Berangkat dari sebuah kepesimisan terhadap hidupnya, Tirjo berniat sowan ke Mbah Sastro. Orang yang dihormati sebagai kyai bagi sebagian, disambati masyarakat dengan logika perdukunan, dan mayoritas memperlakukan sebagai orang gila dalam peta sosialnya. Agak aneh memang, tapi nyatanya begitu.

Tirjo yang sudah pada titik splits karena beban hidupnya sadar satu hal, bahwa masalahnya yang sedang dihadapi bukan lagi pada ranah psikologi dan mental, karena ini lebih intim ke arah substansi kehidupannya. Keputusan tidak populer pun dia ambil, dia jadikan akumulasi titik tengah dari pencariannya; Sowan ke Mbah Sastro yang olehnya dicap gila untuk kemudian beradu argumen.

Sederhananya, "merasa gila harus dibenturkan dengan hakikat gila, Mbah Sastro-lah kesimpulannya." Batin Tirjo.

"Aku sudah bikin dua cangkir kopi dan menunggumu sedari pagi, Anak muda! Duduklah." Kata Mbah Sastro.

Tirjo heran luar biasa melihat pemandangan itu ketika sampai di rumah Mbah Sastro. Tersenyum dia sembari menyimpan keheranan yang tidak terjamah akal sehatnya, dan berusaha meyakinkan diri dalam hati, "Ah, Tidak mungkin Mbah Sastro sudah dari pagi duduk di teras rumahnya dan menungguku. Orang gila mana yang percaya dengan orang gila."

"Tidak usah kau heran, diam dan duduklah sambil nyeruput kopi yang kusediakan. Terserah nanti kau sebut ini fatwa atau ceramah tiban. Sudah banyak anak muda gelisah sepertimu yang datang padaku dengan ketidakmengertian dan pulang dengan kebingungan." Tandas Mbah Sastro, sebelum sempat Tirjo meletakkan pantatnya pada tikar.

"Bertanyalah secara spesifik, itu yang akan kujawab." Kata Mbah Sastro, bak Google yang siap disisipi keyword.

Tirjo yang bingung, spontan bertanya dengan agak takut, "Saya sedang ragu dengan konsep kehidupan yang saya jalani. Bagaimana definisi hidup, yang sebenar-benarnya, Mbah?"

"Kamu kemari hanya untuk menanyakan kegelisahan yang menggelisahkanku terhadap anak muda modern semacam itu, Nak!! Tidakkah merasa bahwa ketika kau mulai mencoba mencari definisi tentang hidup, kau hanya akan mengkotak-kotak kehidupan dengan definisi, dan merapikannya berjejer dengan definisi tentang hidup yang lain?"

"Bukankah ketika sudah kau temukan definisi hidup yang menurutmu pas, di situlah eksplorasi tentang hidup berhenti? Kemudian hidupmu menjadi sangat kotak artifisial bak tembok statis, yang akhirnya definisi hidup yang kaku itu tidak lagi pernah menyapa segala kemungkinan?"

"Jangan-jangan kau terjebak pola pikirmu, sama ketika kau menggoreng tahu tempe tanpa kau bolak-balik. Satu sisi gosong, satu sisi matang tidak sempurna? Satu sisi kau anggap definisi hidup penting, di lain sisi banyak probabilitas yang mengambang bebas dan kau biarkan?"

"Pasti kau keseringan nonton orang bijak yang bilang hidup adalah begini, hidup adalah begitu, lalu kau sikapi taken for granted dengan dalih; ini aku banget? Lupakanlah. Ini tidak sesederhana tulisan tentang definisi hidup yang ditulis dengan huruf yang sangat microsoftism. Dengarkan goin' where the wind blows-nya Mr Big. Kau yang lebih tau potensimu."
"Dengar, Nak! Definisi hidup bukan jawaban!!" Panjang lebar Mbah Sastro bicara, duduk bersila dengan kepala menunduk penuh misteri.

Tirjo yang semakin terpecah belah, bertanya dengan ragu dan tanpa dasar, "Lalu apa yang bukan jawaban, Mbah??"

"Ngook" Terdengar suara Mbah Sastro ngorok, ternyata dia tertidur. Duduk, dan benar-benar tertidur.

"Ah!! Gila!!" Umpat Tirjo.