali saya harus katakan, bahwa tidak pernah terbayangkan saya bisa sampai pada fase ini. Memang sulit menerima keadaan, namun yang selalu kuingat adalah badai pasti berlalu.

Kacamataku mungkin berbeda dengan kacamata-Nya. Seperti kata orang-orang, "Apa yang menurutmu baik, mungkin menurut Allah tidak. Dan apa yang menurutmu buruk, mungkin bagi Allah itu adalah yang terbaik untukmu". 

Kamu mungkin mencari-cari di mana letak baiknya. Mungkin ada maksud lain Tuhan mengizinkanmu untuk mengalami masalah besar ini. Tuhan yakin kamu mampu melewatinya walaupun harus terseok-seok. Tuhan ingin kamu tidak jatuh untuk kedua kalinya. 

Kuatlah selagi 'kuat' adalah satu-satunya pilihan yang dapat dijalani

Akhir kata saya hanya ingin berterima kasih kepada diriku. Terima kasih sudah mau bertahan sejauh ini. Terima kasih telah mau melewati masa-masa yang membuatmu tidak nyaman. Mungkin kamu merasa hidupmu tidak adil, namun bertahan sejauh ini adalah hal yang hebat. 

Di antara jutaan manusia yang ada, Tuhan memilihmu karena yakin kamu mampu melewatinya. Walaupun harus dengan duka dan air mata. Kesedihan dan tangismu itulah bukti nyata perjuanganmu.  

Terima kasih untuk aku satu tahun yang lalu. Berkatmu aku menjadi pribadi yang kuat dan tangguh. Berkatmu pula, aku bisa tersenyum lebar pagi ini. Ternyata benar, you're more than what you think.