2 tahun lalu · 222 view · 6 menit baca · Pendidikan dscf5774.jpg
Pemuda dan Literasi: yang muda yang membaca

Yang Muda yang Membaca

Barangkali tidak berlebihan jika Indonesianis kenamaan Benedict Anderson menyebutkan bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan buah dari "Revolusi Pemuda". Dalam disertasinya, The Pemuda Revolution: Indonesian Politics 1945-1946, Anderson menempatkan pemuda pada posisi dominan dalam sejarah perjuangan Indonesia.

Meskipun banyak polemik di sana-sini mengenai peran perjuangan kaum muda, namun realitas historis memang telah menunjukkan bahwa perkembangan kehidupan kebangsaan di Nusantara tidak pernah sepi dari kiprah dan peranserta kaum muda.

Dalam hal ini perlu diingat bahwa keterlibatan para founding fathers seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, dan lain-lain juga diawali dari perjuangan masa mudanya dalam merintis persatuan dan kesatuan melalui organisasi-organisasi yang didirikannya.

Demikian pula bila kita melakukan kilas-balik menyimak perjalanan sejarah sebelumnya. Terutama menengok kiprah generasi “Soempah Pemoeda” sebagai pelopor awal lahirnya semangat nasionalisme dan kebangsaan. Statemen Sumpah Pemuda tentu bukanlah kata-kata kosong yang muncul dengan sendirinya. Akan tetapi, secara historis merupakan konsensus suatu generasi yang lahir lewat proses sejarah yang panjang.

Hal ini akan tampak dengan jelas apabila menyimak potret sejarah pergerakan kaum muda Indonesia dari waktu ke waktu yang merupakan bagian integral dari pergerakan nasional bangsa Indonesia pada umumnya. Karena itu pula, pernyataan Ben Anderson tidaklah berlebihan bahwa peran kaum muda sangat sentral dan fenomenal dalam perjuangan mewujudkan kemerdekaan Indonesia.

Pertanyaannya kemudian yang relevan dengan situasi saat ini adalah bagaimana semangat Soempah Pemoeda itu diaktualisasikan dalam konteks kekinian?

Reaktualisasi Soempah Pemoeda

Setidaknya, ada tiga fase perjuangan yang dilakukan bangsa Indonesia dalam meraih dan mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Pertama, fase perjuangan fisik yang dimulai dari perlawanan bersenjata yang dikumandangkan dari berbagai penjuru tanah air. Peperangan dan pertempuran bersenjata terjadi di mana-mana dalam waktu yang cukup lama, namun hasilnya tidak cukup signifikan.

Kedua, fase kebangkitan nasional yang ditandai munculnya kesadaran bersama warga bangsa untuk memulai perlawanan yang lebih terorganisir. Munculnya organisasi Boedi Oetomo pada 1908 dan diikuti organisasi-organisasi lainnya menjadi cikal bakal pergerakan nasional untuk mewujudkan Indonesia merdeka. Ketiga, fase nasionalisme Indonesia sejak 1928 dengan Soempah Pemoeda sebagai tonggak awal perjuangan nasional yang lebih terorganisir.

Deklarasi Soempah Pemoeda menjadi pembeda dari fase-fase perjuangan sebelumnya setidaknya karena dua hal utama. Pertama, munculnya kesadaran berbangsa secara paripurna dengan tekad "Satu Bangsa, Satu Tanah Air, dan Satu Bahasa Persatuan".

Kedua, perjuangan kemerdekaan dilakukan tidak  mengandalkan kekuatan fisik semata, namun terlebih dengan menempatkan kekuatan "akal" dan diplomasi serta kerangka juang yang lebih bersifat organisasional. Dalam konteks inilah modal intelektual menjadi garda depan keberhasilan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Kita tentu tidak asing lagi dengan Soekarno, Hatta, Soepomo, Mohammad Yamin, Tan Malaka, Sutan Sjahrir, Agus Salim, Mohammad Natsir, Ki Hadjar Dewantara, dan para "Bapak Bangsa" lainnya. Tanpa kiprah dan peran mereka, mustahil Indonesia merdeka akan menjelma.

Meskipun harus diakui bahwa revolusi fisik merupakan tonggak awal perlawanan bangsa kita terhadap koloanialisme, perjuangan para cendekia telah memberi bukti nyata bahwa andil mereka sangatlah besar dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Kini, 28 Oktober 2016 saat yang tepat untuk melakukan refleksi sekaligus merekontekstualisasi nilai-nilai dan semangat Soempah Pemoeda.

Momen 28 Oktober karenanya tidak cukup hanya diperingati sebatas seremonial belaka, tapi harus menjadi titik tonggak untuk melakukan refleksi atas kiprah dan peranan yang perlu diemban dan dikedepankan kaum muda untuk kemajuan bangsa.

Literasi Adalah Kunci

Salah satu argumen yang tak terbantahkan mengapa para "Bapak Bangsa" berhasil meramu, meracik, dan mewujudkan persatuan Indonesia  untuk kemudian membuahkan Indonesia merdeka adalah karena kapasitas intelektualitas mereka.

Kita tentu mafhum bahwa para founding fathers memiliki keunggulan dan penguasaan keilmuaan masing-masing. Soekarno adalah seorang insinyur, Bung Hatta adalah ekonom, Soepomo ahli hukum dan tatanegara. Ki Hadjar Dewantara adalah ahli bidang pendidikan.

Mereka adalah para cendekia yang masing-masing punya peran penting dalam menyemai benih Indonesia merdeka. Meminjam istilah Antonio Gramsci, mereka para cendekia itu adalah para "intelektual tukang" yang mampu menjawab dan  mentransformasikan intelektualitasnya untuk menghadapi tantangan kehidupan yang lebih nyata.

Lantas, tantangan apa yang harus kita hadapi sekarang? Dalam berbagai kesempatan, Presiden Jokowi menyebutkan setidaknya ada dua tantangan terberat yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini, yaitu angka pengangguran dan tingkat kemiskinan yang relatif tinggi. "Angka pengangguran kita masih di atas 7 juta. Sementara tingkat kemiskinan berkisar antara 10 - 11 persen," kata Jokowi dalam suatu kesempatan.

Untuk menghadapi tantangan bangsa yang berat ini, sosiolog  Selo Soemardjan mengingatkan pentingnya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dengan meningkatkan kemajuan pendidikan sebagai sokogurunya. Karena itu, jika kita melakukan rekontekstualisasi semangat jihad itu, maka sudah saatnya menafsir ulang makna "Resolusi Jihad" dari medan perang ke "medan pendidikan".

Dari angkat senjata beralih ke buku dan pena, dari resolusi ke literasi. Terlebih jika kita mengingat masih rendahnya minat baca buku yang dimiliki bangsa ini dimana Survei UNESCO menyebutkan Indonesia berada di peringkat terrendah dalam dunia literasi. Padahal kita tahu bahwa tingkat literasi berbanding lurus dengan tingkat kemajuan pendidikan. Sementara kemajuan pendidikan akan linier dengan tingkat kemajuan suatu bangsa.

Yang Muda yang Membaca

Rendahnya budaya literasi yang dimiliki bangsa ini tentu menjadi tantangan tersendiri yang perlu disikapi secara serius. Hal ini setidaknya terkait dua alasan penting yang satu sama lain saling berhubungan sehingga upaya-upaya serius perlu segera dilakukan untuk mengantisipasinya.

Pertama, fakta sejarah menyuguhkan bukti-bukti bahwa budaya literasi erat kaitannya dengan kemajuan sebuah peradaban bangsa. Dengan kata lain, jika kita berharap bangsa ini menjadi bangsa yang maju dan unggul, maka budaya literasi menjadi salah satu faktor kuncinya. Kedua, budaya literasi yang dimiliki sebuah bangsa akan berbanding lurus dengan kualitas SDM dan sekaligus menjadi cermin dari nilai daya saing yang dimiliki sebuah bangsa.

Mengingat masih rendahnya budaya literasi, kini pemerintah mengupayakan program terobosan dengan mempromosikan Gerakan Indonesia Membaca, antara lain melalui program Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Semangat GLS dapat disimak dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud)  Nomor  23 Tahun 2015. Program GLS dirancang untuk membiasakan siswa-siswi agar gemar membaca dan menulis.

Melalui program ini, setiap siswa diwajibkan setiap hari untuk membaca buku non-pelajaran yang sudah diverifikasi guru masing-masing selama lima belas menit sebelum pelajaran formal dimulai.

Di level Jawa Barat, program GLS antara lain diterjemahkan dalam kegiatan WJLRC (West Java Leaders Reading Challenge). WJLRC ini semacam dorongan sekaligus tantangan untuk siswa agar lebih semangat dalam mengikuti kegiatan literasi. Tim WJLRC Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat sudah menyiapkan langkah-langkah dan strategi pencapaiannya secara rinci.

Pada minggu pertama dan kedua, siswa diharuskan membaca buku yang sudah terverifikasi oleh orang tua dan guru. Kemudian di akhir minggu kedua siswa ditugaskan untuk menulis review buku yang telah dibacanya. Minggu ketiga guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan buku yang dibacanya seraya melakukan diskusi kelompok dengan memilih 2 buku yang paling menarik untuk didiskusikan.

Selanjutnya, pada minggu keempat, guru membuat rekapitulasi hasil bacaan siswa dan portofolio peserta WJLRC untuk dikirim ke website literasi.jabarprov.go.id sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan.

Kegiatan WJLRC telah dilaksanakan sejak September 2016 melibatkan guru-guru dan siswa-siswi dari tingkat SD, SMP dan SMA/SMK di Jawa Barat dan digawangi langsung Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Menurut pantauan saya ketika melakukan survei dan "Safari Literasi" ke sejumlah sekolah di Kota Banjar, program GLS-WJLRC ini sangat progresif untuk mendorong minat baca siswa-siswi di sekolah.

Namun begitu, menurut hemat saya ada baiknya program GLS maupun WJLRC juga melibatkan kalangan santri dan pesantren, tidak hanya di sekolah-sekolah formal. Alasannya tentu saja agar budaya literasi sebagai sokoguru kemajuan pendidikan berjalan lebih massif.

Sehubungan dengan program GLS itu pula, saya bersama Ruang Baca Komunitas (RBK) Kota Banjar mengadakan kegiatan "Safari Literasi" ke sekolah-sekolah dan pesantren yang ada di Kota Banjar.

Safari Literasi yang kami lakukan tidak lain dan tidak bukan adalah juga merupakan dorongan dan dukungan yang kami berikan untuk program Gerakan Indonesia Membaca, GLS maupun WJLRC baik di sekolah maupun di pesantren dengan mengambil momentum yang relevan, seperti Hari Literasi Internasional, Hari Bahasa, dan peringatan Hari Sumpah Pemuda.

Dari awal September hingga menjelang akhir Oktober 2016, Ruang Baca Komunitas  sudah melakukan Safari Literasi di 21 sekolah dan pesantren di Kota Banjar. Kegiatan Safari Literasi ini akan terus kami lakukan hingga 28 Oktober 2016 dengan momentum spesial menghidmati Hari Sumpah Pemuda. Untuk itu, kami juga membuat tema spesial, "Yang Muda Yang Membaca" dengan harapan dapat menggugah kaum muda untuk lebih bersemangat dalam kegiatan literasi.

Budaya literasi atau budaya membaca dan menulis diakui menjadi dasar pijakan utama kemajuan bidang pendidikan. Padahal kemajuan pendidikan adalah parameter utama bagi kemajuan suatu bangsa. Karena itu, tidak dapat disangkal bahwa budaya literasi merupakan kunci penting bagi kemajuan bangsa.

Jika dulu para "Bapak Bangsa" ramai-ramai menyemai intelektualitas mereka untuk perjuangan kemerdekaan bangsa, maka kini saatnya momentum Sumpah Pemuda dapat menjadi tonggak penting bagi kaum muda untuk meningkatkan kapasitas dan kapabelitasnya demi menggapai keunggulan bangsa.

Banjar, 28 Oktober 2016