Pengusaha
1 month ago · 17903 view · 4 menit baca · Politik 79964_64118.jpg
YouTube

Yang Muda Makin Berjaya

Generasi muda selalu disebut generasi harapan bangsa. Generasi yang senantiasa dikaitkan dengan suatu perubahan. 

Namun, kenyataan generasi muda masih sering juga dipinggirkan dan dianggap tidak tahu apa-apa, seperti belum layak memimpin apalagi mengerti politik yang selalu menjadi urusan orang tua selama ini. Ketakutan ini sepertinya terus dipertahankan, dengan cara dipupuk dan disiram dengan sempurna oleh masyarakat.

Ada pertanyaan sederhana, benarkah bangsa ini adalah bangsa besar? Karena sebagai bangsa yang selalu disebut-sebut bangsa besar, idealkah negeri ini dipenuhi orang-orang yang paranoid akan kebangkitan generasi muda sebagai generasi pembawa perubahan?

Lihat saja peran generasi muda dalam partisipasi politik saat ini. Terlihat masih sangat rendah. Pencerdasan dan kesadaran politik nyaris tidak ditemukan, baik di dunia pendidikan maupun di masyarakat. 

Generasi emas harus belajar sendiri alias otodidak melalui organisasi kemahasiswaan atau organisasi sosial yang ada untuk perlahan-lahan paham dan sadar akan politik, walaupun tidak menjamin mereka sadar dan paham politik.

Wajar saja jika masih banyak generasi muda menjadi malas dan enggan berpolitik, karena kesan buruk lebih besar dibanding kesan baik. Seolah selalu saja yang hadir hanya tawaran kepentingan dan kekuasaan yang lahir dari politik. Saat ini banyak lahir generasi yang menunjukkan kekesalan dan kebencian terhadap politik yang jahat. Namun haruskah kondisi ini terus berjalan?

Lahirnya kaum muda sadar politik menjadi bentuk kebangkitan utama yang harus dilahirkan di setiap daerah di Indonesia. Kaya akan seni dan budaya sepatutnya menjadi alasan bahwa keanekaragaman ini menjadi pendorong semangat semua orang membantu melahirkan dan memberikan kesempatan sebesar-besarnya bagi pemuda-pemudi Indonesia dalam membangun negara dengan sadar politik.

Lahirnya PSI 

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) merupakan partai politik yang baru didirikan pasca pemilu tahun 2014 lalu. Uniknya, partai ini bergerak, melaju dengan target partisipan yang berasal dari kaum milenial alias anak muda.

Partai ini membawa semangat solidaritas, pluralitas beragama, suku, dan bangsa. Partai ini menjamin akan mengisi tokoh-tokoh partai dengan anak muda dan tidak ingin adanya "bekas" politisi partai lain yang memasuki partai ini. 

Partai ini juga tidak mau bertumpu kepada seorang tokoh untuk mengangkat nama partai, seperti partai politik lain kebanyakan. Membawa semangat transparansi sumbangan finansial, khususnya memisahkan pengaruh bisnis dari operasional partai.

Kehadiran PSI dalam kacamata luas menjadi warna baru di tengah kebosanan generasi zaman now berbicara bahkan mengambil sikap dalam berpolitik. Pro dan kontra yang hadir karena sering dianggap lantang dalam bersikap menjelang Pilpres 2019, menunjukkan partai yang digawangi Grace Natalie ini begitu bersemangat karena diisi oleh anak-anak muda.

Benar atau salah, sikap PSI penting untuk dikritisi mengingat keberadaannya yang masih balita jika dibandingkan partai-partai yang didominasi oleh senior atau partai yang sudah ada semenjak zaman old. Apa pun hasil nantinya di 2019, tepatnya di Pemilu, setidaknya partai ini tetap menjadi sejarah semangatnya anak-anak muda dalam menyiapkan generasi politik yang berbeda.

Harapan

Ketika negeri yang kaya akan sumber daya alam dan sumber daya manusia dipenuhi dengan rasa menghargai dan mencintai, jelas menjadi pendorong semangat untuk lahirnya kebangkitan besar. Harapan kemajuan dan kebangkitan tidak layak hanya disebut sebuah impian belaka, namun menjadi keharusan dan kenyataan.

Pencerdasan secara politik yang bertujuan membuat masyarakat, khususnya generasi muda, lebih sadar politik, menjadi syarat penentu bahkan utama. Berbagai penyakit semisal alergi politik harus dihapus, minimal diobati, atau perlahan-lahan diterapi terus-menerus agar tidak menjadi penyakit yang menggerogoti bangsa ini.

Semboyan yang muda yang berkreasi atau yang yang muda yang berjaya menjadi awal yang baik sebagai titik awal penyemangat dalam menerjemahkan kebangkitan di negeri ini. Bukan menjadi sebaliknya, seperti yang menjadi ketakutan bagi para pemimpin di negeri ini yang merasa dirinya bukanlah generasi muda.

Tentu idealnya masyarakat mendorong semua orang paham dan sadar politik, khususnya generasi muda, sehingga membentuk sebuah kekuatan yang perlahan-lahan bisa mengubah persepsi buruk terhadap politik. Ruang-ruang diskusi harus terus dihidupkan menjadi udara segar yang selalu dirindukan guna melahirkan peta-peta baru di pikiran generasi muda untuk selalu kritis dalam berpolitik.

Berpolitik juga jangan dianggap hadir selama pemilu atau saat tertentu, namun setiap waktu adalah waktunya belajar setiap individu generasi muda haus akan pemahaman politik.

Alangkah indah dan bahagianya negeri ini jika pendidikan politik sudah mulai disisipkan atau menjadi mata pelajaran khusus di dunia pendidikan. Minimal di perguruan tinggi, para akademisi memberikan semangat positif, bukan dengan cara yang kaku dan tidak membumi sehingga mendorong keinginan mahasiswanya memahami politik dalam konteks yang lebih luas dan benar, bukan diterjemahkan setengah-setengah atau sepenggal-sepenggal.

Partai politik harusnya memiliki kepedulian dan berperan serta dalam mencerdaskan bangsa .Tidak hanya sibuk mengejar keuntungan di musim-musim pemilu dengan mendulang suara agar dipilih sebagai partai berkuasa, namun juga mencerdaskan masyarakat, khususnya generasi muda. Jangan sampai melahirkan dosa-dosa masa depan karena keangkuhan dan ketidakpedulian

Media massa juga sudah saatnya bukan menjadi kendaraan politik bagi kepentingan partai politik. Media menjadi sarana pendidikan yang mencerdaskan bagi masyarakat, termasuk pendidik politik, sehingga bisa membuka mata dan hati masyarakat serta generasi muda untuk lebih memahami pentingnya kesadaran politik guna membangun bangsa dan negara.

Media sosial juga memiliki peranan penting melahirkan semangat-semangat positif, tidak hanya semangat kritik yang terkadang kebablasan, atau yang sering terjadi menyebar kebohongan dan kebencian.

Setidaknya, dengan pendidikan politik, perlahan-lahan kita mengubah wajah demokrasi. Tidak mudah, biarlah perlahan tapi pasti. Semua hal berawal dari mimpi, karena tanpa mimpi bisa saja kita kehilangan segala-galanya.