Resolusi tahun ini bahkan belum seluruhnya terlaksana dengan baik, tetapi sudah harus ditumpuk dengan resolusi baru untuk menyongsong tahun depan—yang belum tentu terlaksana. Ya, sadarlah! Tahun 2019, tinggal menyisakan beberapa hari lagi sebelum penghabisan. Maka, sudah saatnya untuk menyusun resolusi-untuk tahun 2020 rewind time!

Jika kita renungkan, 2019 adalah tahunnya politik. Bagaimana tidak? Sejak Januari, kita sudah disuguhkan berbagai aksi kampanye di televisi yang muncul di sela-sela kita makan malam bersama keluarga. Atau ratusan baliho raksasa yang menghiasi setiap perempatan jalan raya dengan wajah-wajah tersenyum dan jargon-jargon pro-rakyat.

Awal Januari, debat capres pertama yang setiap adegan di dalamnya sangat memeable itu hadir sebagai pembuka. Masih ingat bagaimana unyu-nya Cawapres paslon 01, Ma’aruf Amin, ketika dalam debat bagaikan mahasiswa kedokteran yang dicemplungkan ke kelas mahasiswa filsafat? Kata-kata fenomenal dan menggelegarnya setelah setengah jalan debat berlangsung pun sampai hari ini masih terngiang di kepala saya: “cukup”, katanya.

Atau lemah-gemulainya tubuh Capres paslon 02, Prabowo Subianto, ketika menari (lebih tepatnya berjoget) ketika dia ingin menanggapi pernyataan Jokowi, Capres paslon 01, namun tidak diperbolehkan oleh moderator? Membayangkan hal itu lagi, entah kenapa saya langsung terbayang tokoh Srintil di novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.

Kemudian, saya akan mengajak Anda untuk mengorek-ngorek kembali memori tentang jawaban luar biasa cerdas dari Prabowo Subianto, ketika menjawab pertanyaan bagaimana menciptakan birokrasi yang bebas dari korupsi. Prabowo menjawab: “Akar masalahnya adalah gaji pegawai negeri yang kurang...” Luar biasa, bukan?! Saya saja tidak kepikiran dengan jawaban tersebut, apalagi Anda.

Selanjutnya, Anda masih ingat yang terjadi di debat capres kedua, yang berlangsung bulan februari? Kalau Anda lupa, saya akan mengingatkan Anda dengan pernyataan dari Jokowi yang tidak kalah luar biasanya dari jawaban Prabowo di atas. Tidak ada konflik pembangunan selama 4,5 tahun dan tidak ada kebakaran lahan dalam tiga tahun terakhir.

Bagaimana? Anda sudah ingat dan mulai kesal kembali? Ingin misuh? Sama. Namun, tahan dulu kekesalan Anda, masih ada banyak hal yang lebih menyebalkan lagi—sekaligus lucu.

Lanjut, ingatkah Anda dengan Jokowi-Ma’aruf Amin mengeluarkan kartu-kartu dari kantongnya seolah-olah mereka akan duel card ala Yugi-Oh? Saat itu, mereka memperkenalkan berbagai kartu sebagai bagian dari programnya ketika terpilih. Ada Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, Kartu Sembako Murah, dan Kartu Prakerja.

Atau mungkin Anda masih merekam dengan jelas di kepala, bagaimana kerennya Sandiaga Uno, cawapres paslon 02, berlagak seperti Sauron di film Lord Of The Rings? Dia menyatakan bahwa semua kebijakan pemerintah—jika dia terpilih—akan terhimpun hanya dalam satu kartu: E-KTP. One ring card to rule them all.

Bagaimana? Anda lelah dengan debat capres dan segala hal tentang Jokowi-Prabowo karena mengingatkan Anda pada kenangan buruk dikeluarkan dari grup whatsapp keluarga akibat berbeda pilihan? Tidak mengapa.

Selanjutnya, mari kita mengenang sosok yang terlupakan dalam kontestasi politik Indonesia. Sosok yang menjadi penghibur di tengah rusaknya masyarakat yang tidak henti-hentinya berseteru: Nurhadi-Aldo! Paslon nomor urut 10.

Nurhadi-Aldo muncul ke gelanggang perpolitikan Indonesia melalui sebuah cara yang sangat sesuai konstitusi. Melalui media sosial. Dengan Partai Untuk Kebutuhan Iman (PUKI) dan Koalisi Indonesia Tronjal-Tronjol Maha Asyik, Nurhadi-Aldo tumbuh besar bersama pendukung militannya dan sempat membuat khawatir beberapa politisi yang mengkhawatirkan banyaknya yang akan golput di Pilpres 2019. Terakhir saya lihat, akun Instagram Nurhadi-Aldo sudah berubah menjadi akun shitposting.

Selanjutnya, Anda masih ingat tentunya di bulan April-Mei, Pemilu serentak digelar. Tidak hanya memilih presiden dan wakil presiden, tetapi juga langsung memilih DPRD Kabupaten, DPRD Provinsi,  DPR, dan DPD. Maksud dari dilakukannya pemilu serentak ini tentunya baik.

Namun, maksud baik belum tentu menghasilkan sesuatu yang baik. Akibat kelelahan, 3.688 petugas sakit dan 554 petugas meninggal dunia. Hal ini tercatat dalam sejarah Indonesia, sebagai korban terbesar dalam sejarah penyelenggaran pemilu kita.

Namun, dari semua gejolak politik yang terjadi sepanjang 2019, tentu yang paling saya (dan juga mungkin Anda) ingat adalah polemik pelemahan KPK dan lucunya RUU-KUHP yang disusun seolah dengan tergesa-gesa oleh DPR.  Absurd-nya RUU-KUHP yang disusun, seperti misalnya pemidanaan terhadap persetubuhan di luar nikah dan jasa praktik ilmu hitam (santet), akhirnya memicu gelombang demonstrasi mahasiswa.

Tentu, seperti es cendol diteriknya Kota Surabaya ketika siang hari, aksi demonstrasi mahasiswa #ReformasiDikorupsi masih segar. Berbeda dengan aksi mahasiswa pada 1998, #ReformasiDikorupsi merupakan aksi yang membela kepentingan pada level individu—misalnya saja tuntutan disahkannya RUU-PKS.

Ditambah, aksi ini diwarnai dengan berbagai spanduk yang nyentrik dan slogan-slogan berbau kebucinan yang digunakan mahasiswa untuk mengkritik pemerintah, dan juga munculnya Mas-Mas Ketua BEM unch seperti Fathur. “Kukira hubungan kita yang tidak jelas, ternyata DPR juga”, tulis salah satu spanduk. 

Namun, dengan demonstrasi gaya masa kini tersebut, mahasiswa sukses melangsungkan aksinya dan memaksa DPR untuk menunda pengesahan RUU-KUHP—walau sempat terjadi bentrokan.

Memasuki bulan-bulan penghujung tahun, kita dikagetkan dengan melipirnya Prabowo ke kubu pemerintah, dengan dipilihnya dia sebagai menteri pertahanan dalam Kabinet Indonesia Maju. Untuk saya sendiri, tidak kuasa rasanya membayangkan sakitnya menjadi pendukung fanatik Prabowo ketika masa-masa pilpres. Terkhianati, tersakiti.

Akhirnya, di ujung tahun, yang baru saja terjadi, Lem Aibon dengan anggaran 82 milyar menghiasi daftar kelucuan perpolitikan Indonesia. Dan, yang lebih lucunya lagi, William Aditya Sarana, sang “pahlawan” dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang mengungkap anggaran siluman tersebut, dipidanakan dengan dugaan pelanggaran etika oleh seorang warga Jakarta—yang tidak jelas siapa.

Di bulan Desember, sepanjang setengah perjalanannya yang menyisakan beberapa hari ini, sedang ramai-ramainya isu politik dinasti Presiden Jokowi. Hal ini disebabkan oleh putra sulungnya, Gibran, yang akan maju dalam Pilwalkot Solo 2020, dan seperti mendapatkan freepass tanpa harus melalui proses pengkaderan dari PDIP selama tiga tahun! Gimana? Sangat lucu dan menyebalkan, bukan?

Sudahkah Anda bisa mengingat kembali dengan baik kejadian-kejadian seru, lucu, dan menyebalkan yang mewarnai perpolitikan kita sepanjang tahun 2019?

Tahun ini penting dalam sejarah kita, berbagai kejadian besar terjadi, dengan berbagai kelucuan dan menyebalkannya politik kita dan tingkah politisinya. Itulah political rewind tahun ini, atau Anda mungkin punya kejadian favorit sendiri dalam politik tahun 2019?