Yogyakarta, kota yang istimewa karena pemerintahannya masih berbasis kesultanan. Dengan pemerintah kesultanan membawa implikasi pada sosial-budaya masyarakat kota tersebut, yakni dengan unggah-ungguh. Hingga, vokalis band sekaligus seniman, Farid Stevy pernah berkata, “Mata uang Jogja adalah terimakasih”. Artinya masih meninggikan nilai-nilai budaya unggah-ungguh atau sopan-santun daripada dari nilai angka rupiah di mata uang.

Berkaca pada kata Farid Stevy tersebut memang benar. Dilihat dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan bawa Upah Minimum Regional (UMR) Kota Yogyakata tahun 2021 sebesar Rp 2.069.530. Artiya Angka tersebut sangatah kecil jika dibandingkan dengan kota kota besar lainnya. Inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan yang menarik bagi masyarakat dari luar daerah untuk datang ke Yogyakarta.

Hal tersebut didukung oleh pemerintah dan masyarakatnya. Sebab, masyarakatnya memiliki minat dan semangat yang tinggi untuk belajar, kemudian pemerintah Yogyakarta yang memiliki kedudukan penting atas pengendalian institusi, mempermudah untuk terciptanya institusi pendidikan yakni, sebanyak 60 kampus di Yogyakarta. Dari sinilah Kota Yogyakarta disebut sebagai Kota Pelajar. Kita lihat saja adanya mahasiswa/i di Yogyakarta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Tidak hanya disebut sebagai Kota Pelajar saja, namun Kota Wisata juga. Sebab, terdapat berbagai tempat wisata seperti, Gunung Merapi, Tugu Jogja, Malioboro, Alun-Alun Utara dan Selatan, hingga Pantai Gunung Kidul dan lainnya. Dari sini pula yang kemudian menjadi pematik para wisatawan untuk berwisata di Kota Yogyakarta. Dengan begitu, munculah berbagai tepat-tepat penginapan, karena tidak memungkiri wisatawan dari luar kota, beberapa akan singgah untuk beristirahat maupun bersantai dan dampaknya adalah meningkatnya kepadatan wilayah di Yogyakarta.

Kesamaan Yogyakarta-Jakarta

Lalu bagaimana dengan Jakarta? terdapat kesamaan dengan Yogyakarta. Pertama, kita ketahui bahwa Yogyakarta merupakan Kota Pelajar, sedangkan Jakarta sering disebut Kota Metropolitan. Sebab, tidak dipungkiri Kota Jakarta merupakan pusat atau Daerah Khusus Ibukota Indonesia, sedangkan Yogyakarta merupakan Daerah Istimewa. 

Kedua, adanya dibeberapa kemiripan infrastrukturnya. Yogyakarta memiliki destinasi objek wisata yakni Tugu Jogja, sedangkan Jakarta juga memiliki wisata Monas. Kemudian, Bundaran UGM dan Bundaran HI, Serta Taman Pintar dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Itulah yang kemudian menjadi beberapa alasan masyarakat dari luar daerah memiliki ketertarikan untuk mengunjungi kota tersebut, —Yogyakarta dengan Kota Pelajar untuk belajar dan/atau berwisata dengan romantisnya rindu, pulang, angkingan, sedangkan Jakarta dengan Kota Metropolitan untuk mencari pekerjaan dan berkarir dan/atau berwisata. Dengan demikian, memunginkan untuk meningatkan populasi di kota keduannya.  Belum lagi adanya pernikahan dini yang terus meningkat, karena menurut dosen sosiologi UIN Jakarta, Dr. Ida Rosyidah, M.A., yang berpendapat bawa disaat pandemi pernikahan dini mengalami lonjakan.

Sehingga, dari sini juga yang dapat memperburuk kondisi pada daerah kota tersebut, yakni semakin banyaknya penduduk semakin padat pula populasi di daerah tersebut dan celakanya dapat terjadinya kesemrawutan, terkhususnya pada arus lalu lintas. Dilihat dari beberapa jalan di Yogyakarta beberapa mengalami keramaian dan memunginkan untuk terjadi kemacetan. Sedangkan di Jakarta sudah tidak ditanyakan lagi, sudah pasti banyak jalan yang macet. 

Untuk mengatasi keramaian dan kemacetan lalu lintas tersebut, diterapkannya kebjikan publik, ganjil-genap. Memang Jakarta telah lebih dulu mengimplementasikan, namun belum lama ini Pemerintah Kota (Pemkot) dan dishub kota Yogyakarta telah mengimplementasikan kebijakan tersebut.

Dilansir Tribunjogja, kebijakan ganjil-genap di Yogyakarta merupakan bagian Operasi Patuh Progo 2021 yang diterapkan pada 20 September hingga 3 Oktober kemarin. Kebijakan ini dipatuhi oleh masyarakat lokal maupun luar daerah yang memakai jalan di Jalan Malioboro, dan daerah Gembira Loka, dan Tebing Breksi yang menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat, dengan sistim kendaraan bernomor polisi (plat) genap hanya boleh menggunakan jalan tersebut pada tanggal genap, vice versa

Kebijakan ini telah terapkan dan menurut Kepala Bagian (Kabag) Binopsnal Ditlantas Polda DIY, AKBP Jan Benjamin (4/10), penerapan ini dinilai sangat efektif, karena guna untuk mencegah kesemrawutan dan lonjakan adanya peningkatan dari padatnya populasi di beberapa objek wisata di Yogyakarta.

Di sisi lain, kebijakan ini merupakan salah satu upaya dalam memutus penyebaran pandemi akibat virus covid-19 yang tak kunjung usai. Mungkin karena pemerintah daerah yang tidak bisa mengontrol situasi pandemi dengan melalui sosialisasi dengan masarakat, ataupun masyarakat yang cenderung ngeyel dan keras kepala dalam merespon kebijakan pemerintah dan pandemi, sehingga terjadinya peningkatan masayarat yang terpapar virus covid-19.

Apapun itu, adanya indikasi Kota Yogyakarta untuk menuju Jakarta. Garis besarnya adalah pada meningkatnya populasi, sehingga akan berdampak pada kemacetan, seperti Jakarta. Sebab, Pemkot Yogyakarta seolah mendukung untuk melalui upaya-upaya dalam mengatasi kemacetan lalulintas yakni dengan sistim ganjil-genap. Meskipun telah selesai diminggu kemarin, namun kemudian memungkinkan untuk diberlakukan kembali dan untuk menjadi kebijkaan yang tetap, seperti yang telah diimplementasikan kota Jakarta saat ini.