2 tahun lalu · 458 view · 4 min baca menit baca · Sejarah cymera_20151206_180209.jpg
Ilustrasi: irmasenja.com

Yang Tak Mau Menyerah

Mengenang Soe Hok Gie

Soe Hok Gie, intim disapa Gie, adalah satu dari sekian beberapa pentolan (tokoh) pergerakan Angkatan ’66. Angkatan ini, sebagaimana H.B. Jassin ulas dalam Angkatan ’66: Bangkitnya Satu Generasi, tak lain sebagai penamaan bagi mereka yang terlibat aktif menebar tulisan-tulisan bernada perlawanan di tahun 1966. Esai, cerpen, roman, atau berupa naskah drama, merupakan tulisan-tulisan yang mereka sebar secara kritis.

Jika kita membandingkannya dengan Ahmad Wahib, Gie pun tampil sebagia pengkritik ulung rezim Orde Lama Seokarno. Ya, meski di awal ia sangat mengagumi sosok seorang proklamator kemerdekaan ini, Gie tetap konsisten dalam memberi sikap secara adil, yakni terus bertendensi pada aras kebenaran dan kebebasan individu.

Di balik sosoknya yang berperawakan kerempeng dan agak melankolis, Gie punya segudang piranti pengetahuan yang tak banyak orang miliki. Piranti tersebut sangat mencolok, terutama dalam hal menggunakannya.Ya, tak hanya tercermin dari beragam buah pikirnya yang sangat kritis, hal itu pun terlihat jelas dalam aksi nyatanya di lapangan: aksi-aksi demonstrasi mahasiswa.

Tak ayal kiranya jika catatan hariannya yang berisi opini dan pengalaman aksi demonstrasinya diterbitkan dan diberi judul yang sangat menawan: Catatan Seorang Demonstran (LP3ES, 1983)—sebuah penggambaran yang pas atas diri seorang Soe Hok Gie.

***

Gie lahir di Kebon Jeruk, Jakarta, 17 Desember 1942. Tentang kelahirannya ini, dia menuliskannya secara singkat di awal CSD: Saya dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942 ketika perang tengah berkecamuk di Pasifik. Gie lahir dari sebuah keluarga etnis Tionghoa. Ayahnya bernama Soe Liet Piet alias Salam Sutrawan, dan ibunya Nio Hoei An.

Ayah Gie adalah seorang sastrawan terkenal di zamannya. Beberapa karya tulisnya yang telah terbit dalam bentuk novel, yakni Oeler jang Tjantik (1929) dan Jadi Pendita (1934). Ibunya sendiri merupakan sosok yang sangat penyayang dan lebih mementingkan keberlanjutan pendidikan anak-anaknya.

Dari ayahnya, Gie banyak belajar perihal dunia kepenulisan. Meski tak ada riwayat yang menyebutkan bahwa Gie banyak belajar dari ayahnya atau bakat-bakat yang diturunkannya, melainkan sekedar terinspirasi belaka. “Aku harus menulis sebab aku anak seorang penulis,” begitu ungkap Gie.

Sepanjang kiprahnya di dunia pergerakan, sedikit pun Soe Hok Gie tak pernah terlibat dalam sikap kepasrahan-diri. Apa yang diimpikannya benar sebagai benar senantiasa ia ungkapkan dan realisasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Bahkan sikap itu sudah muncul jauh di awal-awal bergelutnya ia di dunia pendidikan dasarnya.

Hari ini adalah hari ketika dendam mulai membatu. Ulangan ilmu bumiku 8 tapi dikurangi 3 jadi 5. Aku iri di kelas karena merupakan orang ketiga terpandai dari ulangan tersebut. Aku percaya bahwa setidak-tidaknya aku yang terpandai dalam ilmu bumi dari seluruh kelas. Dendam yang disimpan, turun ke hati, lau mengeras bagai batu. Kertasnya aku buah. Biar aku dihukum. Taku tak pernah jatuh dalam ulangan.

Dengan sikap yang hampir konsisten dalam segala hal ini, tak heran ketika sosok Gie dijuluki sebagai “Yang tak pernah menyerah”. Julukan ini terlukis dalam satu buku utuh menarik berjudul Mereka yang Mati Muda: Sekali Berarti Setelah Itu (Tak Berarti) Mati! (Arifin Surya Nugraha, 2008).

***

Memang, setiap perubahan selalu meniscayakan adanya pergerakan. Dan tiap gerakan, butuh setidaknya seorang pendobrak. Dalam konteks itulah, terlebih Soe Hok Gie sebagai seorang mahasiswa, memunculkan eksistensinya sebagai agen perubahan garda depan. Dan sampai kini, dirinya terus dikenang meski hanya mampu hidup dalam usia yang begitu singkat.

Tapi ingat, usia bukanlah jadi penentu abadi-tidaknya gagasan seseorang. Lagi-lagi seperti Wahib, juga tokoh-tokoh muda lainnya yang terbilang berusia singkat, Gie berusaha mengabadikan dirinya (gagasan-gagasannya) lewat dunia tulis-menulis.

Sebagai bukti kelihaiannya di dunia tulis-menulis ini, beragam karyanya berhasil terekam dalam sejarah, di samping catatan hariannya, seperti, Di Bawah Lentera Merah (Bentang, 1999), Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan, serta berbagai artikel/opininya yang dimuat harian surat kabar, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya—sekitar 35 karya ini (separuh lebih dari karya intelektualnya) selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru, dibukukan dan diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan (Bentang, 1995).

Mengingat produktifitas Soe Hok Gie di bidang intelektual tersebut, jelas kita patut membenarkan kata-kata Pram bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Melawan sebagai Sikap Diri

Nyaris dari semua tema bahasan yang diulasnya, baik melalui tulisan maupun aksi nyata seperti diskusi dan demonstrasi, Gie selalu tonjolkan sikap dirinya dalam bentuk perlawanan. Ia menulis: saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin.

Terhadap apa saja, Gia senantiasa adakan perlawanan. Mulai dari kondisi cinta yang melulu terbengkalai karena dominasi orang tua, kondisi dunia pendidikan yang membelenggu kebebasan berpikir manusia, amburadulnya gerakan mahasiswa, hingga ke taraf puncak yang jauh lebih besar: kondisi sosial-politik bangsa Indonesia.

Di wilayah cinta, Gie termasuk orang yang terus dirundung sepi karena cinta yang tak sampai. Seperti pada kondisi dunia pendidikan dan amburadulnya gerakan mahasiswa, membuat sikapnya terus-menerus berujung pada nuansa melankolis. Dan menurut catatan harinnya, selain mendaki gunung sebagai sarana menebar cintanya pada Indonesia, pun aktivitas itu ia jadikan sebagai sarana “pelarian”.

Begitulah sosok seorang Gie menampakkan eksistensinya bagi dunia hingga patut dijadikan satu contoh dalam memberi makna pada hidup. Bahwa yang muda adalah mereka yang harus melawan. Dan mati, meski dalam usia muda, tak berarti adalah mati.

Artikel Terkait