Sudah hampir dua tahun ini saya dan keluarga tinggal di York, Inggris. Kota ini letaknya persis di tengah-tengah antara London dan Edinburgh. London di selatan Inggris, Edinburgh di utara Inggris. Kota kecil yang dibangun dari zaman Romawi terdahulu dan merupakan salah satu titik penyebaran Kristen di Inggris.

Melihat York, mengingatkan saya dengan Jogjakarta, tempat saya dulu selama 4 tahun menempuh pendidikan S1, hampir 16 tahun yang lalu. Jogja letaknya di tengah-tengah antara Jakarta dan Surabaya. Merupakan tempat bersejarah dengan kesultanan Jogjakarta, dalam sejarah selalu berperan menjadi penyeimbang dalam situasi politik nasional.

Tahun yang lalu saya sempat menghadiri konferensi di Yaroslavl, Russia. Yaroslaval jaraknya 4 jam dari Moskow. Pada abad ke 17, Yaroslavl sempat menjadi ibukota Russia, dan sempat juga menjadi kota terbesar kedua di Russia. York sendiri sempat menjadi kota terbesar di Inggris saat Romawi pertama kali menyebrang ke Inggris. York juga menjadi saksi War of Roses antara House of York dan House of Lancaster.

Buat saya York, Yogyakarta dan Yaroslavl bukan hanya kesamaan rima kata, kesamaan sejarah dan kesamaan posisi geografis tapi kesamaan yang mengingatkan saya bahwa manusia di mana pun sama. Dan sejarah manusia di tempat yang satu dan tempat yang lain secara prinsip tidaklah berbeda.

Waktu pertama kali datang ke York, tempat yang pertama kali saya cari adalah masjid, dan kini pun seminggu sekali saya berusaha menghadiri salat Jumat secara rutin di satu-satunya masjid di kota ini. York penduduknya sekitar 200.000, sementara penduduk muslimnya sekitar 500 orang, setiap jumatan mungkin sekitar 100 orang yang menghadiri salat jumat.

Meski saat ini kadar keimanan saya naik turun, namun saya berusaha mengajarkan kepada anak saya konsep beragama, khususnya berusaha mengantarkannya mengikuti Arabic School di masjid York setiap hari Minggu, sebagai pengganti mata pelajaran agama Islam yang tidak ia dapatkan di sekolah.

Tidak semua orang tua muslim mengantarkan anaknya ke Madrasah di masjid. Istilah resminya adalah Madrasah, tapi orang di sini lebih sering menyebutnya Arabic School.

Salah satu alasan yang saya gunakan ketika orang bertanya mengapa anak saya pergi ke masjid setiap Minggu adalah belajar bahasa Arab. Identitas beragama mungkin tidak penting, tapi bagi saya pengetahuan teknis mengenai agama sangat penting, terutama mengenai membaca bahasa Arab

Suatu hari pernah datang orang dari Saksi Yehowa ke rumah saya. Anak saya yang berusia 8 tahun terkejut ketika  saya jelaskan bahwa orang dari Saksi Yehowa itu mau mengajak berpindah agama. Anak saya yang berusia 4 tahun bahkan menangis setelah saya jelaskan bahwa mereka mau memaparkan mengenai 'Kristen' kepada saya.

Saya tidak tahu dari mana anak berumur 8 tahun dan anak berumur 4 tahun, yang logika berpikirnya nampak jauh lebih baik dari saya, memandang konsep beragama. Saya tidak pernah mengajarkan mengenai perbedaan beragama, sejauh orang Indonesia umumnya beragama Islam dan orang Inggris umumnya beragama Kristen.

Mungkin bagi anak-anak, beragama merupakan suatu hal yang sakral dan personal. Ketika anak saya melihat ada orang yang datang menjelaskan mengenai suatu agama, maka hal tersebut dianggapnya sebagai sebuah ancaman.

Bagi anak saya yang berusia 8 tahun, beragama merupakan simbol yang membedakannya ketika harus tidak memilih makanan berbahan dasar pork, namun tetap nyaman ketika menyanyikan lagu-lagu gereja setiap momen paskah dan natal di sekolahnya. Kedua anak saya rasanya lebih hafal lagu-lagu gereja daripada lagu anak lainnya.

Anak saya tidak pernah takut bermain violin di gereja bersama teman-teman sekolahnya atau memainkan drama kelahiran Jesus dengan kostum berwarna-warni. Di satu sisi, anak saya nyaman berada di sekolah, namun bukanlah hal yang mudah diterima ketika ada orang yang mengajaknya untuk bergabung pada agama tertentu.

Di kampus, saya punya seorang teman asal Timur Tengah, seorang muslim, bernama nama Muslim, yang sangat anti dengan hal-hal yang berbau Islam. Bahkan mengajaknya salat Jumat pun dia bisa marah. Sementara ada juga teman asal Timur Tengah lainnya yang sangat mendukung hal-hal yang berbau Islam.

Inggris sebagian besar beragama Kristen Anglikan, namun saya melihat bahwa orang Katolik di sini yang jumlahnya hanya 5 juta, lebih sering pergi ke gereja dibandingkan orang Anglikan. Fenomena beragama menurut saya merupakan fenomena yang menarik dan sedikit rumit.

Interpretasi akan kehidupan beragama berbeda antara satu orang dan orang yang lain. Seberbeda pendapat dari seorang anak berusia 8 tahun dan berusia 4 tahun. Seberbeda bagaimana Liverpool menjadi kota Katolik terbesar di Inggris, sementara Guy Fawkes yang seorang Katolik berasal dari York.

Di tengah kebingungan ini saya kembali tersadar, bahwa York, Yogyakarta dan Yaroslavl tidaklah berbeda. Bahwa cara manusia beragama merupakan proses yang sangat personal yang tidak bisa dipaksakan. Ketika manusia meyakini bahwa agama harus ditegakkan dengan kekerasan merupakan alasan personal yang sama kuatnya dengan pendapat bahwa agama hanya dapat ditegakkan dengan toleransi.

Kalau saya tidak paham dengan cara berpikir anak usia 4 tahun dan 8 tahun, apa alasan saya mengatakan bahwa saya paham cara berpikir orang lain?