Penulis
2 bulan lalu · 65 view · 4 min baca menit baca · Wisata 66381_27633.jpg
Dok. Pribadi

Yang Mengharap di Tapal Batas

Border should not be a barrier, but a bridge which helps bring prosperity to both sides. ~ Narendra Modi, Indian Politician

Mengalir ibarat keluarnya bayi dari rahim. Menderai membentangkan urat kehidupan bagi Putussibau, Sintang, Sekadau, hingga Sanggau. Apa yang Greg Garrad dalam Eco-criticism sebut sebagai cornucopias (persediaan yang melimpah).

Sungai representasi peradaban. Dokumen lakon manusia merumuskan hembus nasibnya. Sungai aliran hidup. Seperti Herman Hesse yang merenungkan sungai sebagai spiritualitas; memoar manusia. The river is everywhere at once, at the waterfall, at the rapids, in the sea, in the mountains... 

Siang itu, pesawat yang telah melambungkan kami mulai letih. Pelan ia bergerak menyelesaikan ketinggian. Awan putih tegak melepasnya. Saat kian menukik mendekati bumi, perlahan lekuk Kapuas pun lenyap. Dan hilang bersama kami menyentuh tanah khun tien.

Udara panas menyapa dengan sengatnya. Cuaca Bandara Supadio lebih dari 30 derajat. Kota Khatulistiwa ada dalam anomali. Gerak semu matahari di garis ekuator kadang menimbulkan panas kulminasi, sesaat kemudian tiba-tiba mengirimkan hujan sebagai kejutan.


Sebelumnya bandara di sisi selatan Pontianak ini bernama Sei Durian. Pontianak sendiri, selain kaya akan sumber daya alam, juga melimpah dengan macam cerita klenik pula legenda. Tentu yang terkemuka adalah kisah penyebar Islam, Abdurrahman Alkadrie, yang berinteraksi dengan dedemit Sungai Kapuas.

***

Tidak ada orang yang pernah melangkah di sungai yang sama dua kali. Begitu kata Heraclitus, karena sungai terus mengalir dan berubah. Dan kami makin menjauh meninggalkan Kubu Raya, melewati ilalang, rawa, rumah kayu dengan pekarangan sawit tua dan tentu badan Sungai Kapuas yang sebelumnya tampak meliuk-liuk dari udara.

Seperti babi piaraan yang dibiarkan lalu-lalang. Kami tinggalkan metropolitan Pontianak begitu saja. Tujuan kami sebuah kota yang berhadapan langsung dengan negeri jiran; Sanggau.

Kabupaten Sanggau berada di tengah-tengah Kalimantan Barat. Persis di jalur perlintasan Malaysia Timur/Sarawak dan Ketapang, juga Sekadau dan Kubu Raya.

Perjalanan menuju Sanggau dari Pontianak hampir empat jam. Di dua jam pertama, kami tiba di Simpang Ampar. Di sana, selain rehat makan, kami mencicipi tampoi, buah endemis yang mirip manggis dengan kulit cokelat muda tebal.

Berikutnya, lebih kurang satu setengah jam, kami tiba di Sanggau. Tak banyak akomodasi di kota ini. Kami menepi di satu penginapan yang disulap dari rumah toko di Jalan Sudirman. Biasanya hotel ramai pada hari kerja, karena banyak sales dari Pontianak yang menginap. Begitu jelas resepsionis.

Sanggau memang tidak untuk tujuan wisata. Meski begitu, destinasi tidak selalu tentang tempat wisata, bisa juga cara baru kita untuk melihat sesuatu. Kata Henry Miller: One’s destination is never a place, but a new way of seeing things.

Setidaknya, tak jauh dari kota, ada perbukitan di mana air terjun Pancur Aji berada. Air terjun ini destinasi andalan warga Sanggau. Letaknya persis di pinggiran ilir Sungai Kapuas. Lagi, menurut cerita, air terjun ini pada zamannya tempat pertapaan yang dihuni banyak makhluk tak kasat mata.


Saat kami menyambanginya, jalan setapak menuju air terjun setinggi kurang lima meter itu lengang. Bahkan ketika kami menaiki jenjang tangga tanah, lalu turun mencelupkan kaki pada air jernih. Batu-batu yang menampilkan lumut hijau kuning itu sangat licin.

Visual alam yang jarang kami temui. Belum lagi pohon meranti kulit merah yang memayungi pundak sungai. Keberadaannya membuat kami bergumam heran. Jelang sore, dua remaja pengunjung datang lengkap membawa alat mandi.

***

Hari berikutnya, kami kian mendekat dengan tapal batas. Sebelum sampai di Entikong, kami singgah di Balai Karangan. Sayang, musim durian telah usia. Kami tak bisa mencicipi kelezatan durian Balai Karangan yang sudah terkenal sejak dulu.

Kami berdiri di PLBN/Pos Lintas Batas Negara Entikong. Terpaut beberapa meter dari Pos Imigresen Malaysia. 

PLBN Entikong dibangun berlanggam arsitektur lokal. Atapnya berbentuk Rumah Panjang yang disebut juga betang lengkap dengan perisai talawang atau tameng. Pada talawang dipahatkan ukiran burung Tinggang, yang oleh Suku Dayak dianggap burung suci.

Berada di titik perbatasan Indonesia-Malaysia, tampak menganga ruang ketimpangan. Meski saat ini pembangunan di perbatasan telah dan sedang digiatkan, namun dalam hal penyediaan sarana sosial ekonomi saudara di Malaysia jauh unggul di depan. Termasuk layanan kesehatan.

Jarak Kecamatan Entikong dengan Tebedu, distrik di negara bagian Serawak Malaysia hanya 15 menit. Tak heran warga di sini pun lebih mudah mendapatkan barang kebutuhan buatan Malaysia. Di wilayah bagian jiran terdapat beberapa toko kulakan yang tentu saja sebagian besar penyumbang keuntungannya adalah warga Indonesia di Entikong.

Upaya pembatasan barang yang dibeli dari Tebedu pun dilakukan. Namun apa daya, demi urusan perut, penyelundupan kecil-kecilan melalui jasa yang warga menyebutnya ngaleng seolah dianggap tak ada. 


Pasokan barang dalam negeri yang lebih mahal dan stoknya terbatas jadi alasan. Meski begitu, untuk produk seperti pakaian jadi, banyak warga Malaysia lebih senang membeli dari Pontianak, terutama busana muslimahnya yang dianggap lebih trendy.

Referensi

Artikel Terkait