Kemiskinan adalah hak setiap individu, tapi tanggung jawab semua orang. Demikian kiranya lebih tepat agar tampak lebih dekat dengan sebutan makhluk sosial.

Banyaknya data elektronik mengenai kemiskinan tak sebanyak fakta yang semestinya telah mendapat perhatian serius dari pemerintah. Para aktivis, terutama mahasiswa, selalu meneriakkan perlawanan atas penindasan, terkhusus pada pemiskinan yang semua orang tahu sebabnya.

Walau kenyataan tetap tak berubah sesuai keinginan bersama. Hanya menjelma lebih parah dan makin menjadi-jadi sebagaimana yang tak pernah kita inginkan.

Meski demikian, berbagai argumentasi di media sosial dan di forum-forum resmi seolah lebih revolusioner. Tetapi saya tidak begitu yakin bila hanya secangkir kopi mampu mengubah perilaku manusia.

Contoh kecil, dari kebiasaan curang, hingga korupsi. Terlebih ambisi kerakusan untuk tetap mengeksploitasi alam, menindas dan mengelabui sesama demi kepentingan pribadi serta golongan.

Kekuasaan politik tidak betul-betul berubah hanya karena seringnya diskusi di kafe. Mungkin kata "miskin" hanya spasi bagi kalimat aktif, atau bisa jadi hanya jeda pada visualAtau hanya sekadar momen istirahat sejenak bagi mereka para penjahat kemanusiaan.

Selain itu, saya hanya khawatir jangan sampai kata "miskin" bosan lantaran selalu jadi pembuka kalimat, keseringan dipakai, akhirnya mengamuk atau meminta untuk mengundurkan diri dari peribahasa Indonesia. Saya takutnya begitu.

Bila benar itu terjadi, maka peluang manusia untuk menipu akan berkurang, karena tak ada lagi kata yang bisa dijadikan sebagai jembatan permohonan untuk dipenuhi kepentingannya.

Tetapi bila seseorang harus memilih; kemiskinan memang lebih baik ketimbang selalu merasa kaya. Namun, hatinya miskin dan rapuh.

Sejauh ini, berbagai slogan dan program untuk menyelesaikan kemiskinan, yang tentunya juga butuh mental dan psikologi untuk menghadirkan kerendahan hati. Walau disadari bahwa tak ada kata yang tak bisa terucap oleh pemain kata-kata. Kemampuan retorika membuat semuanya tampak lebih benar.

Terlepas dari itu, bukan hanya perempuan yang merasa kesepian. Kopi juga pasti merasa sangat sepi akibat percakapan yang monoton. 

Dulunya ramai dicumbui pecandu, dijadikan perbincangan dari siang dan malam, lalu berhenti. Tetapi tetap saja mengundang pembicara saham dan konsep ekonomi lainnya.

Lingkungan tiba pada kesimpulan sederhana. Di mana fashion yang berupa kopi dijadikan alasan sebagai sumber percakapan yang progres, katanya. Kerugian akibat kekalahan pada saham, pembagian proyek yang dinilai diskriminasi, cicilan rumah dan mobil. 

Kebutuhan konstruksi rumah pribadi, dan banyak lainnya yang serba elite telah memenuhi ruang-ruang di hampir semua kafe di kota-kota kecil di Indonesia. Akibat pergeseran nilai dari pembahasan sistem kekuasaan menindas, berubah menjadi keputusan politis yang mementingkan sedikit orang saja. 

Adalah tanda bahwa negeri ini bukan saja melawan kemiskinan, tetapi juga harus melawan percakapan elite yang bertujuan menciptakan kesenjangan.

Para petinggi yang setiap harinya di kafe, para politisi yang setiap pekan menghabiskan programnya pun di kafe.  Hampir semua kegiatan menuju kafe dan selesai tanpa solusi yang kompleks.

Dengan gagah berani, bersepatu pantofel, kemeja rapi dan dasi yang mencolok. Anggota dewan yang tak pernah menginjakkan kakinya di desa pun akrab berbicara kemiskinan. Entah apa maksudnya!

Sebab kemiskinan selalu menjadi buah bibir para petinggi negara. Sayangnya tidak menjadi buah harapan yang tumbuh dan dinikmati semua orang. Hanya pembicaraan program, dan nyaris tak pernah berbentuk tindakan konkret. Sama sekali tak pernah selesai sebagai realisasi yang semestinya.

Berdasarkan laporan dari Bank Pembangunan Asia (ADB), penduduk nasional Indonesia pada 2015 berjumlah 255,46 juta jiwa. 11,2% di antaranya hidup di bawah garis kemiskinan nasional.

Angka tersebut tak pernah berkurang, apalagi menghilang. Sebab tindakan eksploitasi di lingkungan paling dekat sekalipun senantiasa bekerja. 

Ekonomi individu (capitalism) terus mengakumulasi dan menciptakan kesenjangan. Percakapan semacam itu yang hilang di kedai kopi. Justru yang tumbuh adalah sebaliknya, bagaimana seseorang harus kaya?

Para pemangku kebijakan tak pernah memahami betul akar persoalan mendasar dari para petani di desa, nelayan di pantai, dan mereka yang mau makan saja sangat susah.

Mereka yang miskin dan menjalani hidup dengan sangat tidak jelas juga adalah warga negara Indonesia yang semestinya mendapat perlakuan sama. Sama-sama bisa menghirup udara segar tanpa beban, dan bisa bermimpi tanpa harus terkurung dalam kondisi yang sebenarnya adalah tanggung jawab negara selaku pemangku kewajiban.

Pendiskusian seperti ini yang mulai bergeser. Kaum muda, mahasiswa, dan aktivis pun tinggal sedikit yang menjadikan kafe sebagai tempat pemecahan masalah sosial. Selebihnya, hanyalah suara-suara sumbang pengejar saham.

Satu hal lagi, kemiskinan adalah musuh kita bersama. Itu yang harus ditanamkan dalam benak. Siapapun yang memanfaatkan kemiskinan untuk kepentingannya merupakan LAWAN kita bersama.

Hidup rakyat miskin. Bersama tulisan ini, mari kita melawan kemapanan!