30953_92547.jpg
Any Man's Land (1880) by Alexander Helwig Wyant
Seni · 4 menit baca

Yang Memberi Arti di Balik Kesunyian

Perputaran waktu menyebabkan kita selalu mencari posisi nyaman secara batin agar hidup tak berat-berat penat hingga resah kali untuk dijalani. Namun semua itu dibutuhkan untuk menciptakan perbedaan.

Melawan arus kekinian adalah tantangan motivasi bagi mereka sang pejuang kebajikan. 

Yang memberatkan dan membawa kita pada pertimbangan berkepanjangan adalah bagaimana karya itu bisa dinikmati, bukan hanya indah diresapi melainkan sangat dalam untuk dijiwai. Kita ingin orang tak tahu apa yang kita ciptakan namun disatu sisi kita ingin banyak orang yang mengapresiasi apa yang telah kita perbuat dalam berkarya. 

Bagi saya menanamkan satu ide kepada seseorang sama sulitnya dengan menanam sejuta pohon ditanah yang tandus. 

Pada usia matang seseorang tak ingin hidup rumit, sementara pada usia senja ia sibuk mencari makna dengan berfilsafat. Apa itu hidup ? Jika tak mampu mengendalikan waktu ? Ingin abadi tapi hidup asyik senang-senang saja. 

Kita salah tingkah bukan karena tidak berkualitas, melainkan sudah ditata sedemikian rupa bahwa ada batas-batas dimana nalar tak bisa melampaui.  Yang perlu kita perjuangkan adalah kebebasan berpikir bukan ketakutan terhadap peraturan agama.

Maka timbul sebuah pertanyaan, Sebenarnya berkarya itu mencari apresiasi atau memperluas sudut pandang pengamat ? 

Mungkin kita terbebani dan terinspirasi dengan kata jangan berhenti berkarya, produktiflah berkarya, sementara dalam filsafat maknanya berbeda lagi, kenalilah dirimu sendiri dan jangan berlebihan, atau ketahuilah bahwa kau tidak tahu apa-apa, sehingga semakin kau tak tahu maka semakin giatlah kau mencari tahu dengan belajar baik otodidak maupun membaca.

Orang lupa berpikir karena ia terlalu asik menikmati hidup pada kesenangan, sementara orang yang sibuk mencintai kebijaksanaan dan sering berpikir ialah orang yang melupakan kebahagiaan tubuh dan kesejahteraannya demi kebaikan bersama. 

Katakanlah yang membuat kita terotak tercengan sampai kejang-kejang untuk memulai suatu penciptaan. Yaitu untuk dinikmati orang awam atau melampaui orang yang berilmu tinggi agar tidak dianggap sebagai pemula.

Dan jadilah kini orang berlomba-lomba mencari momentum, beradu cepat dan jangan setengah-setengah dalam berkarya. cukuplah yang lalu dan mulailah berkembang, siapa yang fokus pada satu ide ialah yang menebar bendera kebebasan di puncak keresahan. 

Bila disederhanakan, Bagaimana kita bertindak dimulai dari bagaimana kita berpikir, namun sering sekali kita lupa untuk berpikir bagaimana memulai tindakan karena tak ingin lama-lama berada pada perenungan yang berkepanjangan. Seperti Mengerjakan sesuatu diluar gambaran perspektif, Katakanlah satu pekerjaan sederhana yang tak harus diribetkan tapi penting untuk dikaji ulang secara filosofis.

Filosofi Merokok misalnya, seperti yang sudah kita tahu rokok itu merusak kesehatan tetapi kenapa orang banyak yang merokok ? Dari sudut pandang filsafat kita bisa menganalogikan bahwa seorang perokok rela sakit asal ia dapat berpikir lebih luas, merepetisi, merefleksi, mengenang dan mempertimbangkan, ia ingin menikmati masa lalu namun melupakan keberadaan tubuh Asal ia tahu yang tidak diketahui sebelumnya. 

Merokok bisa merusak tubuh tapi memberi pemahaman yang luas bagi pemikiran.

Sifat yang tak bisa lepas dari manusia ialah ia ingin tahu banyak hal walau harus berkorban dengan beragam cara. Filsuf Yunani Demokritus memilih lebih baik mengetahui penyebab sesuatu daripada menjadi raja Persia, filosofi zaman now sekarang telah berbeda, lebih baik menguasai jabatan daripada ribet dengan keberagaman, dekati siapa kira-kira nanti yang berkuasa agar bisa dapat bagian.

Beda Zaman Beda Filosofi, tak mudah menjadi apa yang tidak diketahui orang lain, karena kita lebih memilih menjadi pengamat daripada sering update status. Contohlah media sosial, secara terbuka kita bisa bebas menuliskan sesuatu, namun semakin asal-asal kita menulis semakin mudah orang menjudge pikiran kita. 

Maka berpuasalah dari keriuhan nulis status di medsos dan memilih diam mengamati, mau tak mau harus kuat berada pada posisi diam mengamati walau ada ketidaksanggupan karena ada pikiran yang harus dituangkan dalam tulisan. Sosial media lagi-lagi menguji kita, kita ingin cari like yang banyak atau cari saran yang banyak ?

Jujur semakin sakit tubuh bila melampaui pikiran yang tak tekaji, jangan pikirkan tuhan dimana tapi pikirkan apa itu ada ? Maka yang sangkut adalah jangan menyalahkan takdir dan nikmatilah seadanya. Katakanlah filsuf Yunani yang hidup tak sampai seratus tahun tapi bisa mengetahui apa yang tidak diketahui para malaikat yang hidup jutaan tahun sebelum manusia diciptaka.

Artinya berapa lama tuhan berpikir sebelum menciptakan manusia, dari sini kita bisa melihat bahwa manusia adalah ciptaan paling rumit, tapi estetika mengajarkan kita tak boleh sembarang menilai kuasa dari segala sesuatu.

Baca Juga: Freedom is Music

Ada kegaiban dan bukan sembarang ilmu membahas hal tersebut, manusia disarankan untuk menjauh dari pemahaman tersebut agar tak dianggap gila, sehingga dari sini kita pandai-pandai bijak dalam mengutarakan suatu pendapat, cukup sepatah dua kata saja jangan kebanyakan cakap karena utamakan banyak mengamati. 

Seorang yang penikmat dan pecandu kopi, ia tahan minum kopi pahit-pahit tanpa gula, kenapa ? Karena kopi mengajarkan bahwa untuk mendapatkan sesuatu keindahan seseorang harus berjuang sakit-sakitan terlebih dahulu.

Berfilsafat jika disederhanakan ialah merasa nyaman dengan apa yang diresahkan orang banyak dan bersikap adil dengan mempergunakan ilmu yang ia punya ide. Cerdas dan adil, berpihak pada golongan bawah, menengah dan menerangi kegelapan. 

Dalam menghadapi puncak kegelisahan tersebut manusia membutuhkan inspirasi berupa musik, If I Could Fly dari Joe Satriani adalah sahabat terbaik dalam meditasi pendengaran dikala gundah, takkala mendengarkan alunan Joe Satriani kita mendengar petikan Puisi dalam Melodi.

Konon pada zaman seseorang belum mengenal alat musik, ketika seseorang tak mampu memberi bahasa pada sesuatu yang ia rasakan, maka ia menciptakan kumpulan-kumpulan bunyi dari alam, kayu, bambu, batang, kulit binatang dan lainnya, ketika satu tumbuhan mati maka dihidupkanlah ia dengan dijadikan alat musik. 

Pendengaran yang menumbuhkan refleksi tentang kejadian, mentafsir segala duka nan meneduhkan. Sehingga Beethoven dan Chopin selalu membuat pendengar merindu penuh penghayatan, seperti belum sempat memiliki tapi sudah merasa kehilangan. Saya merumuskannya "Dengan Nada Kehilangan" ia memberi kesadaran yang tak terencana, seperti dua hati yang dipertemukan pada tempat yang tak direncanakan, rasa yang benar-benar tulus berawal dari tatapan seperti memberi penjelasan bahwa kedua mata adalah bahasa kejujuran.