SAYA jarang-jarang nulis topik seperti ini. Tapi gimana lagi, saya agak sebel, geregetan, gara-gara hari-hari ini sering melihat berbagai kegiatan virtual (webinar, live Instagram, diskusi online) yang seringkali tidak bisa membedakan antara moderator dan host.

Bukan apa-apa, sebagai peserta atau viewer saya kadang bingung, ini di poster tulisannya host tapi kok dia jadi moderator ya? Kadang juga sebaliknya, ditulis moderator padahal host.

Tambah bingung lagi ketika saya diundang sebagai tamu atau narasumber. Dihubungi panitia, “Mas, nanti ngisi di acara kami ya, nanti yang jadi moderatornya si fulan bla bla bla.” Beberapa hari kemudian posternya muncul, saya jadi narasumber dipandu oleh host. “Lho, katanya moderator, kok di poster ditulis host?” pikir saya.

Saya maunya sih fleksibel aja. Tapi kan saya bingung, bikin power point gak nih? Kalau dipandu moderator, saya bakal bikin. Tapi jika dipandu host, lucu dong kalau saya bikin. Memangnya pernah lihat Najwa Shihab, Deddy Corbuzier, Oprah Winfrey atau David Lettermen ngundang tamu, terus tamunya presentasi pakai power point?

Sebetulnya, terlalu mudah untuk membedakan antara moderator dan host. Tinggal diterjemahin aja dari asal katanya, Bahasa Inggris. Moderator itu artinya orang yang memoderasi atau menengahi. Di kamus Merriam-Webster, moderator diartikan sebagai, “One who presides over an assembly, meeting, or discussion” atau orang yang memandu pertemuan, rapat atau diskusi. Dalam diskusi online dan webinar, moderator biasanya disandingkan dengan narasumber atau pembicara.

Nah, kalau host jelas beda. Host itu artinya tuan rumah. Karena tuan rumah, maka host itu sandingannya tamu (guest), bukan narasumber atau pembicara. Itulah kenapa, di Mata Najwa, si Najwa sering memulai acara dengan kata-kata, “Selamat malam, selamat datang di Mata Najwa. Saya Najwa Shihab, tuan rumah Mata Najwa.” Agar khas Indonesia, Najwa mengganti kata host dengan tuan rumah.

Jika dilihat artinya di Merriam-Webster juga jelas, “Host is one that receives or entertains guests socially, commercially, or officially.” Artinya, host adalah orang yang menerima atau menghibur tamu, baik secara sosial, komersial, maupun resmi.

Jadi, moderator itu memandu dan menengahi, bukan penentu narasi. Dia tak boleh banyak bicara menghabiskan durasi. Kalau sekadar memantik boleh lah, menyimpulkan juga boleh. Penentu narasinya ya si (atau para) narasumber, karena dia diberi waktu lebih panjang.

Nah, kalau host lain cerita. Host justru penentu narasi. Ingin tahu posisi antara host dan guest? Bayangkan saja relasi antara tuan rumah dan tamu di dunia nyata. Tamu memang lebih terhormat, tapi tuan rumah lebih berkuasa dong.

Tuan rumah itu penentu narasi. Dia bisa mengarahkan pembicaraan. Menggonta-ganti pertanyaan seenaknya. Terserah dia, kan tuan rumah. Kalau cocok ya diundang lagi, kalau gak cocok masuk daftar hitam. Tapi kredibilitas host juga dipertaruhkan. Orang akan melihat rekam jejaknya: siapa yang diundang, apa yang ditanyakan.

Diundang host ternama merupakan suatu kehormatan, tapi dapat pula mengkhawatirkan. Banyak orang yang namanya langsung melejit gara-gara diundang host ternama. Tapi tak sedikit pula yang kedoknya terbongkar. Ketahuan belangnya.

Demikian pula dengan sebuah kasus, topik atau narasi. Yang semula tak banyak dibicarakan tiba-tiba bisa trending. Misalnya obrolan soal konspirasi dan mudik-pulang kampung yang sempat heboh. Topik konspirasi kian ramai dibicarakan setelah Deddy Corbuzier mengundang Young Lex di Podcast-nya. Gara-gara itu pula Jerinx berani nongol, ribut-ribut soal konspirasi elit global. Siti Fadilah Supari dan Mardigu WP juga makin hits gara-gara si Deddy. Begitu pula dengan istilah mudik-pulang kampung yang heboh setelah perbincangan Najwa-Jokowi di channel Narasi TV.

Di Indonesia, sebelum Youtube demikian populer, para host ternama umumnya dikenal via Televisi. Najwa, sebelum membuat platform Narasi sudah memiliki program Mata Najwa. Demikian pula Deddy, sebelum bikin Podcast #CloseTheDoor sudah populer melalui Talkshow Hitam Putih.

Demikian pula beberapa host lain di acara televisi seperti Andy F. Noya (Kick Andy), Alvin Adam (Just Alvin), Desy Anwar (Tea Time), Merry Riana (I'm Possible), Sarah Sechan (Sarah Sechan), Tukul Arwana (Bukan Empat Mata), hingga duet Sule-Andre (Ini Talkshow), Danang-Darto (The Comment), Vincent-Desta (MTV Bujang & Tonight Show), dan Indy Barends-Indra Bekti (Ceriwis).

Sementara di luar negeri kita mengenal nama-nama seperti Oprah Winfrey (The Oprah Show), David Letterman (Late Show with David Letterman), Ellen DeGeneres (The Ellen Show), Jon Stewart (The Daily Show), Jimmy Kimmel (Jimmy Kimmel Live!) dan Jimmy Fallon (The Tonight Show Starring Jimmy Fallon). Mereka tidak hanya mengundang para selebriti, tapi juga politisi, bahkan presiden termasuk Barrack Obama dan Donald Trump. Tentu saja bukan untuk seminar, tapi diajak ngobrol.

Jadi, lain kali, kalau bikin acara-acara online, tentukan dulu ya model acaranya seperti apa? Menggunakan platform apa? Pakai host atau moderator? Supaya peserta atau viewers-nya gak bingung, narasumber atau tamunya juga gak bingung. Kalau sama-sama bingung kan repot. Krik krik.

Platform Live IG misalnya, tentu lebih nyaman dan seru kalau modelnya interaksi host-guest. Ngobrol, saling nanya. Rasanya agak gimna gitu kalau Live IG pakai moderator. Ada baca CV narasumber segala, terus sesi pertama narasumbernya disuruh bicara 30 menit, setelah itu sesi tanya jawab. “Oke sekarang sesi tanya-jawab, silahkan yang mau nanya tulis di kolom komen,” kata moderator (yang harusnya host itu). Eh ternyata pertanyaannya udah kelewat jauh, dicuekin, ketutup komen-komen sip mantap keren emoticon love-love. “Yaudah karena belum ada yang nanya, saya yang nanya ya,” kata moderator yang yang bikin emosi.

Jadi, ini ceritanya pengalaman pribadi saya sebagai viewer. Curhat gitu lah. Bayangin aja coba, udah nanya bagus-bagus, pertanyaan ketutup komen-komen, terus pas sesi tanya-jawab si moderator seenak jidat bilang gak ada pertanyaan. Itulah yang terjadi ketika Live IG ‘diseminarkan’. Untung aja gak ada power point-nya.

Tentu saja platform lain berbeda. Semisal Zoom atau Google Meet yang lebih fleksibel. Bisa pakai moderator atau host. Tergantung konsep acaranya maunya gimana. Webinar umumnya menggunakan moderator, karena memberi kesempatan narasumber mempresentasikan materinya. Sedangkan diskusi online bisa pakai host atau moderator.

Asal jangan dobel-dobel. Ada host, ada juga moderator. Saya sering ketemu nih yang begini ini. Saya gak paham maunya gimana. Mungkin dibikin dobel-dobel gitu biar seru kali ya. Nah, kalau pertimbangannya itu mending dibikin model host dan co-host aja, terus mereka koordinasi, gimana caranya supaya kegiatannya seru tapi tetap kena substansinya.

Nama kegiatan juga sedikit banyak menentukan. Semisal acara “Diskusi Publik” lebih pas menggunakan moderator, walaupun dapat pula diganti peran host agar lebih santai. Tapi jika brand diskusinya “Ngobrol Santai” misalnya, agak lucu jika menggunakan moderator. Namanya juga ngobrol santai. Brand dibikin kekinian, eh acaranya jadul. Gak masuk.

Kenapa ini penting. Karena begini. Di masa pandemi ini kan kita sering bikin (atau ikutan) acara-acara online. Walaupun topiknya serius, tentu modelnya perlu diadaptasi. Interaksi dengan peserta atau penonton perlu lebih intens. Jangan sampai, narasumber bicara berjam-jam di depan layar tapi ditinggal tidur sama netizen yang budiman. Itulah, mengapa peran host penting pake banget.