Indonesia adalah Negara Demokrasi, di mana seharusnya menjunjung tinggi freedom of speech, atau kebebasan berbicara. Yang namanya kebebasan artinya memang bebas dan tanpa batas. Jika sudah dibatasi, maka bukan kebebasan lagi.

Batasan freedom of speech itu seharusnya tidak ada. Selama hanya sebatas perkataan, konsep, ide, karya, maka itu tidak bisa dibatasi. Namun jika sudah merambah ke ranah tindakan, itu baru bisa dibatasi.

Misal, ketika seseorang mengatakan “aku membencimu”, itu bukan penghinaan atau penistaan, itu freedom of speech dong. Namun ketika konsep benci kemudian diterapkan dalam bentuk tindakan, itu namanya kriminal, dan harus dibatasi karena sudah menjadi sebuah tindakan.

Masalahnya, kita selalu merasa diri kita paling benar, sehingga saat kita tersinggung, seakan-akan kita boleh menyalahkan orang lain untuk melampiaskan amarah kita. Padahal tersinggung dan kebenaran adalah dua hal yang berbeda.

Seharusnya sebagai warga Negara yang kritis, ketika ada argumen yang menyimpang, ya dilawan dengan argumen dong, bukan dengan kekerasan. Ya masa setiap argumen yang tidak kita setujui harus dibalas dengan kekerasan? Ini seperti air susu dibalas dengan air terjun.

Pada dasarnya kita adalah orang jahat. Suka menertawakan kejelekan orang lain. Suka melihat orang lain gagal. Dan selalu berharap orang lain tidak lebih baik dari kita. Patut diakui juga bahwa kita adalah manusia yang memiliki ego sangat tinggi. Sehingga tidak mau untuk disalahkan, bahkan ketika sudah jelas-jelas melakukan kesalahan pun tidak mau dianggap salah.

Banyak kasus yang sudah menjadi bukti. Contoh ketika emak-emak yang abstrak memakai lampu sen, kemudian ketika diingatkan malah kita yang salah. Ada juga bapak-bapak yang melawan arus untuk menghindari kemacetan; ketika disuruh putar balik malah ngajak ribut, duh negara ini memang sangat damai.

Tidak hanya di jalan raya saja, di media sosial pun demikian. Banyak “pertunjukan” yang bisa kita saksikan. Meskipun hanya dari masalah sepele, namun kurang afdal kalau belum diributin. 

Kita memang sudah menjadi hamba terhadap ego diri sendiri. Saat ada yang mengomentari kejelekan kita, biasanya malah dijawab “lihat dulu diri anda”, “ngaca dulu baru komentar”.

Pertanyaannya, apakah kita harus menjadi “dewa” dulu untuk bisa mengomentari orang lain? Seakan-akan hanya orang yang “sempurna” yang berhak mengomentari orang lain. Padahal ia hanya sekadar mengingatkan. Apa salahnya ketika tukang becak mengingatkan pengguna motor untuk menggunakan helm? Apa harus jadi polisi dulu untuk boleh mengingatkan tentang berkendara?

Pepatah klise yang sering digunakan sebagai alasan adalah “100 kebaikan akan kalah dengan 1 keburukan”.

Hemmmm, onok ae alasane. Apakah ketika sudah melakukan beberapa kebaikan maka boleh melakukan beberapa kejelekan? Apakah ketika sudah berbuat baik maka bebas melakukan kejahatan? Meskipun hanya satu? Ya enggak dong…

Emang awakmu sopo kok gak oleh disalahno?

Salah satu sumber masalahnya adalah media sosial. Sadar atau tidak, di media sosial, kita bisa dengan mudah membuat dunia kita sendiri, kita dengan mudah menemukan orang yang hanya sependapat dengan kita, dan memblokir orang-orang yang berseberangan dengan kita.

Efek negatifnya adalah kita selalu membenarkan pemikiran dan tindakan yang kita lakukan. Akhirnya, ketika ada yang tidak sependapat dengan kita, maka akan menjadi masalah besar dan langsung menjadi musuh abadi tujuh turunan.

Tindakan bully di media sosial menjadi cemilan sehari-hari. Orang yang membully akan merasa benar, karena ada yang lebih salah darinya, meskipun cara yang ia gunakan justru menjadi tindakan yang salah juga.

“Hanya karena orang lain salah, bukan berarti kita bebas melakukan apa pun untuk menyalahkan orang tersebut.”

Contohnya lagi, beberapa bulan lalu ada kasus kucing yang mati akibat diberikan ciu (sejenis minuman keras) oleh seorang pemuda. Saya agak ngilu ketika membaca komentar netijen yang budiman. Saya tidak menyalahkan ketika ada yang berkomentar buruk, namun berbeda lagi jika mereka malah menyumpahi pemuda tersebut, bahkan mengancam ingin membunuhnya. 

Ya memang sih tindakan pemuda tersebut adalah salah, namun respons kita terhadap tindakan orang yang salah juga tidak boleh salah dong. Coba deh bayangkan, ada pemuda yang membunuh kucing, kemudian ada orang yang membela kucing tersebut dengan cara ingin membunuh manusia.

Ini bukan berarti saya tidak suka kucing lo. Saya cintaaa sekaliii sama kucing.

Tapi kalau diberi pilihan, saya akan lebih memilih berteman dengan pemuda yang memberi ciu pada kucing daripada dengan orang yang kalau ada kesalahan langsung ngancam mau membunuh. 

Karena logikanya, jika dengan pemuda yang membunuh kucing, paling kita cuma harus menyingkirkan kucing kita darinya. lya kalau dengan orang yang mengancam membunuh, malah kita dong yang selalu terancam.

Momen yang lucu adalah ketika ada orang yang sudah jelas-jelas salah, lalu dibully, dan dalam keadaan terdesak tersebut kemudian ia mengatakan “sabar aja, biar Tuhan yang bales”.

Duhhh… gini ya, Dek, Sabar itu bukan ketika anda ditindas. Namun ketika anda punya kesempatan menindas dan anda tidak melakukannya. Karena sabar itu kekuatan bukan kelemahan.

Kamu hanya manusia, kamu tidak bisa menjadi selalu baik. Orang lain boleh kok tersinggung tentang apapun yang kamu lakukan. Kamu tidak bisa membatasi perasaan orang lain. Dan bisa saja yang dikatakan orang lain terhadapmu adalah benar. 

Kamu hanya manusia, pasti sering berbuat salah. Sadari saja, dan akui saja. Setidaknya jadilah manusia tanpa perlu berpura-pura sempurna...