If the ocean can calm itself, so can you. We are both salt water mixed with air. (Nayyirah Waheed -  American Writer)

Perkara laut sulit diperkirakan. Suatu ketika Nizar Qabbani memuisikan, “kalau aku tahu lautan dalam, aku tidak akan melaut. Kalau aku tahu akhir semua kisah, takkan mungkin kumulai merajutnya.” Demikian penyair Suriah itu. Tapi perjalanan yang telah dimulai tidak untuk didiskusikan lagi.

Di bawah surya merejang siang, bersama tetua kota, kami memasuki perkebunan Sungai Lembu. Ini satu akses menuju Taman Nasional Meru Betiri. Lebih kurang 60 km dari Kota Banyuwangi. Sebelumnya kami singgah di Pasar Desa Sarongan yang ramai hanya pada Ahad. Tapi yang bikin takjub toilet pasar ini superbersih.

Kami meneruskan meniti jalan mengepul. Pohon kakao, karet, dan daun puring akrab berdialog. Temanya tentang terik yang hebat. Seperti pohon-pohon itu, kami sepakat saat di titik lain di Pulau Jawa kelambu malam masih kusam, di sini bunga api Surya lebih awal membulat menyeruak menanak hari.

Ini kota The Sunrise of Java. Julukan yang mengubur tragedi yang di sebagian generasi masih abadi. Banyuwangi adalah perlintasan multikultur. Di sini komunitas etnik Osing yang pewaris Kerajaan Blambangan sebagai unsur pembentuk identitas masyarakat lokal sekarang. Etnis Osing berhibridasi dengan pendatang lainnya: Jawa, Bali, Madura, Bugis, hingga Tiongkok.

Tetapi tragedi itu. Pada 1998, pascaruntuhnya Orde Baru. Petaka bertema dukun santet. Di tengah masyarakat beragam budaya nilai kemanusiaan terenggut luar biasa. Banyuwangi geger oleh gelombang pembunuhan atas orang-orang yang diduga ahli guna-guna. Anehnya, aksi keji merembet pada guru ngaji dan kaum santri.

Kini memori buram itu, mungkin bagi milenial tak lebih penting dari sunrise yang merekah dari selat surgawi. Instagramable. Pantai-pantai paling timur yang pernah berbau darah kini menjadi tempat paling dicari, sebagai titik mengabadikan bagaimana sang raja siang menggeliat memerah saga; Pantai Cacalan, Sobo, Boom, Watu Dodol-Ketapang, Bangsring hingga Tabuhan.

Dan tetua kami pun tampaknya enggan membahas kisah pilu Banyuwangi. Untuk itu kami memilih diam dan fokus menuju selatan. Terus ke punca di mana pertarungan ombak dengan angin sedang pada musimnya. Hingga Rajegwesi. Seumpama tirani yang ditakuti karena dengan kuasanya menggusur pasir-pasir kecil, menghempaskannya lalu menyeretnya lagi. Berdarah-darah.

Ombak dan pasir hitam Rajegwesi tidak sedang bercumbuan. Ombak menari menggerakan jari-jari mengikuti gamelan alam. Tapi ia bukan penari gandrung yang menjadi simbol pariwisata kota ini. Gandrung adalah cinta dan pesona. Sementara ombak marah taat pada nafsunya. Pasir-pasir hitam, butir-butir kecil yang tak terlindungi adalah jelata yang membutuhkan amnesti.

Di Rajegwesi alam dan budaya kaum nelayan berpadu. Pada bulan Muharram warga melakukan ritual petik laut. Ritual pelarungan sesaji sebagai rasa syukur sekaligus doa permohonan berkah rezeki dan keselamatan. Bagi para petualang Meru Betiri dan masyarakatnya adalah pengalaman menjanjikan.

Seseorang mendekat menawarkan jasa sewa perahu. Ia menjelaskan paket uji adrenalin menerjang ombak melintasi karang sebelum mendapatkan teluk sunyi nan sendu: Teluk Ijo. Kami bernegosiasi, selain berbincang tentang keselamatan. Saat ini, ombak Meru Betiri tengah gemar menghajar apa saja yang ditemuinya dengan kejam.

Taman Nasional Meru Betiri bersemuka dengan Samudra Indonesia. Luasnya sekitar 58.000 ha. Meru Betiri sendiri diambil dari nama Gunung Meru dan Betiri. Di sisi timur kawasan Meru Betiri masuk dalam wilayah Banyuwangi, sementara di barat untuk Jember. Sukamade adalah pantai lain dari Meru Betiri yang paling terkenal sebagai lokasi pengintipan penyu bertelur.

Kami berpegang kuat pada kayu-kayu perahu fiber bercadik dua. Semakin di pinggir debur gelombang kian kuat. Perahu terasa oleng sangat. Tebing-tebing Bukit Kandil, demikian warga menyebutnya, kuyup mengkilap dihajar ombak bergaya khas pantai selatan.

Pemandu Dulah mencoba menenangkan. Katanya ini tak akan lebih setengah jam. Satu di antara kami bergumam. Hingga akhirnya. Tak ada pantai yang sama, meski air laut terasa sama. Sesuai namanya Teluk Ijo memiliki air kehijauan. Warna dari alga-alga yang mengapung di tepi perairan dangkalnya.

Selain pasir putih yang lembut, di tebing teluk tergantung setinggi 8 meter air terjun yang bersandar pada cuaca. Pada musim hujan volume air terjun bisa lebih deras. Masyarakat percaya air terjun ini pemandian dewi-dewi. Pasalnya sinar matahari yang melewati tempias air terjun kerap membiaskan spektrum warna-warni pelangi.

Teluk Ijo dan pantai kembarannya adalah nasib yang beda. Tiga ratus meter dari Teluk Ijo, terhampar bebatuan bulat mengkilat melapisi bibir laut. Formasinya tersusun rapi. Ini Pantai Batu yang konon adalah pasir putih yang tiba-tiba ditaburi bebatuan. Semacam kutukan. Batu-batu itu diperkirakan meruap dari dasar laut yang terangkat oleh tsunami 1994.

Saat Pemandu Dulah menceritakan tentang mayat-mayat korban tsunami yang juga pernah ditemukan di antara bebatuan pantai ini, sepasang muda-mudi muncul dari balik pohon-pohon walelar. Sepertinya mereka hendak berkemah di sini. Selain jalur laut, Teluk Ijo bisa dikunjungi via darat, meski harus naik turun menembus bukit terjal. Lalu pemandu melanjutkan cerita tentang mayat-mayat itu. Beberapa tersangkut di pohon.

Referensi: Manan, Abdul dkk. 2001. Geger Santet Banyuwangi. Jakarta: Institut Studi Arus Informasi (ISAI).