89785_74669.jpg
Liputan6
Sejarah · 5 menit baca

Yang Terlupakan

Sutan Sjahrir adalah sosok yang nyaris terlupakan dalam catatan sejarah, padahal beliau merupakan nahkoda Republik Indonesia dan Perdana Menteri yang pertama, Menteri Dalam Negeri dan Luar Negeri serta penasihat Presiden. Selain itu, di masa hidupnya, beliau telah mendedikasikan diri sebagai pedagog sejati dan pejuang kemanusiaan.

Di masa kemerdekaan Republik Indonesia, Sjahrir bagaikan sebuah magnet yang memiliki kekuatan magis dalam menyuntikkan kesegaran-kesegaran berpikir para pemuda, Sjahrir tidak memanaskan gejolak hati pemuda yang mudah sekali terbakar dengan retorika.

Sjahrir berhasil menciptakan sebuah kosmologi cara berpikir yang sangat matang dan moderat untuk mencapai suatu tujuan yang rasional. Sjahrir rupanya sangat menyadari bahwa saat muda, api idealisme anak muda sangat tinggi membara, seolah-olah mampu mengubah dunia dalam sekejap, meskipun sebenarnya hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Sjahrir sanggup menggiring para pemuda pada kematangan berpolitik. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa pengaruh Sjahrir melekat kuat saat dari dulu bahkan sampai saat ini. Para pemuda dari berbagai kalangan di masa perjuangan melawan Jepang, baik kelompok Menteng 31, Prapatan 10 atau kelompok pemuda lainnya akan datang berbondong-bondong pada Sjahrir.

Sjahrir dan para pemuda memang terkadang memiliki perbedaan pendapat, namun perbedaan mereka dapat dipersatukan oleh satu tujuan yang sama, yakni kemerdekaan bagi Indonesia. Cara menghadapi penjajah yang menggunakan jalan diplomasi juga merupakan bukti intelektualitas ketokohannya karena sesungguhnya dalam diplomasi terjadi pertarungan intelektual yang harus dimenangkan. 

Pengaruh seorang Sjahrir memang tak lekas hilang di telan perubahan zaman. Sampai saat ini, masih ada anak-anak muda yang berpatron pada Sjahrir dan mengimplementasikannya, meski terkadang menjadi figur-figur yang kurang dikenal di masyarakat luar.

Meresapi kisah Sjahrir yang manis sekaligus dramatis, dapat kita ambil banyak hikmahnya dari kehidupan beliau. Misalnya, Sjahrir sebagai seorang negarawan sanggup berjembar hati untuk tidak menyimpan dendam pada lawan-lawan politiknya atau bahkan orang yang telah menganiayanya.

Ketika Sjahrir dipukul matanya dengan pistol oleh seorang Ambon, Sjahrir buru-buru mencegah tersebarnya berita tersebut demi persatuan bangsa. Sjahrir tidak ingin adanya perpecahan di antara bangsa sendiri. 

Sangat ironis dengan keadaan saat ini di mana para politisi negeri ini mempunyai sifat tropenkolder yang telah membudaya, yakni sifat cepat marah dan tersinggung yang menyulut pada permusuhan dan friksi. Penyakit ini telah menjangkit dari atas sampai ke bawah. Itulah bedanya karakter intelektualitas Sjahrir yang mampu menekan seluruh amarahnya agar tidak tercipta perselisihan yang dapat memecahkan karang persatuan bangsa.

Sjahrir juga adalah seseorang yang tidak berambisi terhadap kursi kekuasaan. Beliau menjadi Perdana Menteri karena sebuah tanggung jawab besar yang harus dipikulnya ketika saat itu Sekutu, sebagai pemenang perang, mengharuskan Indonesia berunding dengan Belanda.

Sementara Belanda enggan berunding dengan Soekarno dan Hatta yang dianggap sebagai kolaborator Jepang sehingga diperlukan posisi Perdana Menteri yang sosoknya netral, maka Sjahrir terpilih.

Meskipun banyak pihak mengatakan bahwa Sjahrir lemah karena hasil Perjanjian Linggajati di tahun 1946 hanya mengakui tiga daerah saja: Sumatra, Jawa dan Madura, namun saat itu kekompakan Pemerintah Soekarno-Hatta-Sjahrir terlihat begitu jelas. Apabila ditilik secara cermat mengenai jalan perundingan yang diambil PM Sjahrir, itu sebenarnya adalah pilihan yang paling rasional di kala kapabilitas Indonesia yang sangat jauh dibandingkan Belanda. Berpolitik tanpa ambisi akan jabatan dan kursi.

Alangkah ironisnya dengan keadaan saat ini yang berbanding seratus delapan puluh derajat. Bagi Sjahrir, politik adalah sebuah panggilan. Seorang State-man harus bisa melayani rakyatnya, mencintainya dan mengedepankan kepentingan negara di atas segalanya.

Sjahrir mampu memberi arah perjuangan yang benar di masa revolusi kemerdekaaan. Prestasi gemilang yang dicetak Sjahrir di masa pemerintahannya yang cukup singkat itu (1945-1947) adalah berhasil meyakinkan banyak negara untuk mengakui kedaulatan Indonesia, seperti India, Mesir, dan negara-negara Timur Tengah lainnya.

Sjahrir yang terkenal cerdik juga melakukan strategi kancilnya dengan mengirimkan 500.000 ton beras yang di tahun 1946 terdapat surplus padi. Sjahrir berhasil menembus blockade Belanda dan mengirim beras ke India yang saat itu terkena bencana kelaparan. Tindakan Sjahrir ini menarik simpati India dan bahkan dunia Internasional. 

Prestasi cemerlang lainnya yang diukir oleh Sjahrir adalah mampu menginternasionalisasikan masalah Indonesia di Dewan Keamanan PBB sehingga pihak Belanda telak dipermalukan oleh pihak Indonesia. 

Sjahrir juga terkenal dengan sifatnya yang humanis dan altruisme. Beliau pernah mengangkat anak-anak Banda menjadi anak angkatnya. Sjahrir mengajari mereka cara memandikan bayi, memasak, dan menjahitkan sendiri pakaian untuk anak-anaknya.

Sjahrir adalah seorang guru yang baik. Bukan untuk anak-anak angkatnya saja, namun untuk anak-anak yang berada di tempat pengasingan, yang tidak memiliki kesempatan belajar di sekolah-sekolah formal. Beliau memang raja anak-anak. Sjahrir tidak pernah memarahi mereka. Sjahrir mengajari mereka dengan penuh semangat kebangsaan dan menanamkan rasa cinta pada tanah air, yakni Indonesia.

Jejak perjuangannya sudah dimulai sejak di AMS. Beliau telah belajar berpolitik sedari muda. Sjahrir mendirikan ‘Sekolah Rakyat’ bersama kawan-kawannya untuk memberantas buta huruf, menanamkan kecintaan rakyat terhadap tanah air dan kesadaran melawan feodalisme Belanda.

Beliau dan kawan-kawannya membentuk kelompok teater yang dinamai ‘Batovis’. Beliau menjadi penulis skenario teaternya itu yang berisikan tema-tema perjuangan dan sosial untuk menyalakan api semangat perjuangan bagi kemerdekaan Indonesia.

Di negeri Belanda, Sjahrir bergabung dengan Perhimpunan Indonesia dan juga bekerja untuk organisasi buruh internasional. Sjahrir kembali ke Indonesia untuk memimpin PNI-Pendidikan sebelum Hatta datang. 

Ketika vergarded verbod diberlakukan pada organisasi mereka, Sjahrir dan Hatta dibuang ke Boven Digul, sebuah tempat pengasingan yang sangat liar. Namun Sjahrir dengan tabah menjalani pembuangannya dan di sana pula beliau menjadi pengajar untuk anak-anak orang yang di beslit tersebut.

Setahun kemudian, Sjahrir dan Hatta dipindahkan ke Banda Neira,.Sjahrir pun menjadi pembela hukum bagi orang-orang yang terkena kasus hukum dan ketidakadilan. Beliau dengan cerdik meminta veteran KNIL sebagai penyambung lidahnya.

Kecerdasan Sjahrir juga terbukti dengan berhasil menyelesaikan masalah anak-anak muda di Banda yang suka berkelahi hanya karena permainan olahraga mereka kalah dari tim lawannya. Sjahrir dan masyarakat setempat akhirnya menemukan solusi terbaik untuk mengumpulkan para jago antarkampung ke dalam satu tim gabungan sehingga semua orang tidak punya alasan lagi untuk bermusuhan.

Selain itu, Sjahrir juga mempunyai cara cerdik untuk memonopoli hasil kebun dan sayuran dari kapal yang datang, kemudian menjualnya di Koperasi. Hasilnya dipergunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Itulah sekelumit kisah hidup seorang Sutan Sjahrir yang namanya semakin tenggelam dan terlupakan. Namun jasa-jasanya akan selalu tertoreh dalam tinta sejarah dan tak akan lekang di telan waktu.

Penulis membuat komik mengenai Sjahrir, apabila pembaca tertarik, bisa membaca di alamat ini: Yang Terlupakan