Pernahkah menonton FTV? Iya, film Indonesia yang tamat sekali putar itu. Penulis skenarionya tidak perlu lagi pusing menentukan tema baru untuk pengembangan masalah dalam ceritanya. Mungkin pusing menentukan cerita seperti apa yang akan ditulisnya lagi sebagai karya barunya.

Jika dicermati akan didapati bahwa setiap film FTV memiliki kemiripan, yaitu bobot ceritanya ringan dengan tema besarnya adalah percintaan. Tidak hanya pada FTV, tetapi juga pada serial sinetron percintaan remaja.

Bobot cerita yang ringan dengan tema besarnya adalah percintaan juga dapat ditemukan dalam anime. Selain itu, dalam film bioskop pun terkadang ada yang memiliki cerita ringan bertema percintaan (biasanya bergenre komedi romantis).

Akhir cerita kesemuanya pasti banyak miripnya, yaitu si pemeran utama laki-laki dan perempuan akhirnya bersepakat menjadi pasangan kekasih. Meskipun terdapat akhir cerita yang keduanya memutuskan berpisah.

Mari kesampingkan sejenak mengenai akhir cerita sedih (terkadang juga bahagia) yang mengambarkan berpisahnya pasangan kekasih. Kemudian beranjak mencermati alur cerita yang lempang, mulai dari berkenalan, PDKT, berlanjut menemui masalah bersama, dan menyelesaikannya bersama pula, hingga akhirnya mereka hidup bahagia bersama.

Gaya bercerita seperti itu berpotensi menjadikan penontonnya percaya bahwa dalam kehidupan, setiap manusia hanya akan menemui satu permasalahan. Padahal bukan itu tujuan dari terciptanya cerita, melainkan memaparkan salah satu contoh dari pelbagai realitas kehidupan.

Berhubung tulisan ini baru saja membahas cerita percintaan yang ringan dan baru saja membahas potensi negatif dari cara penonton memandang genre tersebut, mari menilik ke belakang untuk mengetahui realitas dari kehidupan diri sendiri, bukankah terdapat pelbagai pengalaman, kesan dan kenangan?

Terlebih setiap individu memiliki kesan yang khas ketika kembali mengingat pengalaman ataupun kenangan. Karena itu, seharusnya setiap individu mampu berempati dengan pilihan jalan hidup individu lain, meskipun bertentangan dengan prinsip hidup yang telah diyakini.

Banyak pilihan jalan hidup yang saling bertentangan, seperti memilih menggelandang untuk memperoleh kebahagian karena makin sedikit tanggungan makin mendekatkan kebahagiaan. Jalan hidup menggelandang bertentangan dengan jalan hidup yang memandang kontribusilah yang mendekatkan kebahagiaan, karena menjadi berguna adalah naluri.

Terdapat banyak contoh dari pilihan hidup yang saling bertentangan. Namun, karena tulisan ini awalnya membahas cerita bertema percintaan, maka tulisan ini juga ingin membahas pilihan jalan hidup antara yang memilih menikah dengan yang memilih melajang.

Kenangan

Bisa jadi individu yang memilih menikah lebih banyak memiliki kenangan manis dalam menjalin hubungan daripada kenangan pahit.

Kalaupun dahulunya sama-sama memiliki intensitas kenangan pahit seperti individu yang memilih melajang, dapat dipastikan bahwa individu yang memilih menikah telah move on. Yang menjadikannya move on tidak lain adalah kenangan manis.

Pandangan Dunia

Bagi laki-laki yang memilih melajang mungkin memiliki pandangan bahwa sebelum menikah haruslah siap secara mental dan materi. Biasanya laki-laki seperti itu memiliki rentang umur berkisar 20-30 tahunan. Sedangkan bagi remaja laki-laki, mungkin sedikit yang telah memikirkan pernikahan. 

Lalu bagaimana dengan laki-laki yang telah mapan namun memilih lajang? Mungkin ia hanya belum menemukan yang cocok, atau masih belum move on. Namun, bisa jadi laki-laki mapan yang memilih lajang menginginkan kebebasan karena memandang pernikahan sama seperti memenjarakan diri.

Tidak berbeda dengan perempuan mapan yang memilih lajang. Karena sama-sama telah mapan dan berpengalaman maka pandangan dunia mereka pun sama. Berbeda jika mereka mampu move on atau malah tidak perlu move on karena dari awal telah menemukan pasangan yang cocok.

Lalu bagaimana dengan perempuan remaja dan dewasa awal? Mereka memandang dunia sebagai kesempatan. Tentu mereka ingin menggapai cita-cita terlebih dahulu, kan? Mumpung diberi kesempatan yang regulasinya didesak secara paksa dengan proses yang amat panjang (lintas generasi).

Namun, dahulu kala terdapat perempuan remaja dan dewasa awal yang memandang bukanlah haknya untuk memutuskan masa depan, begitu juga memutuskan menikah atau tidak menikah. Karena hal itu adalah keputusan keluarga, dan ada juga yang bersandar pada keputusan suku.

Lingkaran Pertemanan

Pernah dengar sebuah pernyataan “Tunjukkan siapa temanmu, dengan begitu aku tahu siapa kamu”? Dewasa ini, lingkaran pertemanan mampu menggiring pandangan mengenai dunia, tidak luput pandangan terhadap pernikahan.

Terdapat lingkaran pertemanan yang menganjurkan menghindari pacaran dan menjunjung tinggi pernikahan dilihat dari sisi nilai moral. Namun, terdapat juga lingkaran pertemanan yang beranggotakan para “patah hati” yang pesimistis terhadap lawan jenisnya.

Juga terdapat lingkaran pertemanan yang menjungjung tinggi kebebasan. “Mumpung masih ada kesempatan, mari memuaskan diri meneguk segala macam pengalaman,” biasanya jargon tersebut digunakan sebagai pemompa semangat mereka untuk mengobservasi segalanya dan mekesampingkan pernikahan. Ada yang telah merasa cukup tetapi juga ada yang belum puas, padahal umur tidak lagi muda.

Pesan Terakhir

Marilah berempati kepada pemilih jalan hidup yang bertentangan dengan nilai yang selama ini telah diyakini. Meskipun tidak menyetujuinya, tetapi setidaknya berilah pemakluman atasnya. 

Kalaupun ingin menunjukan jalan yang benar, usahakan dengan cara yang sabar. Toh jika telah berempati bukan berarti objek empatinya sungguh-sungguh sebuah kebenaran.