Beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah tulisan yang tertulis besar-besar di sebuah plang, di depan Sekolah Menengah Atas: Katakan Tidak Untuk Seks Bebas. 

Desain tulisan itu tak menarik. Warna tulisan dan latarnya pun sudah mulai pudar. Mungkin itu sebabnya, saya baru baca setelah satu setengah tahun melintas setiap hari kerja. 

Setelah membacanya, muncul berbagai pertanyaan: seberapa besar dampak tulisan itu? Siapa yang membuatnya? Berapa biaya membuatnya--termasuk biaya rapat--jika itu dikerjakan pemerintah daerah (pemda)? Bukankah keberadaannya memperjelek pemandangan? Adakah biaya pemeliharaan?

Sulit untuk percaya kalau itu dikerjakan oleh LSM atau komunitas yang peduli terhadap isu tersebut. 

Saya menebak itu dikerjakan pemda. Dan dengan seketika, membayangkan prosesnya. Mulai dari memunculkan ide, rapat, memesan ke percetakan, sampai urusan memilih tempat untuk ditaruh. 

Bayangan itu muncul dari pengalaman mengikuti rapat-rapat yang diselenggarakan pemda. Yang sebagian besar pesertanya adalah bapak-bapak umur 40-an ke atas. 

Yang paling menarik adalah bayangan ketika mereka berbincang di rapat. Bayangkanlah bapak-bapak yang suka bercanda tentang seks, yang sebagian bangga ketika masa mudanya menjadi playboy, yang suka menggodai anak-anak PKL di kantor atau pegawai baru yang masih muda dan single, dan dengan wajah serius merumuskan kalimat sebagai nasihat ke anak muda. 

Sungguh menghibur.

Atau mungkinkah mereka membuatnya agar kelakuan masa muda tidak diikuti generasi penerus bangsa? Dengan kata lain, mereka menyesal dengan kelakuan semasa muda, dan terjebak dalam situasi sekarang dimana satu generasi bercandanya soal aktivitas bersetubuh.

Setelah membayangkan semua prosesnya, pertanyaan lain muncul, masih sebatas inikah pemikiran para pegawai di pemerintahan daerah tercinta ini? Maksud saya, apa tidak lebih baik kalau energi, waktu, dan snack rapat dihabiskan untuk membicarakan hal lain? Pengembangan ekonomi dan teknologi, misalnya. Atau kalau terlalu berat, gimana supaya pemandangan pinggir jalan terlihat indah, sampah gak bertumpuk di tepi jalan, dan masih banyak isu ringan lainnya.

Ah, urusan seks sebenarnya lebih berat karena kita gak tau kejadian sebenarnya atau peristiwa keseluruhan. Kita gak tau apa yang menimpa seseorang atau hal-hal yang bergelut di pikirannya. Kita juga gak tau, apa yang dicari seseorang atau bagaimana dia memaknai hidupnya.

Gimana kalau saya katakan, seks sebenarnya harus bebas. Dengan kata lain, tidak ada pemaksaan dari salah satu pihak. Entah itu pasangan yang sudah menikah, atau pun belum. 

Makin rumit pembahasan kalau sudah begini.

Tapi kita harus mengakui, urusan seks ini memang menarik perhatian orang-orang yang pikirannya sebatas selangkangan. Mungkin itu sudah mendarah daging. Atau, meminjam ejekan netizen, "Peduli lingkungan bukan budaya kita, budaya kita peduli selangkangan."

Masalahnya, sampai kapan pengambil kebijakan kita diisi orang-orang seperti ini? Atau usaha apa yang harus kita lakukan, bila orang-orang itu tak tergantikan?

Masalah seks sepertinya lebih baik diserahkan ke masing-masing orang. Kalau itu masih dibahas oleh bapak-bapak di pemerintahan, hanya buang-buang energi, waktu, dan biaya. Apalagi masalah per-seks-an sekarang makin beragam. 

Orang-orang di pemerintahan, menurut saya, harus segera mengubah sudut pandang. Artinya, fokus untuk mengurusi yang berdampak bagi banyak orang. Toh kalau si A dan si B, melakukan hubungan seks di rumahnya atau di hotel tidak mengganggu masyarakat satu RT. 

Biarlah masalah-masalah seperti itu, diurus Rumah Tangga masing-masing.

Kalau konteksnya tadi untuk mengedukasi anak-anak sekolah, sudah saatnya diberi pendidikan seks yang benar. Zaman sekarang masih main slogan, jargon, atau apalah semacam itu, anak-anak muda gak akan tertarik. Kalau memang orang di pemda gak ada yang kompeten, lebih baik belajar lagi.

Materi belajar tersedia banyak di internet. Bahkan sudah banyak netizen berbagi pengalaman mendidik anaknya. Sekarang tinggal bagaimana orang-orang pemerintahan merumuskan agar materi itu dicerna anak-anak dengan baik.

Itu kalau konteksnya ingin memberi pelajaran bagi anak-anak sekolah. Kalau hanya "asal ada" mending buat tulisan lain atau kampanye lain. Kekhawatiran saya, jangan-jangan itu hanya usaha agar terlihat ada kerjaan. Kalau alasannya itu, hanya ada satu kata: viral.

Kita, orang-orang yang terganggu dengan keadaan semacam itu, meramaikan pembicaraan dengan isu lain. Perkembangan teknologi, pengembangan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan isu-isu "penting" lainnya. Kita mulai menulis isu-isu itu di media sosial. Kita mulai mengajak orang lain agar peduli.  

Nanti kalau sudah ramai, pasti pejabatnya membawakan isu itu ke rapat. 

Memang usaha itu gak gampang. Sebab hari-hari belakangan ini, gak banyak orang yang tertarik dengan isu-isu itu. Bisa viral dengan hanya joged-joged aja, itu lebih penting daripada mengetahui kondisi lingkungan sekitar. Jangan-jangan, nanti kita joged-joged juga dengan latar hutan yang gundul, atau sungai yang penuh dengan sampah.

Yang lebih parah, kalau bapak-bapak itu lebih suka viral karena joged dibanding viral karena prestasi.