Kutinggalkan raga di puncak malam yang sunyi
Kulihat ia diam dalam ketenangan
Dengan embusan napas teratur dan seulas senyum yang damai
Yang menghiasi wajah raga

Tapi bagaimana ini bisa terjadi
Pikiran terlepas dari raga tanpa dinyana
Bahkan tak sanggup kembali pada raga 
Yang terlelap tidur dalam kedamaian
Hingga malam menggapai puncaknya

Kepasrahanlah yang akhirnya tinggal
Semua daya terbang dibawa angin malam
Hanya keikhlasan menerima yang masih tersisa
Menikmati indahnya sejuta bintang
Atau membiarkan kecemasan mengoyak indahnya malam

Malam itu kumelayang tanpa kendali
Menikmatinya adalah pilihan terbaik andai bisa memilih
Seperti déjà vu seolah menjalani yang pernah terjadi
Mengikutinya tanpa berpikir
Dan membiarkannya berjalan apa adanya, bagai aliran air

Halaman rumah tampak indah di puncak malam
Lampu-lampu taman menyempurnakan cantiknya warna azalea
Hingga embun yang menempel pada daunnya
Berkilauan bak permata
Tapi siapakah yang duduk di halaman rumahku di tengah malam?
Mengenakan jaket dengan tudung di kepala?

Kecemasanlah yang kemudian datang
Bulu kuduk yang biasanya dirasakan sang raga
Kini hanya terbayang saja dalam pikiran
Kepasrahan yang akhirnya menjadi juru penyelamat
Memunculkan keberanian membungkus kecemasan
Karena ini rumahku, kenapa mesti takut pada tamu yang tak diundang?

Aku pun menghampirinya
Mendekat dengan penuh rasa percaya
Sampai sebuah kesadaran menyentuh pikiran 
Mungkinkah ia bisa melihatku yang tanpa raga?
Ataukah ia sama sepertiku, berjalan tanpa kendali dan terduduk di sini di tengah malam?

Tiba-tiba kilatan cahaya menerpa kami
Kulihat ia menengadahkan kepala
Tepat saat kumelayang di atasnya 
Dan terlihat jelas di bawah cahaya bintang kejora
Ternyata ia tak berwajah
Tapi bagaimana denganku yang tanpa raga?
Mungkinkah aku juga tak berwajah?


Di Ujung Malam yang Kudus

Ini adalah kali kedua kupergi dari raga yang terlelap
Menyusuri jalanan sepi yang sunyi-senyap
Menikmati indahnya malam di bawah cahaya rembulan
Tanpa kecemasan dan juga ketakutan
Akankah bisa kembali pada raga
Atau berkelana selamanya meninggalkan sang raga

Seperti anak pramuka yang mengikuti jurit malam
Aku pun menyusuri jalanan seorang diri dan berdoa
Berusaha menaklukan kegelapan dan juga ketakutan
Yang dibalut pamrih mendapatkan mental pemberani
Tapi tetap saja batasan memengaruhi pikiran
Hingga ketakutan pada yang tak kasat mata
Terus melesap hingga ke dalam titik kesadaran

Bagai halimun kumelayang 
Bebas terbang dan merdeka
Inikah yang dinamakan kebahagiaan?
Kepada Hyang Manon kumemohon tuntunan senantiasa
Hingga ketakutan sirna dan arah dapat dikendalikan
Akhirnya aku benar-benar bisa terbang 
Menemukan yang namanya kebahagiaan
Bebas ke sana dan ke mari, ke kanan dan ke kiri, ke atas dan juga ke bawah

Tapi benarkah ini yang namanya kebahagiaan sejati itu?
Jika benar, ia akan kubungkus dan kubawa pulang 
Akan kubagikan pada bintang-bintang yang berkedip itu
Yang telah setia menyapa anak-anak manusia 

Akhirnya aku pun pulang dengan penuh kebahagiaan
Kulihat pintu rumahku tertutup rapat meski tak terkunci
Tapi aku lebih memilih lewat pintu belakang
Dan melesat cepat menembus pintu dari kayu jati itu

Kulihat putra-putriku masih terlelap
Di antara ragaku yang masih tertidur pulas 
Mereka memelukku dengan mesra
Segera saja kuarahkan pikiran ini menuju raga
Dengan fokus dan konsentrasi total

Satu kali aku gagal kembali pada ragaku
Dua kali aku hampir menyerah
Dan hanya bisa memandangi putra-putriku
Yang tentu masih mengharapkan kehadiranku

Akhirnya aku hanya bisa bersimpuh saja 
Menatap sendu pada ragaku sendiri
Ia tampak lelah hari ini
Menjaga suami dan anak-anak yang dikasihinya
Dan ia memang layak beristirahat malam ini

Kucoba sekali lagi pulang pada sang raga
Meski beberapa kali berusaha dan gagal
Hingga kesadaran pun menampar pikiran 
Ternyata kami tak saling memiliki

Ternyata aku ini memang hanya mengaku-aku
Merasa memiliki apa yang ada padaku
Wajahku dan ragaku
Jiwaku dan hatiku
Pikiranku dan akalku
Putraku dan juga putriku

Kesadaran itu akhirnya lebih keras lagi menamparku
Sampai sungguh-sungguh kusadari 
Aku ini benar-benar tak memiliki apa pun yang ada padaku
Bahkan kata “aku” itu sendiri 

Jiwa dan raga pun demikian
Ternyata mereka pun benar-benar tidak saling memiliki
Karena ada yang lebih berhak atasnya
Yang tak bisa dikatakan, dibayangkan dan dipikirkan
Karena Dia lebih dari itu semua

Harusnya yang ada memang hanya kepasrahan
Rasa syukur dan juga keikhlasan menjalani
Dengan raga maupun tanpa raga
Menjalankan ketetapanNYA tanpa berpikir
Dan tak lagi mempertanyakan apa pun yang terjadi

Tak harus terbang untuk bahagia
Karena kebahagiaan itu ternyata murni adanya
Kebahagiaan itu tanpa pamrih
Kebahagiaan itu bukan oleh karena suatu sebab
Kebahagiaan itu berkat
Kebahagiaan itu anugerah
Meskipun tanpa wajah

Andai kesadaran itu ada di awal
Kesunyian tentu tak akan semakin mencekam seperti malam ini
Entah sudah berapa lama kubersimpuh dalam diam 
Dan hanya bisa memandang wajah putra-putriku 
Yang ternyata bukan milikku
Hingga tiba-tiba aku pun terbangun bersama sang raga
Dengan sebuah kesadaran
Bahwa ia juga bukan milikku

Putra-putriku pun ikut terbangun di ujung malam
Mereka tersenyum dan memelukku
Penuh dengan kerinduan yang sungguh sempurna
Dan aku pun tak lagi mempertanyakan bagaimana ini bisa terjadi
Karena telah kusadari pada akhirnya
Ini semua adalah berkat dan anugerahNYA
Di ujung malam yang kudus 

(Menjelang senja di bulan Juni 2019)