Penulis Lepas
1 bulan lalu · 293 view · 5 menit baca · Filsafat 23011_17299.jpg
Pexels

Yang Mengenal Diri Sendiri Niscaya Mengenal Tuhannya

Banyak dari kita yang berjalan di muka bumi, merasa bangga dengan apa yang dimiliki, merasa cepat puas akan segalanya, lantas lupa untuk berhenti berlari barang sebentar saja, lalu tanyakan sebuah pertanyaan paling mendasar seperti: “Siapakah aku?”.

Tanpa mengetahui siapa diri kita, manusia cenderung memiliki masalah dalam mengatasi fitnah ataupun pujian. Jika orang lain menjustifikasi kita sebagai pribadi yang buruk, sebenarnya tidak ada halangan sama sekali yang mencegah kita untuk menolak menelan penilaian mereka secara mentah-mentah, betapa pun salah, ekstrem, atau tidak begitu ramahnya mereka.

Hal ini akan membuat kita kian tak berdaya di depan pengadilan opini publik. Kita akan selalu bertanya kepada orang lain apa yang pantas kita dapatkan, bahkan sebelum kita mencari jawabannya sendiri. Sebab, ketika kita tidak memiliki suatu penilaian yang independen tentang diri sendiri, maka kita akan selalu haus oleh pujian yang datang dari luar, lalu tepuk tangan penonton akan menjadi lebih penting dari segalanya.

Kemudian kita akan selalu bersusah payah, berusaha setengah mampus untuk melakukan aksi yang mana lebih disukai orang banyak. Kita akan menertawakan lelucon yang tidak lucu, tidak kritis menerima konsep sampah yang sedang populer, dan—dengan sangat disayangkan—mengabaikan potensi bakat terbaik yang bisa membuat kita mencapai kebahagiaan batiniah. 

Kita akan selalu menjadi penghamba komentar publik, lalu terus-menerus mengecek apa yang masyarakat inginkan dari kita, alih-alih berkonsultasi dengan orang yang paling kita percayai seluruh dunia, yakni: diri kita sendiri.

Maka dari itu, mulailah berdamai dengan diri sendiri. Karena setelah melakukannya, kita akan menjadi pribadi yang tidak lagi haus akan pujian, tidak lagi peduli oleh segala rupa kenegatifan, lantas menjadi jauh lebih orisinal dalam melahirkan setiap buah pemikiran. Kita akan lebih berseni dalam mengetahui orang-orang seperti apa yang pantas untuk dimasukkan dalam lingkaran pertemanan.

Pada zaman Yunani Kuno, Socrates dikenal akan pernyataannya: “Hidup yang tidak pernah dieksamen, adalah hidup yang tak patut untuk dijalani.” Ketika diminta sebuah petuah yang lebih spesifik dari cakupan seluruh ajaran filsafatnya, Socrates hanya menjawab: "Kenali dirimu sendiri."

Nah, demi merayakan pengenalan diri sendiri, cobalah jawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

• Apakah aku adalah roh yang sedang terkurung di dalam tubuh, ataukah aku hanyalah tubuh yang sedang membungkus roh?

• Apakah aku memang memiliki roh?

• Ataukah jangan-jangan roh itu tak lebih dari sekadar manifestasi kesadaran yang dihasilkan oleh lecutan-lecutan elektrokimia, yang sedang terjadi di dalam otak semata?

• Jika aku mati—tentu otak pun akan mati—lalu akan ke manakah perginya roh itu?

• Adakah roh hanyalah ilusi belaka?

• Lantas, siapakah aku?

Supaya bisa lebih jauh memahami pertanyaan "Siapakah aku?”, mari kita intip kembali sebuah eksperimen pikiran yang ditulis oleh Plutarkhos, seorang filsuf Yunani yang hidup pada tahun 46 - 120 Masehi.

Dikisahkan, Theseus adalah seorang raja dari Athena yang baru saja berhasil membunuh seekor Minotaur—monster berbadan manusia, berkepala banteng—di Pulau Kreta, lalu pulang membawa kejayaan kembali ke kotanya menggunakan sebuah kapal.

Untuk menghormati aksi heroik Theseus, dalam kurun waktu 1000 tahun, masyarakat Athena berusaha untuk tetap mengagungkan kapal legendaris milik Theseus tersebut, dengan cara membiarkan ia berlabuh selamanya di dok pelabuhan kota mereka. Dan satu kali dalam setiap tahun, para pelaut Athena akan memperingati peristiwa bersejarah itu dengan cara berlayar ke Pulau Kreta menggunakan kapal tersebut.

Seiring waktu, setiap kali papan dan kayu pembentuk kapal itu lapuk atau rusak, maka ia akan selalu diganti dengan papan dan kayu baru yang sama persis, baik ukuran maupun bahan. Begitu saja seterusnya. Hingga akhirnya pada satu titik, tak ada lagi satu pun papan atau kayu orisinal (bawaan) yang tersisa.

Ini adalah sebuah contoh dari paradoksikal filsafat yang fokus pada kesinambungan identitas. Bagaimana bisa suatu objek tetap mempertahankan identitasnya, kendati segala bagian pembentuknya telah diperbarui?

Mari kita bayangkan bahwa kini ada dua kapal, walau memang terpisah oleh waktu, yaitu: kapal yang Theseus labuhkan di dok Athena (A), dan satu lagi kapal yang digunakan oleh pelaut Athena 1000 tahun kemudian (B). Pertanyaannya adalah, apakah kapal A sama dengan kapal B?

Beberapa orang akan menjawab bahwa, meski dalam kurun waktu 1000 tahun sekalipun, Kapal Theseus akan tetap menjadi Kapal Theseus. Tak akan pernah berubah. Kendati penggantian papan dan kayu pembentuknya telah dilakukan berkali-kali, namun hal itu tak akan membuat kapal legendaris tersebut berubah identitas. Maka, kedua kapal yang terpisah waktu itu akan tetap identik secara kuantitatif. Jadi, A sama dengan B.

Namun, pendapat yang lain akan berargumen bahwa kapal A tidak akan pernah sama dengan kapal B. Hal ini lantaran Theseus tidak pernah sekalipun menapakkan kaki ke kapal B—yang mana telah diganti semua papan dan kayu pembentuknya. Dan kehadiran Theseus di dalam kapal adalah sebagai faktor esensial dari Kapal Theseus. 

Singkatnya, Theseus adalah “roh" dari Kapal Theseus. Di saat Theseus mati, maka ia pun membawa Kapal Theseus ke liang kubur bersamanya. Dan yang kini dipakai oleh para pelaut Athena 1000 tahun kemudian itu, bukan lagi menjadi Kapal Theseus, melainkan tak lebih dari sebuah kapal biasa. Jadi, kedua kapal tersebut tidak lagi identik secara kualitatif.

Sekarang biar lebih seru, coba kita pelintir sedikit eksperimen pikiran milik Plutarkhos ini. Bagaimana jika selama ini ada seorang kolektor, yang secara diam-diam mengumpulkan semua papan dan kayu orisinal (bawaan) pembentuk Kapal Theseus, kemudian mulai membangun sebuah kapal yang baru menggunakannya?

Kini ada dua kapal yang benar-benar mirip dan benar-benar eksis: satunya sedang berlabuh di dok Athena, sedangkan satunya lagi ada di halaman belakang rumah si koletor. Masing-masing dari pemilik kapal bisa saja mengeklaim bahwa mereka adalah pemilik Kapal Theseus yang asli, tapi kita tahu bahwa mustahil ada dua objek yang bisa menjadi asli (orisinal) secara bersamaan, 'kan?

Jadi, manakah Kapal Theseus yang benar-benar asli? Dan manakah Kapal Theseus yang kawe?

Layaknya Kapal Theseus, kita sebagai manusia pun merupakan makhluk biologis dengan bagian-bagian yang akan selalu konstan berubah. Raga, pikiran, memori, emosi, bahkan sel-sel penyusun dari tubuh kita selalu saja diganti dan diperbaharui sepanjang waktu. Ajaibnya, “kita" masih akan tetap dan selalu menjadi “kita” yang sama, asalkan kematian belum menghampiri—terlepas dari nama yang tercantum pada kolom KTP.

Inilah sebabnya pertanyaan “Siapakah aku?", begitu rumit juga kompleks. Dan untuk bisa menjawabnya, layaknya para pemikir besar terdahulu yang telah datang sebelumnya, kita pula harus memberanikan diri untuk terjun dan selami samudera paradoksikal filsafat yang tanpa dasar, pun tanpa batas. Dan mungkin saja akan membuat kita selangkah lebih dekat dalam mengenal Tuhan (yang berparadoks).