Perempuan itu masih sering ke sana. Saat matahari sudah lindap, menjelang azan Magrib berkumandang. Ia datang ke sana dengan terlebih dahulu memastikan tidak ada orang yang melihatnya. 

Dari rumahnya ia melewati pematang-pematang sawah dan semak-semak untuk bisa sampai ke sana. Sebuah pondok kosong bekas orang berladang.

Liza nama perempuan itu. Ia duduk diam di sana. Menikmati hembusan angin senja yang lembut dengan tak henti-henti harap angin menenteramkan hatinya. 

Ada dua nama terukir di dinding papan pondok. Tak lain namanya dan kekasihnya, yang seperti tak beranjak dari perhatiannya, sambil sekali-kali memastikan di kedua sudut matanya tak menetes air. Sebuah peristiwa lampau begitu dalam tertanam di benaknya. Terus-menerus terulang di memorinya.

Liza dan Sial saling mencintai sejak SMA. Secara diam-diam mereka memupuk perasaan bahwa hubungan mereka harus berlanjut ke jenjang yang lebih tinggi. 

Mereka merasa getar-getar di dada ketika Liza kelas II SMA, dan Sial kelas III. Mereka sering bersantai di kantin sekolah. Bengobrol, melepas keluh-kesah, dan bercanda. Getar-getar di dada itu lambat-laun berbuah cinta. Mereka pun jadian. Ada senyum, tawa, dan harapan setiap kali mereka jalan bareng menuju tempat ojek selepas sirene jam sekolah berakhir mengaung.

Suatu hari Pak Labai--ayah Liza--menyaksikan Sial mengantarkan Liza pulang dengan sepeda motor. Pak Labai sedang duduk di kursi teras berteman segelas kopi dan rokok. Bagaimana pula bisa anak Ulin--ayah Sial--punya sepeda motor, batin Pak Labai. 

Namun, Pak Labai memandang waktu itu, pastilah Sial hanya kawan Liza. Mungkin sepeda motor itu dipinjamnya, kebetulan Liza tidak dapat ojek, maka menumpanglah dengannya.

Mereka tetap berpacaran sampai Liza lulus SMA dan Sial sudah bekerja di sebuah dialer sepeda motor. 

Sampai pada akhirnya Pak Labai melihat dengan mata kepalanya sendiri Liza dan Sial sama-sama tertawa terpingkal-pingkal--entah menertawakan apa--di depan sebuah masjid. Di rumah, sewaktu mau keluar, Liza mengaku hanya pergi ke kedai beli kue.

Sebenarnya Sial dan Liza sering bertemu di tempat-tempat tertentu. Hanya saja Pak Labai tidak pernah mengetahuinya sebelumnya.

Mulai saat itulah Pak Labai mencari tahu hubungan mereka. Ia tanyakan ke kawan-kawan sama sekolah Liza dulu. Keputusan Pak Labai pun kemudian bulat. Bahwa Liza harus segera dinikahkan, yang pastinya bukan dengan Sial.

Sial menunggu Liza di pondok bekas ladang. Tempat mereka pernah bersantai, mengukir nama masing-masing di dinding papannya. Tas berisi pakaian ada di lantai pondok. 

Usia mereka muda dan keinginan Liza untuk bebas dari kungkungan orangtua begitu menggebu. Tak sampai sepuluh menit menunggu ketika Sial melihat kepala kekasihnya menyembul dari balik semak-semak pada malam yang terang dengan cahaya bulan dan bintang-bintang.

“Kita harus segera pergi,” kata Liza begitu sudah sampai di dekat kekasihnya. Di punggungnya tersandang sebuah tas berisi pakaian.

Suara binatang malam berbunyi nyaring. Mereka memadukan dua napas bersama angin malam yang semilir. Sebuah senter kecil di tangan Liza sekali-kali diarahkannya ke wajah Sial, memastikan bahwa kekasihnya dalam keadaan tidak gugup.

Segera terbayang di benak Sial, Amak-nya yang ia tinggalkan bersama seorang adik perempuannya yang masih SMP. Amak yang menghidupinya dan adiknya dengan jerih payah berjualan jagung rebus karena ayahnya meninggal sewaktu ia kelas V SD. 

Beberapa kali Amak-nya mengatakan, kalau hubungannya dengan anak pemilik huller itu diakhiri saja karena berbeda status sosial. Nyata sekarang, perasaan Sial mulai gamang. Ia sudah merasa tak mampu lagi bertahan, melanjutkan rencana.

Terbit gelisah di hati Liza.

“Bagaimana Al. Apakah selama ini kamu tidak memikirkan tempat ke mana kita akan pergi,” kata Liza.

Terbayang di benak Sial kalau tempat pergi hanya ke kota. Tapi kota mana yang hendak dituju. Di dada Sial pun pelan-pelan terbersit ragu.

“Ayo kita pergi. Ke mana saja. Pergi jauh,” kata Liza sambil memegang pergelangan tangan Sial.

Ketika kaki Sial dan Liza sudah melangkah meninggalkan pondok bekas ladang, serta-merta dari balik semak-semak menyembul satu per satu kepala dengan masing-masing senter di tangan mereka.

“Itu mereka!” kata salah seorang dari mereka dengan mengarahkan senter ke muka Sial dan Liza.

Sial lalu berlari meninggalkan Liza ke arah semak-semak yang berlawanan dengan semak-semak tempat serombongan itu keluar dengan napas yang ngos-ngosan.

“Begini benar kau perlakukan aku, Al,” batin Liza begitu ayahnya memeriksa anggota tubuhnya dengan cahaya senter--takut anaknya itu diraba sekujur tubuh.

                               ***

Kabar itu entah siapa meniupkannya. Kabar itu begitu cepat menyebar seperti suara toa. Kabar tentang Sial yang ingin memerkosa Liza. 

Dan, jika bertemu dengan orang-orang kampung, Sial selalu dipandang sebelah mata. Diseringai dan dicibir. Tak jarang mereka berbisik,”Sial, perangainya saja nampak baik. Anak Pak Labai mau diperkosa. Anak orang kaya mau diperkosa.” Kontan membuat Sial seperti terkena miang. Perasaannya remuk.

Setiap hari Sial merasa hidupnya tersiksa. Hidup Sial ditaburi pedih. Tempat nyaman baginya di rumah, tapi tak mungkin ia di rumah setiap hari. Karena ia harus bekerja.

Sampailah Sial pada keputusannya. Untuk meninggalkan kampung. Mencari kerja di kota.

“Aku merantau saja, Mak,” kata Sial kepada Amak-nya.

Amak-nya hanya bisa menghela napas. Ia sendiri pun sering mendengar kabar itu.

“Pergilah, Nak. Jika itu keputusanmu,” kata Amak-nya.

Berbekal uang simpinan selama ini bekerja, Sial pergi mencari kerja ke Kota Padang. Kepergiannya itu tengah malam tanpa sepengetahuan orang kampung. Juga Liza.

Sementara Liza, sehari sebelum pernikahan dengan lelaki pilihan orangtuanya, kabur ke rumah Etek-nya di Painan. Ia tinggal di sana. Di kampung, keluarga dan orang-orang kampung sudah mencarinya ke mana-mana. Sampai lelah sendiri dan putus asa.

Seminggu Liza tinggal di rumah Etek-nya. Etek-nya lalu menelepon ke kampung. Mengabarkan keberadaan Liza. Tapi ada syaratnya kalau Liza pulang, Liza tidak mau nikah dengan lelaki pilihan orangtuanya itu.

Orangtua Liza memenuhi syarat itu. Pulanglah Liza ke kampung. Menjalani lagi hidup seperti sedia kala. Oleh ayahnya kemudian ia diberi modal untuk buka toko kelontong.

Jauh di lubuk hati Liza, ia begitu kehilangan Sial. Sering malam mimpi-mimpi pertemuan dengan Sial mendatangi. Jika ia sudah terbangun, hatinya langsung berharap Sial kembali ke kampung. 

Ia sendirilah yang akan menghentikan kabar-kabar yang membuat Sial pergi merantau. Ia sudah menghubungi nomor hp Sial, tapi tak aktif terus.

Sudah dua tahun kepergian Sial. Pada suatu hari Liza mendengar kabar Sial pulang kampung. Tapi kabar itu juga menceritakan, Sial pulang dengan seorang perempuan. Segera ia cari tahu, siapa gerangan perempuan itu. 

Dari seorang kawan, ia tahu kalaulah perempuan itu istrinya Sial. Langsung berputar dunia di sekeling Liza. Rasa-rasa nyawa mau lepas dari badan. Ia kembali ke toko kelontongnya dengan perasaan yang kacau.

                             ***

Ia masih sering mengunjungi pondok bekas orang berladang itu. Saat matahari sudah lindap, menjelang azan Magrib berkumandang. Ia datang ke sana dengan terlebih dahulu memastikan tidak ada orang yang melihatnya.

Ia duduk diam di sana. Menikmati hembusan angin senja yang lembut dengan tak henti-henti harap angin menenteramkan hatinya.

Dua hari lagi ia akan menikah. Bukan dengan lelaki pilihan orangtuanya. Seorang lelaki dari desa sebelah yang kenal dengannya di toko. Mereka berkenalan, mengobrol, dan merasa cocok. Ia coba pahami dirinya. Ia pandang lagi dua nama terukir di dinding papan pondok. Ah, ia berharap, semoga ia bisa melupakan lelaki yang terukir namanya sesudah namanya itu.