Apa sebenarnya yang kamu inginkan?

Si Pria Muda itu sedari tadi hanya duduk diam tidak menghiraukan orang di belakangnya yang sedang mengajaknya bicara. Ia hanya diam membisu, merenungi segala banyak hal yang telah terlewati dalam setiap hening malam tak bermakna. 

Di bawah sinar rembulan pada pukul 23.45 pada penghujung hari-hari terakhirnya.

“Memangnya, hal apa yang masih kamu inginkan?” Si Pria Muda yang ditanya tak mengindahkan pertanyaan orang sedang bertanya kepadanya, untuk apa? Pikirnya. Karena yang ditanya nyatanya tidak tahu apa jawabannya persis seperti yang sedang bertanya.

Kelam. Malam ini diukir oleh nuansa alam sepanjang malam yang setiap malamnya terus-menerus ingin berganti kepada singgasana yang tak bertahta dan tak berujung. Menantikan siang yang dicari-carinya tak pernah ada.

“Aku akan mengajakmu berpetualang melewati kefanaan tanpa ada ikatan, mengarungi samudra tanpa diterpa kejamnya lamunan ombak." 

"Dan, Aku akan membawamu ke tempat ketika semua yang kamu impikan di tahun ini bisa terjadi dan mengembalikan semuanya, tanpa ada lagi kesedihan dan rasa sakit." 

"Aku akan membawamu ke sana. Kita akan habiskan waktu di sana hanya dalam waktu 14 menit saja menurut waktu sebenarnya. Sebelum hari ini berakhir, kian berlari menuju ke perantauan selanjutnya terkait waktu,” kata Si Pria Misterius.

Akhirnya Si Pria Muda yang sedari tadi duduk diam membisu kemudian bangun, merapihkan celanannya yang dipenuhi rerumputan dan tanah dannn berkata, “Bawa aku kesana!” tegasnya.

“Baik, mendekatlah kemari.” Si Pria Misterius tersenyum sambil mengulurkan tangannya ke arah Si Pria Muda. Kemudian tangan kedua orang itu bersentuhan.

Duaaarrrrr ...

Keajaiban pun terjadi sekejap.

***

“Disana ada tiga pintu,” Kata Si Pria Misterius sambil menunjuk kearah pintu-pintu tersebut. “Pintu pertama dan kedua adalah pintu dimana keinginan mu akan terwujud, dan kehilangan yang kamu rasakan tidak akan berarti lagi, dan semuanya yang telah hilang akan kembali lagi padamu.”

Si Pria Muda masuk melewati gelap yang setelah ia buka betapa terkejutnya ia. 

Semuanya adalah kekayaan yang selama ini ia cari. Ini adalah rumahnya yang dulu, betapa mewahnya pelantarannya. Betapa megah kilauan keramik dan patung-patung emas. Ia tahu ini semua adalah miliknya, hanya miliknya seorang tanpa ada lagi yang harus merenggutnya dari dirinya. 

Ia berjalan-jalan sambil tersenyum berseri-seri. Berjoget riang dari pagi sampai menjelang malam, terus-menerus melakukannya dengan tanpa. Tapi lambat laun Ia perlahan mulai sadar bahwasanya ia hanya sendiri, tanpa ada siapa-siapa, tanpa ada yang selalu menemani lebih tepatnya.

Pikiran dan hatinya kalut. Apa sebenarnya yang diinginkan oleh dirinya? Bukankah Ia harusnya bahagia? Karena telah mendapatkan kembali semua dari apa yang telah orang-orang brengksek itu rebut dari dirinya?

Ia mulai membaca lebih dalam. Menghampiri dan berbicara secara perlahan kepada semesta. Berdialektika antara keharmonian dan cerita panjang atas sebuah asa dan kenangan. Ia bergegas kembali keluar menuju pintu pertama yang telah di sebut oleh Si Pria Misterius itu.

Setelah keluar Ia hanya melihat gelap dan sebuah kursi yang dinaungi oleh satu lampu jalanan berwarna kuning remang-remang. Di sana tak Ia temukan Si Pria Misterius itu. 

Ia menghampiri pintu kedua. Sumber kebahagiaan keduanya yang Ia yakini dan Ia tahu itu apa. Ia membuka pintu kedua lalu masuk. 

Cahaya perlahan mulai menyinari sekitarnya. Lihat ini, sedang siang hari. Banyak orang yang sedang berkumpul di alun-alun lapangan pusat provinsi. Orang-orang bersorak begitu meriah. Mereka bersemangat dan mulai mengelu-elukan namanya melaui jargon-jargon unik.

Tak lama kemudian Si Pria Muda itu dipanggil oleh MC yang sudah terlebih dahulu ada di atas panggung besar di tengah-tengah alun-alun lapangan pusat provinsi. Kemudian ia berjalan di atas karpet merah dan melewati banyak orang yang terus mengelu-elukan namanya tanpa henti.

Ya, ini adalah sumber kebahagiaan yang sempat hilang. Tapi lihatlah, Ia kembali merasakannya. Ia kembali datang menghampiri, yang telah hilang, dan semua yang sempat membuat kepedihan di dalam diri. Semuanya telah kembali.

Sorak-sorai semakin ramai menyebut-nyebut namanya ketika bersiap menyampaikan dua tiga patah kata kepada masyarakat yang sedang mengerumuni panggung alun-alun lapangan pusat provinsi.

Tapi entahlah, perlahan Ia merasa aneh. Aneh sekali. Ia merasakan hal yang sebenarnya selama ini ia tahu, tapi mungkin semuanya terlalu kalah oleh sebab terlenanya akan semua hal yang diberikan kepadanya, pujian dan juga kedudukan ini.

Ia lihat, ada senyuman palsu diantara mereka-mereka. Sorak-sorai yang dilihat hanyalah halusinasi kasat mata yang hanya berdasarkan materi. Dan lihatlah, para petinggi-petinggi yang sedang duduk dibelakang dirinya. Mereka berbisik-bisik membicarakan dirinya, tentang hal-hal yang tak Ia inginkan untuk didengarkan.

“Selamat pagi ...” Suaranya patah-patah.

“Saya disini berdiri untuk ...” Ia terdengar ragu.

“Mengatakan, bukan ini semua yang saya mau ...” Suara Si Pria Muda menggantung.

Lalu, Ia tergopoh-gopoh turun panggung. Sekencang mungkin berlari menembus ribuan orang-orang yang terlihat sedang bertanya-tanya terkait apa yang baru saja terjadi. 

Ia berlari, dan hanya berlari sambil mulai menunduk, meringis dan kemudian tak sadar air matanya perlahan meleleh. Ia inginkan kebahagiaan sesungguhnya. Bukan kefanaan yang malah berkedok kebahagiaan, padahal itu hanya sekedar semu. Ia kembali lagi ke pintu awal Ia datang. 

Dan Si Pria Misterius itu sedang menunggu, duduk bersantai di kursi bawah sinar lampu remang-remang warna kuning.

“Jemputlah kebahagiaanmu yang sesungguhnya. Silakan, hanya tinggal tersisa satu pintu lagi.” Kata Si Pria Misterius dengan wajah tenang dan suara damai.

Si Pria Muda itu mantap, berjalan secara perlahan sambil memantapkan hatinya, bahwasanya ini semua yang harusnya semula Ia cari sejak awal. Ia sekarang di depan pintu tersebut. Menatap lamat-lamat pintu tua dan usang itu. Berpikir dan kembali meyakinkan pada diri terkait segala keputusannya.

Ia membuka pintu terakhir. Pukul 23.59.

Ternyata sedang ada yang beridiri memperhatikannya lamat-lamat seolah sedang menunggu sedari tadi kehadirannya. Ya, ialah kebahagiaan sejati untuk pria ini. 

Wanita tangguh, wanita keras kepala, wanita yang banyak mengoceh, dan wanita yang atas segala kekurangannya. Tapi wanita inilah yang bisa membuatnya merasakan kasih sayang dan perjuangan.

Ia sekarang sadar dan paham. keinginannya itu bukan tentang materi atau wujud, bukan juga tentang meratapi yang telah hilang. Sebuah hal yang hanya dapat dirasakan hati. 

Keinginannya adalah tentang cinta yang dapat dirasakan dan merasakan, tentang cinta yang membuat dirinya jatuh dalam lamunan akan sebuah percaya, dan tentang cinta yang merelakan dan direlakan. Berarti sebuah kasih sayang dan perjuangan dalam mengarungi petualangan hidup.

“Kita akan selalu berjuang bersama.” Kata Wanita dengan wajah menyenangkan sambil memegang erat telapak tangan Si Pria Muda.