Mahasiswa
1 bulan lalu · 92 view · 3 min baca menit baca · Hiburan 38571_92661.jpg
Gazette.com

Yang Melihat, Yang Hanyut dan Yang Diuntungkan

Metafora Panggung dan Realita

Dari sekian banyak penonton di dalam gedung bioskop, hanya segelintir yang akan menunggu credit film dengan sabar dan penuh pertanyaan, mempertanyakan siapa yang bertanggung jawab dan siapa dalang dibaliknya. Sementara itu, para aktor yang  berperan mengikuti skenario dan naskah yang umumnya akan menjadi sorotan utama dan diagungkan, hingga dikonsumsi tiap langkah kakinya.

Aktor mengambil peranan penting dalam panggung, sebagai refleksi dari ide absolut dalam dunia rancangan sutradara. Mereka tidak terlahir begitu saja melainkan melalui perjuangan panjang (terkadang keberuntungan), kemudian diseleksi sesuai kriteria juga sesuai dengan ideal para penonton, gambaran ideal tentang superhero yang gagah, pembunuh berdarah dingin, pria tampan romantis, wanita ideal, pejuang yang tangguh, atau pemimpin yang 'merakyat'. 

Aktor sebagai pusat perhatian mewakili segala nilai ideal dan semuanya demi menghidupkan skenario (juga membutakan penonton), meniupkan ruh pada panggung hingga umumnya penonton tidak lagi melihatnya sebagai panggung melainkan bagai suatu realita, layaknya sihir yang menarik jiwa penonton agar terlibat secara tidak langsung (secara langsung pada skala lebih luas) hingga menimbulkan berbagai macam interpretasi atas tokoh yang terlibat pada realita kecil tersebut hingga pada titik tertentu, penonton merasa seakan - akan menjadi hakim dan penentu alurnya, walau kenyataannya mereka bukan.

Tentu para aktor adalah orang yang hebat, tidak bermaksud merendahkan para aktor. Hanya sedikit perumpamaan, merangsang kepala yang mulai beku dan kaku, terpapar suhu dingin ruang ber-AC, di tengah dunia yang semakin panas, juga dingin di saat yang bersamaan. 

Oh maaf, ungkapan dunia yang dingin mungkin terlalu sepihak. Mengingat sekarang kehangatan secangkir kopi bisa didapatkan dengan mudah selama kau punya koneksi internet, kecuali bagi para pecandu kopi, sekelompok hangover, atau mereka yang melihat. 

Kemudian pada suatu masa, masa kini namanya. Teater dengan penonton yang duduk manis didalam sebuah gedung tadi hanyalah suatu bagian kecil dari aktivitas penonton sebuah maha-panggung. 


Panggung dimana penontonnya bergantung pada narasi dan skenario yang mengutuk, dimana peran aktor begitu berpengaruh berkali-kali lipat, dan alur ceritanya yang mempengaruhi setiap sendi kehidupan, hingga menciptakan suatu realita yang tak terbantahkan. Dimana setiap penonton berkiblat pada aktor yang berbeda - beda, hingga tercipta jurang antar penonton, terpisah oleh keuntungan, kepentingan pribadi, dan gambaran ideal atas dunia.

Segala keramaian sandiwara dan euforia yang membius penonton menjerumuskan mereka kedalam kenyataan yang terbingkai, menciptakan suatu realita yang sulit di ingkari, sebuah seni disatu sisi, perbudakan disisi lain. Bayang para dalang dan kaki tangannya yang berada dibelakang layar pun semakin memudar. 

Tapi tidak untuk keuntungannya, berbeda dengan penonton yang mencari keuntungan, mereka memancingnya, merekalah yang diuntungkan. Menjaringnya demi kepuasan pribadi dengan memanfaatkan kepuasan pribadi "mereka yang tenggelam"  hingga pada akhirnya yang berada dibalik tragedilah yang lebih diuntungkan. dibalik aktor yang tampil bagai penguasa panggung, ada dalang yang luput dari pandangan publik. Seperti kata pepatah,  dunia adalah panggung kemunafikan.

Namun seperti yang tertulis di awal, masih ada segelintir yang sabar menunggu. Selama tragedi berlangsung pun mereka sibuk menerka bagaimana para kru dibelakang layar bekerja, dan dengan kesadaran penuh melihat apa yang ada dihadapannya sebagai suatu karya, rancangan semata dan mereka yang nampak tidak lebih dari boneka yang hidup. 


Mereka yang tidak pernah merasa puas dan ramai akan pertanyaan, mereka para minoritas yang penuh kehati - hatian, mereka yang patut ku cantumkan paling depan pada judul, merekalah yang melihat.Sementara yang lain tenggelam kedalam lautan hipokrit, mereka dengan sengaja menyelam kedalamnya, mempelajari beraneka ragam corak kemunafikan, dibekali oleh nafsu sebagai pendorong dan nalar sebagai udara agar mampu bertahan dari derasnya hasrat untuk 'puas' yang membutakan sembari menjaga agar tidak tenggelam dalam lautan fatalis seperti yang lainnya. 

Pada dasarnya para pembangkang ini juga mencari kepuasan, mengingkari kepuasan adalah kepuasan mereka, menyebalkan adalah stigmanya. Kepuasan adalah penyakit, gejala pembusukan yang paling manis. Berkulit putih beraroma surga, jebakan terselubung, mahakarya yang Esa. 

Sungguh konyol mereka yang memuja para aktor atas nama moralitas suci, yang mengutuk kehidupan itu sendiri sebagai tipu muslihat. Sebuah moralitas kuno pembunuh kehidupan yang dianggapnya sebagai kutukan ini pun digunakan untuk memberi 'kehidupan' pada panggung, memperkuat daya sihir para lakon, menghipnotis mereka yang berlindung dibawah payung Tuhan. Cengkraman sang sutradara tampaknya semakin luas hingga para suci pun terbakar oleh api yang berasal dari satu titik kecil; Kepuasan receh nan dangkal. 

Sementara tragedi berlangsung, diantara kerumunan figuran, parasit individualis kerap mengintip, Menertawai setiap gejala yang dilihatnya, menjilat tubuh busuk yang tenggelam, sambil menunggu langkah cerdik para pembangkang demi mengubah skenario. Pada akhirnya, tradisi pendalangan terus berlanjut, mungkin wayangnya berubah, atau dalangnya dilengserkan, hingga panggung membusuk bersama tanah yang dipijak.

Artikel Terkait