Jika kita mendengar nama Karangbolong di Kebumen, tentu bagi yang senang bepergian dan berwisata akan mengingat nama ini sebagai sebuah pantai dan gua yang memiliki sarang burung walet serta tempat yang dikhususkan dalam bentuk pesanggrahan berdasarkan kepercayaan masyarakat terhadap Ratu Kidul.

Sarang burung walet merupakan penyumbang pendapatan anggaran daerah (PAD) terbesar di Kabupaten Kebumen pada masa jayanya. Keberadaan Tugu Walet/Lawet di Kebumen yang dibangun pada tahun 1975 berkaitan dengan tahun-tahun keemasan pengunduhan sarang burung dan kontribusi ekonominya. Pendapatan yang diperoleh dari pengunduhan sarang burung pada tahun 1900 sampai tahun 1996 dapat mencapai 100 kilogram hingga 200 kg untuk satu kali panen, dengan kisaran harga mencapai Rp 10 juta per kg.

Namun sejak 2012 aktifitas pengunduhan sarang burung di Karangbolong berhenti. Pengeksploitasian hutan dilakukan secara besar-besaran pada saat itu diduga turut berkontribusi terhadap punahnya sejumlah flora dan fauna (penyedia makanan bagi walet) di hutan, termasuk keberadaan burung walet.

Karang Bolong, Sarang Walet/Lawet dan Ratu Kidul

Eksplotasi burung walet di Karangbolong sebenarnya sudah dilakukan sejak era kolonial.  Setidaknya tahun 1847 sudah ada berita mengenai keberadaan sarang burung walet dan Karangbolong. 

Sebelum tahun 1936, Karangbolong masuk distrik dari Kabupaten Karanganyar. Tahun 1935 Karanganyar dihapuskan status kabupatennya karena krisis ekonomi dan tahun 1935 digabungkan menjadi bagian wilayah Kebumen (Teguh Hindarto, Wetan Kali Kulon Kali: Mengenang Kabupaten Karanganyar Hingga Penggabungan dengan Kabupaten Kebumen 1936, 2021:203-221)

Melalui sebuah berita pendek dengan judul, Pasanggrahan Karangbolong en de Eetbare Vogelnestjes (Pesanggrahan Karangbolong dan Sarang Burung Walet) yang dimuat surat kabar De Locomotief (19 Mei 1931) kita mendapatkan sejumlah keterangan menarik mengenai wilayah geografis Karangbolong, aspek ekonomi dan aspek budaya di Karangbolong. Berikut beritanya:

Di Karangbolong terdapat sebuah pasanggrahan yang dulunya milik Pemerintah, namun dikelola oleh Kabupaten Karanganjar sejak 1 Januari 1930. Jalan menuju Karangbolong juga telah menjadi jalan Kabupaten, beberapa jembatan berbatang genta diganti dengan jembatan beton, sementara jalan itu sendiri juga telah mengalami banyak perbaikan. Pada musim hujan jalan berbukit masih cukup licin, namun pada musim kemarau mobil dapat dengan mudah mencapai pasanggrahan tersebut.

Lokasi Karangbolong menjadi istimewa karena tebing sarang burung yang terletak di pinggirannya. Sewa tebing sarang burung walet telah dilakukan oleh Ong Thiam Hoat, seorang pedagang yang tinggal di Karesidenan Semarang, dengan sewa tahunan sebesar 27.600 gulden. Sewa ini merupakan sumber pendapatan penting bagi Kabupaten Karanganjar. 

Dari pasanggrahan, untuk mendekati gua harus menanjak sekitar 3 km. Meskipun bagi orang awam tidak mungkin untuk turun ke dalam gua-gua itu, namun tetap menarik untuk melihat bagaimana para pekerja dengan cara-cara primitif menembus ke dalam rongga-rongga gelap  untuk mendapatkan sarang burung.

Pengunduhan sarang burung walet berlangsung empat kali dalam setahun, yaitu pada bulan Januari, April atau Mei, Agustus atau September dan November. Setiap tahun diadakan panen dengan mengadakan slametan besar yang dilakukan untuk membuat Njai Loro Kidoel mendukung proses pengunduhan tersebut.

Gua Goewo Djoembleng terlihat dari titik tertentu. Untuk turunnya digunakan tangga rotan dengan panjang sekitar 150 m. Pendaki dan pelompat yang terampil, yang tidak takut badai laut, juga bisa masuk ke dalam gua.

Sebelum goa Góewo Gedeh, menuruni  bebatuan dilakukan dengan tangga tali dengan panjang sekitar 100 m. Gua ini memiliki kedalaman sekitar 800 m dalam arah horizontal dan memiliki selusin lorong samping di bagian dalam. Akses menuju goa ini dibuat dengan menggunakan bambu yang dilekatkan pada bebatuan sebagai alas jalan dan penyangga.

Bambu-bambu ini digantung pada lubang-lubang yang sudah dibuat sebelumnya di bebatuan dengan cara dililit, sehingga memasuki jalan terbuat dari bambu akan menyebabkan gerakan bergoyang. Tidak disarankan bagi orang yang takut akan ruang dan saraf yang lemah untuk memasuki gua.

Sarang burung walet diekspor utamanya ke Cina dan Singapura, yang sebagian besar dikonsumsi oleh orang Cina sebagai versterkend middel (obat kesembuhan).

Menyaksikan panen sangat menarik. Ketika pasanggrahan dan jalan melalui kabupaten Karanganjar sudah disiapkan dengan baik dan makanan disediakan, disarankan untuk tinggal di pasanggrahan di Karangbolong.

Nama Karangbolong banyak disebut dalam sejumlah  berita dikaitkan dengan aktivitas pengunduhan sarang walet al., Karang Bolong en Groot van Idjoe (De Preanger-Bode, 19 Juni 1912), Karang  Bolong  (De Locomotief, 25 September 1919), Karang Bolong, (De Nederlande, 31 Juli 1920), Een Tocht Naar Karang Bolong (Algemeen Handelsblad, 11 April 1927).

Koran Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch Indie, 11 April 1927

Peran sentral Ratu Kidul (dalam koran berbahasa Belanda disebut Njai Loro Kidoel) telah dikenal di Karang Bolong sejak era kolonial berkaitan dengan sejumlah kegiatan upacara penghormatan sebelum pelaksanaan pengunduhan sarang lawet. Dalam sebuah artikel yang dibuat oleh seorang pengunjung dengan judul, Naar Karang Bolong (Menuju Karang Bolong) yang dimuat Bataviaasch Nieuwsblad (30 Mei 1925) diberikan sejumlah deskripsi menarik sbb:

Sesampai di sana, kami harus keluar untuk melanjutkan perjalanan. Mengunjungi gudang sebelumnya, berdiri di sebelah pasanggrahan, yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan sarang-sarang burung sebelum dikirim, dan di mana beberapa benda luar biasa dapat dilihat, berkaitan dengan oepacara – perhiasan mahal - dan poesaka, yaitu pusaka dari keluarga Bupati Karang - Anjar dan yang terkait dengan Ratoe Loro Kidoel, putri perawan dari Laut Selatan. 

Perkakas tersebut terdiri dari burung suci Garoeda dan tempat tidur sang dewi, kepada siapa orang-orang secara teratur berkorban: hari ini lebih dari biasanya, karena orang akan memulai pengunduhan sarang burung Lawet.

Nama dua gua utama pengunduhan sarang burung sudah disebutkan yaitu Gua Gedeh dan Gua Djoembleng. Keberadaan sarang burung lawet dilaporkan telah diekspor sampai ke Singgapura, Cina dan Ghana sebagaimana disitir dalam berita berjudul, De Plaats Der Eetbare Vogelnestjes:Karangbolong (Lokasi Sarang Burung Walet: Karangbolong) oleh surat kabar De Sumatra Post (30 Mei 1931).

Koran De Indische Courant, 7 April 1927

Nama Gua Gedeh dan Gua Djoembleng masih muncul dalam sebuah buku panduan berjudul, Pedoman Tamasja Jawa Tengah pada tahun 1961. Mengenai Gua Gede disebutkan demikian, Dari Karangbolong ke Goa Gede kira-kira 2 km, Goa Lengkung kira-kira 6 km dan Goa Karangduwur kira-kira 10 km (R.O. Simatupang, 1961:23). 

Demikian pula dikatakan mengenai Gua Djoembleng demikian, Dua kilometer kemudian barulah anda akan sampai di suatu puntjak, di bawahnya terdapat satu goa besar dinamakan Goa Djumbleng. Ini adalah salah satu dari beberapa goa jang paling besar, jang menghasilkan sarang burung (1961:25).

De Jonge Wacht No 30/1936

Tidak ada yang berubah dalam hal metode pengunduhan sarang burung sejak era kolonial hingga era kemerdekaan termasuk masa kini. Istilah gandek telah dikenal saat itu sebagai orang yang bertugas mengambil sarang burung Lawet (dalam sebuah wawancara yang dilakukan penulis beberapa bulan lalu, sebenarnya ada beberapa hirarkhi petugas selain gandek antara lain sotir). 

Sebuah artikel berjudul, Naar Karang Bolong (Menuju Karang Bolong) yang dimuat dalam Bataviaasch Nieuwsblad (30 Mei 1925) memberikan sebuah deskripsi menarik mengenai bagaimana sarang-sarang lawet tersebut diperoleh sbb:

Semua alat memiliki bentuk yang sangat primitif (primitief van vorm) dan membuat turunnya para pengunduh sarang burung (de plukkers) akan menjadi pemandangan yang begitu menakutkan. Tangga tali diikat ke akar pohon dengan tali-doek. Mereka selalu melakukan itu dan para gandek (de gandeks) tidak menginginkan perubahan dalam hal itu: itu akan menjadi mboten slamet, sebagaimana salah satu dari mereka meyakinkan kami.

Di Karangbolong, mitos (kisah penemuan sarang burung yang menyembuhkan) dan sejarah (proses pengunduhan sarang walet sejak era kolonial) berjumpa dan saling mengisi serta membentuk landskap kebudayaan manusia dalam merespon tantangan alam.

Pengunduhan Sarang Walet dan Kepercayaan Lokal

Folklore yang berkembang terkait keberadaan sarang lawet dan khasiatnya di Karang Bolong, dikaitkan dengan sebuah kisah sakitnya istri Raja Kartasura yang tidak kunjung mengalami kesembuhan. Berbagai tabib telah diperintahkan untuk menyembuhkan namun tidak ada satupun yang mampu menyembuhkan sakit istri raja.

Penasihat istana menyarankan agar Sang Raja bersemedi dan maneges (meminta petunjuk Tuhan). Pada suatu hari saat bersemedi, terdengarlah suara yang berkata, Hentikanlah semedimu, ambillah bunga karang di tepi pantai selatan. Dengan bunga karang itulah permaisuri akan sembuh!. Beberapa versi menyebut “jamur karang” untuk menamai “bunga karang” yang dimaksudkan.

Beberapa hari kemudian, Sang Raja menugaskan Adipati Surti untuk mencari dan menemukan serta mengambil bunga karang tersebut. Untuk membantu tugasnya, Adipati Surti, memilih dua orang pengawal setianya yang bernama Sanglar dan Sanglur untuk menemaninya.

Setelah beberapa hari kemudian, Adipati Surti beserta kedua pembantunya tiba di Karang Bolong. Adipati Surti masuk ke dalam sebuah goa dan melakukan semedi di dalamnya. Saat bersemedi itulah Adipati Surti mendengar suara seorang perempuan. Hentikanlah semedimu, aku akan mengabulkan permintaanmu. Tapi kau harus memenuhi semua persyaratanku!. Adipati Surti membuka matanya, di hadapannya dia melihat seorang perempuan cantik. Perempuan itu memperkenalkan namanya sebagau Suryawati. Dia adalah abdi dari Nyi Roro Kidul yang menguasai Laut Selatan.

Namun ada syarat yang diminta oleh Suryawati kepada Adipati Surti, bilamana dia telah menemukan “bunga karang”, dia harus kembali tinggal ke Karang Bolong dan tinggal bersamanya. Setelah menyanggupi, Suryawati membawa dan menunjukkan kepada Adipati Surti benda yang dimaksudkan sebagai “bunga/jamur karang” yang tiada lain adalah “sarang burung Walet/Lawet”.

Singkat cerita setelah membawa benda yang maksudkan dan diserahkan kepada Sang Raja dan istrinya mengalami kesembuhan, Adipati Surti kembali ke Karang Bolong untuk memenuhi janjinya dan tinggal di sana menjadi suami Suryawati.

Pengunduhan Sarang Walet dan Aktivitas Sosial Budaya

Th. Pigeud dalam bukunya, De Javaanse Volksvertoningen: Bijdrage Tot De Beschrijving Van Land en Volk (Batavia: Volkslectuur, 1938) mengulas mengenai berbagai kegiatan seni tradisi yang masih berlangsung ataupun yang sudah mengalami kepunahan di Jawa termasuk wilayah Kedu. Di dalam buku ini dilaporkan juga mengenai sejumlah aktivitas dan tindakan kebudayaan di wilayah Karangbolong berkaitan dengan pengunduhan sarang walet yang bukan hanya sekedar tindakan ekonomi melainkan tindakan kebudayaan tradisional.

De Javaanse Volksvertoningen: Bijdrage Tot De Beschrijving Van Land en Volk, 1938

Nampaknya Pigeaud mengandalkan laporan beberapa surat kabar yang melaporkan sejumlah aktivitas sosial budaya berkaitan dengan pengunduhan sarang walet pada bulan tertentu. Sebelum dilaksanakan pengunduhan sarang walet, diadakan pementasan pentas wayang orang dengan lakon Prabu Rama dan pementasan seni topeng (maskerspel) dengan lakon Panji Asmarabangun. Pada masa itu, para penyewa gua untuk mendapatkan burung walet adalah orang-orang Tionghoa untuk diekspor ke Tiongkok.

Dalam tulisan Pigeaud dijelaskan urut-urutan pesta rakyat di Karangbolong setiap pengunduhan sarang walet di mangsa kesanga (akhir April), mangsa telor (akhir Agustus), mangsa kapat (akhir Desember). Jika panen walet tiba, uang yang dikumpulkan para kepala distrik akan dibelikan sembilan kerbau dan satu kambing.

Kegiatan dimulai hari kamis malam jumat dengan melakukan pembersihan tebing dan gua. Jumat pagi kerbau disembelih dan dipotong kecil serta disajikan di tiga gua. Jumat petang tukang kembang akan memberi sesaji di makam Kyai Bekel (yang pernah membunuh Kyai Surti). 

Jumat malam Sabtu selain pertunjukan wayang purwo juga ditampilkan kesenian topeng dengan lakon Panji Asmarabangun. Pada Sabtu pagi pengunduhan dimulai dan selama satu Minggu diadakan tayuban (1938:101-102).

Sampai hari ini pengunduhan yang telah berakar sejak era kolonial masih tetap berlangsung. Namun demikian, intensitas pengunduhan sarang walet mengalami penurunan dari tahun ke tahun khususnya di tahun 2000-an dan hanya menyisakan sejumlah kecil pekerja pengunduhan sarang walet di desa Karangduwur, Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen.

Demikian pula sejumlah pesta rakyat yang menyertainya (tayuban dan wayang orang serta beberapa ritual penyembelihan korban) telah lama tidak berlangsung. Sejumlah lukisan yang di pajang di ruangan pesanggrahan Ratu Kidul sekarang ini memperlihatkan jejak-jejak aktivitas budaya masyarakat di sekitar pengunduhan sarang walet pada suatu masa ketika masih berjaya.

Mungkinkah menghidupkan kembali sarang walet sebagai sebuah komoditas ekonomi? Mungkinkah menghidupkan kembali keriuhan pesta rakyat yang pernah tercatat dalam dokumen-dokumen dan buku kebudayaan yang ditulis sejak era kolonial? Nampaknya tidak ada jawaban tunggal. Jawabannya berpulang pada kita semua yang berkepentingan dengan tindakan ekonomi dan tindakan kultural di Karangbolong.