2 bulan lalu · 87 view · 2 min baca · Puisi 50162_50565.jpg
Pixabay

Yang Tumbuh di Bulan Maret

Dewi I

Matamu lumpuhkan
Bulan pindah dalam tatapan
Lalu aku kasmaran.

Dewi II

Kau hembuskan nafas cinta dalam sabda luka
Lalu membiarkan aku sendiri mencari cahaya.

Dewi III

Kau dengar sabda rindu,
namun kau memuja luka-luka.
Sadarlah! cinta adalah pedang
yang membasahimu dengan darah.


Kayang

Kau menulis lukamu,
hujani gersang maut
dalam kabut.


Mimpi

Kau menepi,
Mengecup rindu,
Membunuhku dikeabadian.


Hening

Masa lalu melempar bara
kesenyapan di ujung resah.
Lalu hadirkan duka yang parah. (Cimahi, 17 Januari 2019)


Drama 

Paruh waktu kembali
Drama berapi
Seperti sajak pagi
Curhatan hatimu yang perih.


Lekat Hening

Hening lekat
Lembayung berderat
Memerahkan gurat awan
Menampung rindu-rindu yang berat

Lekat hening
Meniup senyap
Dalam setiap
Rindu-rindu yang senyap.


Malam

Sunyi,
yang bercumbu dalam sunyi kelabu
di ujung gelisah dan luka malam.
Hening memeluk hangat, pada cerita saat ini yang sekarat.
Dan aku terdampar pada lembar baru untuk memerahkan biru,
dari cerita lalu yang pudar untuk meretakkan kepahitan.


Senin Terakhir Bulan Februari

Embun lebur menjadi elegi
Cahaya luka dalam udara
Sepi menjadi keabadian
Lorong kematian di ujung jalan. (Cimahi, 25 Februari 2019)


Yang Tumbuh di Bulan Maret

Sungai cerita mengalir hijau di awal maret
saat semua ingin ku sepuh menjadi dinding biru.
Ada cahaya tersesat menyinari bayanganku
menghidupkan harapan-harapan,
menenggelamkan kelam-kelam.
Maret bermula cerita
kita bertemu, bertumbuh, melekat dan erat.
Akankah kita kuat? dan bisakah kita sepakat?


Ruang Waktu

Ada ruang dan waktu yang tak bisa  kudatangi begitu saja
Kendati keinginanku sekuat baja dan sebesar gunung
Aku percaya bila saat itu tiba aku akan di dalamnya
Untuk bertemu kamu disana.

 

Jalan

Jika cinta itu jalan, ia akan menempuh berbagai jalur dan liku
Sampai menemukan jalan yang mulus dan lurus.


Retak

Aku tak tahu cerita esok, tapi apabila kita harus berpisah, Pisahlah dengan bahagia
Sebab antara kita pernah ada cinta yang tumbuh secara langka.


Terbunuh Malam

Di ujung hujan malam ini aku membunuh malam,
lalu ia membunuhku balik lewat sunyi-sunyi.

 

Menjadi Bangsat

Haruskah aku menjadi bangsat, jika sebuah ketulusan kau anggap kebodohan

Agar menjadi suci harus kulukai untuk kau bisa merasakan nikmat sebuah cinta

Menjadi bangsat! tak perlu kurasa, sebab ketulusan akan menemukan jalannya sendiri meski terlebih dahulu ia harus menerima luka.


Pulang

Teryata, takdir memintaku pulang
Berhenti dalam petualangan untuk kembali ke muara.


Yang Datang, Yang Pergi

Dalam karma
Yang datang akan pergi
Yang pergi akan diganti
Semua untuk pedewasaan diri.

 

Tak Ada Lagi Puisi 

Kumantrai duka menjadi bahagia
Biar tak ada luka dalam kata-kata itu lagi
Sebab aku ingin pensiun menulis puisi, sebab aku ingin
Mengejar malam penuh birahi.

 

Bukan Cinta Cuek 

Aku tak pernah cuek dihadapanmu hanya sebatas diam
Untuk menguji seberapa tangguhkah kau menghadapi cinta itu.
Aku tak pernah cuek Jika kau tak mencuekiku lebih dulu
Sebab cintaku tumbuh bukan dari bangunan tua yang rapuh
Aku tak pernah cuek  apalagi ragu
Hanya menahan rindu agar tak menjadi sembilu.

 

M

Selamat malam engkau yang menjelma purnama,
Yang meruntuhkan riak gelap di ujung senja.


Nyanyian Angin

Ia menerpa separuh rindu
Mengesekan ranting meniupkan daun-daun
Di utara melaju, membawa sedikit tiupan
Lalu hempaskan kau dalam kenangan.

 

Kita

Dalam jeda kita bisu
Sama-sama diam hening
Lalu mengumpal ragu
Berlanjut cuek
Dan kembali diam
Hening dalam rindu yang parah.

 

Untuk M

Kau tak perlu menjadi siapa pun untuk mengambil perhatianku,

Cukup menjadi dirimu sendiri apa adanya, sebab aku mencintaimu bukan karena cantik

Parasmu, tapi kesederhanaan yang kau miliki.

 

Kamu M 

Diamku adalah alasan
Senyumku adalah tanda
Acuhku adalah maya
Dirimu alibiku, kamu m.


Bangkit

Bila waktu tak memihak
Dan luka itu kembali
Ingatlah tuhan punya rencana tinggi
Agar kamu tak lagi retak- terurai menjadi kepingan sunyi yang kau benci

 

Aroma Laut

Aroma laut seperti rindu yang melekat
Ia menetap dan melahap.

Artikel Terkait