Penulis
6 bulan lalu · 56 view · 3 min baca · Wisata 79856_97899.jpg
Dok. Pribadi

Yang Terik yang Eksentrik

History repeats itself, first as tragedy, second as farce (Karl Marx - German Philosopher)

Getjintjangd adalah aksi teror balas dendam pribumi pada kaum kolonial. Di suasana arus balik revolusi. Pascapekik kemerdekaan digemakan, rumah-rumah Belanda dikepung, pada molenvliet (kanal) penghuninya dilarung. 

Sebelumnya penuh kesumat mereka disiksa, ditancap bambu, dihabisi, yang sekarat dimutilasi. Dari sana kata getjintjangd bermula. Kita melafalkannya dicincang.

Di Surabaya setali tiga uang. Orang-orang Belanda digiring ke sebuah bunker, lalu secara brutal mereka diselesaikan. 

Kini, bunker bau darat itu menjadi destinasi uji nyali. Arwah kolonial tak akan tinggal diam! Seperti mereka bilang, meten is weten; pastikan daripada cuma menduga. Kami saling tatap untuk tantangan itu.


Dalam mobil yang melesat di jalan bebas hambatan menuju kota. Seorang teman tanpa berkelakar bersuara: ternyata keberhasilan mencuri sesuatu milik orang adalah menimbulkan kenikmatan. 

Coba saja. Menjadi pengutil kecil saja dulu, misalnya kulkas dua pintu. Seseorang tertawa, lalu sibuk mencari ponselnya yang entah di mana.

Masih nyata di ingatan, di kota ini juga pernah seseorang dengan sengaja mengutil nyawa sesama. Dalam aksi agresif pemboman dipayungi klaim suatu keyakinan. Kami nyaris tiba bilangan Ngagel dan mobil sedikit melambat. Pak supir menjelaskan perihal ledakan di jalan ini pada Ahad pagi yang cerah kala itu.

Surabaya kian terik saat kami menuju tepi Sungai Kalimas. Teman kami yang history buffs bersemangat menyambangi Monumen Kapal Selam (Monkasel). Inilah Surabaya. Kota eksentrik penuh ketidakwajaran. Selain di darat ada hiu bertarung versus buaya, di sini kapal selam pun dibuat terapung di tengah kota.

Monkasel tak lain adalah puing Kapal Selam KRI Pasopati bernomor lambung 410. Kapal selam yang teronggok ini jenis SS Whiskey Class buatan Vladivostok, Rusia pada 1952. 

Dulu kapal digunakan dalam pertempuran mempertahankan Irian Barat. Baru pada Januari 1990 Kapal Selam Pasopati dinonaktifkan dalam suatu upacara militer khidmat.

Meski nuansa under water sebagai kapal selam sama sekali nihil. Kami bangga mengetahui Monkasel satu‐satunya monumen kapal selam di Asia yang memanfaatkan kapal sebenarnya. 

Pasti akan lebih menarik lagi jika Monkasel bisa membawa pengunjungnya merasakan pengalaman layaknya seorang awak kapal selam (experience-based tourism).

Tak jauh dari Monkasel, terbentang Jembatan Merah yang menginspirasi maestro Gesang menciptakan lagu dengan judul sama. Jembatan Merah pun menghubungkan dua permukiman etnis berbeda: Kembang Jepun, Pecinan dan perkampungan Timur Tengah, Ampel.

 Kedua wilayah sama-sama menghadap Sungai Kalimas sebagai pembawa berkah. Di ujung jalan sebuah gapura bertuliskan Hokkien: kya-kya, artinya jalan-jalan.


Awal penataan kampung berdasar etnis saat itu sengaja dilakukan agar kolonial Belanda mudah melakukan pengawasan. Sementara, istana kolonial sendiri berderet di bilangan Darmo dan sekitarnya. 

Yang di kemudian hari pengepungan dan pembantaian warga Belanda dan yang pro terjadi. Tragedi yang disebut kekacauan “masa bersiap”.

Pada kondisi saat ini, sayangnya model pengklasteran dengan nada serupa pun terjadi. Kecenderungan penyediaan properti landed house dengan label yang menjelaskan penghuninya penganut etnis atau agama tertentu tumbuh di beberapa kota. 

Apakah tidak mungkin ini akan membuka ruang makin tersumbatnya akses keberagaman? Semoga keliru.

Surabaya mulai menunggu senja. Kami menghabiskan sisa matahari di Taman Kenjeran, sebelah timur kota. Ada beberapa bangunan vihara dengan desain memesona di sini. Instagramable. 

Misalnya Pagoda Tian Ti yang replika Temple of Heaven di Beijing, Tiongkok. Selain itu, arca Buddha Catur Muka alias Four Faces Buddha yang bertahta pada singgasana keemasan dan merah menyala.

Di seberang kompleks arca terdapat Klenteng Sanggar Agung atau Klenteng Hong San Tan. Ini tempat ibadah yang di halaman belakangnya berdiri Patung Dewi Kwan Im berbalut busana putih. Tingginya sekitar 20 meteran. Di kanan kirinya terdapat dua arca penjaga dan Maharaja Langit yang diapit dua naga ekor panjang.

Selangkah di belakang patung, ombak Pantai Kenjeran tengah surut. Terlihat satu dua bangau putih mematuk ikan. Sekelompok lainnya datang berjinjit di pasir kecokelatan. 

Saat Pantai Kenjeran makin pekat, kami berangkat kembali ke pusat. Kami biarkan Silampukau mengalun: Malam jatuh di Surabaya. Maghrib mengambang lirih dan terabaikan, Tuhan kalah di riuh jalan.

Meski tak seluas pusat keramaian lainnya, suasana ruang semi terbuka di sini menawarkan rasa nyaman. Katanya ini tempat favoritnya muda-mudi Surabaya. 


Selain sekadar bersantai arek-arek biasa berbaur di tengah warna-warni lampu klub yang menyilaukan mata. Saat hinggar-bingar musik mulai menyalak, beberapa tampak antusiasnya.

Lalu, bagaimana dengan dark tourism ke bunker Belanda itu? Sudahlah kita nikmati saja malam Surabaya dengan cara biasa. Dan ini Rabu malam, bukan? 

...feeling my way through the darkness, guided by a beating heart, I can't tell where the journey will end, but I know where to start, so wake me up when it's all over...

Artikel Terkait