Beberapa hari lalu, untuk kesekian kalinya saya mengunjungi keluarga besar istri saya di Kulonprogo, Yogyakarta. Setelah sekian kali menyaksikan kehidupan masyarakat di sana, saya kemudian merasa harus menuliskan tentang beberapa hal ihwal Yogyakarta dan orang Jawa dari kacamata saya sebagai orang non-Jawa dan sekaligus pelancong yang tinggal untuk beberapa waktu di sana bersama sebuah keluarga besar dimana saya telah menjadi bagian di dalamnya.

Yogyakarta Kota Beradab

Harus secara eksplisit saya katakan bahwa Yogyakarta adalah salah satu kota yang paling beradab di Indonesia. Untuk kesekian kalinya berada di sana, saya merasa sangat aman dari gangguan semacam pencurian, pembunuhan, penganiayaan, persekusi, dan kegiatan bar-bar lainnya yang sering saya saksikan, baik secara langsung maupun lewat layar televisi yang terjadi di sekitar tempat di mana saya tinggal.

Waktu itu saya dan istri bersepeda ontel menuju pantai Trisik yang lokasinya tidak jauh dari rumah Pakde kami. Dalam perjalanan, kami menemukan lahan perkebunan melon yang sangat luas dan telah menghasilkan melon-melon yang sudah siap diambil oleh pemiliknya untuk kemudian dijual ke pasar-pasar tradisional. Yang mengagumkan, melon-melon itu dibiarkan berbuah di atas lahan yang tidak jauh dari jalan umum tanpa ada semacam pembatas atau pagar apa pun.

Saya yang penasaran kemudian bertanya kepada seorang bapak yang kebetulan berada di lahan kala itu tentang apakah sering terjadi pencurian melon. Si bapak dengan santainya menjawab bahwa tidak ada orang berani ambil yang bukan miliknya di sini.

Saya hanya tercengang mendengar jawaban yang kemungkinan berbeda sama sekali bila pertanyaan itu saya tanyakan di daerah saya. Dan memang tidak mungkin di daerah saya, ada perkebunan melon yang luas tanpa penjagaan ketat dari pemilik atau pengelolanya.

Hal berikutnya adalah tentang malam pergantian tahun baru 2018 belum lama ini. Tanggal 31 Desember 2017 menjadi malam pergantian tahun yang secara kultural selalu dibarengi dengan perayaan oleh masyarakat. Sudah barang pasti ada banyak sampah yang biasanya beredar bebas di jalanan.

Bahkan di Puncak, Bogor, misalnya, setiap malam pergantian tahun sering ditemukan sampah kondom bekas pakai di jalan-jalan dan di dalam area perkebunan teh. Atau yang paling umum kita temui adalah sampah makanan dan minuman serta serpihan kertas bekas ledakan petasan yang menjadi atribut utama seremoni tahun baru.

Saya dan istri, tanggal 1 Januari 2018 pagi, pergi berkendara ke Malioboro sekitar pukul 06.00 dari Kulonprogo dan sampai di lokasi (Malioboro) sekitar pukul 07.00. Saya menyaksikan langsung sepanjang jalan yang saya tempuh belasan kilo itu tidak terlihat sampah di jalan selain dedaunan saja yang mungkin jatuh ditiup angin. Yang kami lihat hanyalah jalan raya yang bersih dan rumah-rumah penduduk yang juga rapi.

Bahkan ketika kami berdua jalan-jalan sore dengan sepeda ontel mengelilingi kampong, saya melihat aliran air selokan yang sama bening dengan air minum mineral tanpa ada sampah plastik dan sampah non-organik lainnya. Saya kira ini adalah sebuah peradaban yang tidak mungkin dibangun hanya dalam waktu satu bulan atau dua tahun melalui kampanye “kebersihan sebagian dari iman”.

Tidak habis sampai di situ, cara orang Jawa berkendara juga tidak luput dari kekaguman saya selama menunggangi kuda besi milik Pakde. Saya hampir tidak pernah melihat pengendara yang menerobos lampu merah kecuali beberapa mobil berplat nomor “kota jauh” di luar Yogyakarta.

Beberapa kendaraan berplat nomor “kota jauh” d iluar Yogyakarta itu juga lebih dari satu kali saya saksikan melakukan sebuah akrobat yang sangat membahayakan pengemudi lain, yaitu melempar botol bekas minum melalui jendela mobil mewah mereka dengan hati dan adab mereka yang terlampau miskin.

Bahkan saat itu, di antara kendaraan berplat nomor Yogyakarta, hanya motor yang saya dan istri naiki saja yang berada agak ke kanan melewati garis pembatas jalan ketika berhenti untuk mengantri di lampu merah. Mereka berhenti rapi dan terdidik dengan cara berada di belakang zebra cross yang di daerah saya sering digunakan oleh pengendara roda dua untuk bersiap-siap menunggu lampu kuning untuk kemudian mereka tancap gas dengan sangat ugal-ugalan mirip balapan liar orang-orang bar-bar.

Kejujuran yang Menjadi Kemewahan Moral Masyarakat Jawa

Pernah ketika dulu ke Yogyakarta mengikuti konferensi internasional, saya dan kedua kawan yang keluar dari stasiun Lempuyangan, kebingungan mencari sebuah hotel tempat berlangsungnya konferensi ilmiah. Maklum saat itu belum ada aplikasi ojek online sebagaimana menjamurnya hari ini.

Beberapa kawanan ojek konvensional menghampiri kami dan langsung menanyakan tujuan kami mau ke mana. Percakapan tidak berlangsung lama antara kami dan ketiga tukang ojek yang sudah cukup tua itu. Akhirnya mereka menawarkan jasa “kalau lokasinya tidak ketemu, maka ongkosnya tidak usah dibayar”.

Bagi saya, itu sebuah deal-dealan yang sangat serius. Akhirnya, dengan motor tua yang mungkin sebaya dengan usia si bapak ojek, kami melakukan pencarian hotel. Gang demi gang kami lewati namun hotel belum juga ditemukan. 

Tampaknya, beberapa bapak ojek itupun kelelahan dan seperti memberi isyarat tersirat untuk mengizinkan kami mencari pertolongan lain dan sesuai dengan kesepakatan, mereka rela tidak dibayar. Kami sadar kami bukanlah nabi atau malaikat, namun menyetujui perjanjian itu adalah kejahatan.

Maka kami meminta para ojek untuk mencarikan kami penginapan terdekat saja saat itu dan kami mencari sendiri lokasi konferensi esok harinya. Kami lebihkan beberapa rupiah karena keringat para ojek adalah idealisme yang mahal di Indonesia hari ini. Sungguh, kejujuran tidak bisa disejajarkan dengan segala sumpah serapah dan janji para oknum pejabat negeri ini.

Kembali lagi pada cerita saya dan istri, ternyata pengalaman tentang kejujuran kembali terulang tempo hari ketika kami mengunjungi Bukit Rhema atau yang terkenal dengan sebutan Gereja Ayam yang mendadak hits setelah dijadikan salah satu lokasi syuting film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) 2.

Sebagai seorang fanatik AADC 2, saya dan istri sampai membeli jas hujan harga sepuluh ribuan hanya untuk bisa naik ke Gereja Ayam yang rutenya lumayan curam. Saat itu hujan besar dan istri saya tetap memaksa untuk ke sana. Sayang katanya sudah jauh-jauh ke Yogyakarta kalau tidak terlaksana. 

Dengan mengendarai Jeep tua yang membuat was-was selama menanjak ke lokasi dengan rute yang sangat menantang, akhirnya kami sampai dengan hujan yang telah berhenti. Demi menjaga performa ketika foto, maka wajib hukumnya kami lepas jas hujan dan kami taruh di bawah pohon di luar gedung Gereja Ayam tersebut.

Dengan antrian ke-20-an untuk berfoto di menara tertinggi (mahkota kepala ayamnya), kami juga mendapat antrian panjang untuk menukar tiket masuk dengan dua paket snack tradisional yaitu singkong goreng kriyuk.

Setelah sekitar hampir dua jam berfoto di lokasi, kami memutuskan pulang. Istri yang kemudian ingat dengan jas hujan yang ditaruh di bawah pohon, mengingatkan saya untuk segera melihat apakah jas hujan itu masih ada atau tidak. Nyatanya, bahkan posisi jas hujan sebagaimana kami menaruhnya tidak berubah sama sekali. Ini bukan tentang harga sebuah benda, namun lebih kepada keluhuran jiwa.

Sungguh kenikmatan adab yang luar biasa telah memanjakan batin. Mengingat saya pernah parkir motor di salah satu tempat umum dekat rumah, bahkan uang koin lima ratusan yang saya taruh di dashboard motor saja hilang tanpa jejak. Sungguh kontradiksi yang teramat jelas dan menyakitkan.

Saya merasa sangat beruntung telah mengalami kejadian-kejadian tersebut yang kemudian mengajak saya untuk melakukan sebuah refleksi kontemplatif bahwa dalam bangsa ini, masih terdapat kelompok masyarakat dominan yang benar-benar mampu mencerminkan karakter Indonesia dengan segala keluhuran adabnya.

Skeptisme atas peradaban luhur Indonesia yang sering muncul dalam benak saya akhirnya bisa terjawab kuat dengan moral dan etika masyarakat Jawa yang begitu luhur dan bijaksana dalam menjalankan kehidupan dengan nilai-nilai kemanusiaan autentiknya.