Kehidupan baru sebagai mahasiswa membuat sebagian orang kadang merasa lepas dari kungkungan. Orang yang biasa hidup dalam keterbatasan di desa dan pengawasan orang tua mendadak mendapatkan segalanya dengan mudah ketika di kota. 

Apalagi mahasiswa yang notabene masih dalam masa penasaran yang tinggi, akan sangat mudah terpengaruh dan mencoba hal-hal baru walaupun beberapa hal tersebut sia-sia, bahkan tergolong bahaya.

Apa saja godaan-godaan kota yang biasanya dihadapi mahasiswa baru dan tentu saja harus dihindari? Berikut akan penulis jelaskan berdasarkan pengalaman pribadi agar kamu waspada. 

1. Narkoba

Tugas menumpuk, kepala stress akibat pola hidup kuliah padat, lalu ditambah uang kiriman berlebih yang rutin datang membuat sebagian mahasiswa mencari akal untuk menciptakan kesenangan. Meski harus dengan cara-cara yang dilarang.

Bukan rahasia lagi kalau kampus adalah pasar narkoba yang cukup besar. Kalau niat sudah ada, tak perlu waktu lama. Menoleh ke kanan-kiri sedikit, maka narkoba jenis apa pun bisa dengan mudah didapatkan. 

Bukan hanya bahaya bagi kesehatan, tapi kebiasaan mencari kesenangan dengan cara terlarang ini juga menyebabkan kamu kecanduan dan bisa jadi akan menguras seluruh hidupmu. Mulai dari uang, waktu, hingga kuliah yang bisa saja hancur berantakan.

Jadi hati-hati, ya. Kalau ada yang datang merayu dan menggodamu dengan tawaran bermacam-macam untuk menggunakan narkoba, ingatlah akibat jangka panjang yang akan ditimbulkan, ingatlah dosa yang akan kamu tanggung, ingatlah wajah orang tuamu ketika nahas kamu terciduk, dan ingatlah keburukan-keburukan lain yang mungkin akan terjadi suatu waktu nanti.

2. Mabuk-mabukan

Walau pun kamu tidak akan ditangkap polisi dan dipenjara atau terjerat pasal pidana kalau mabuk, tapi tetap saja mabuk adalah hal yang negatif. Selain melanggar aturan agama, yakinlah tidak ada satu pun orang tua yang rela melihat anaknya yang kuliah punya hobi mabuk-mabukan di perantauan.

Hampir sama sepereti narkoba, mendapatkan minuman keras bahkan lebih mudah lagi. Apalagi dengan suasana kompleks kos-kosan yang biasanya bebas dan bersifat individualistis, membuat aktivitas ini dianggap lumrah oleh kebanyakan mahasiswa, bahkan juga warga sekitar. 

Salah satu dampak paling ringan yang akan kamu dapatkan setelah malam hari mabuk bersama teman-teman adalah kamu akan bangun kesiangan. Kalau kamu muslim, tentu kamu akan melewatkan waktu salat subuhmu. Begitu pun kalau kamu ada jadwal kuliah. Padahal, kamu bisa manfaatkan pagimu dengan banyak aktivitas positif.

Itu baru dampak kecil. Belum lagi ginjalmu yang akan terus tergerus oleh minuman keras. Uangmu juga akan habis untuk membelinya yang memang harganya cukup mahal. Dan banyak lagi dampak bahaya lainnya.

3. Kebablasan Bermain Game

Kehidupan kampus yang kadang sulit dan menjenuhkan membuat kita secara psikologis akan sering mencari hiburan. Salah satu hiburan yang paling mudah untuk dilakukan adalah bermain game.

Tidak ada yang salah dengan game sampai kamu mulai lupa bahwa game hanya hiburan dan menjadikannya sebagai rutinitas. 

Pagi, siang, sore, apalagi malam. Saat dosen menerangkan, saat di kantin, saat ngobrol dengan teman, saat di kamar mandi, saat di halte menunggu bus, saat khotbah Jumat, saat gotong royong, saat buang air besar, saat memasak, saat memesan makanan, saat olahraga, dan banyak saat-saat absurd lainnya yang memang kadang tidak di waktu dan tempat lumrahnya bermain game. Misalnya, nonton konser. Kok bisa coba? Heran.

Sesuatu yang baik akan menjadi buruk ketika dilakukan dengan berlebihan. Game yang awalnya hanya sebatas hiburan, menjadi toxic nyata bagi kehidupanmu jika kamu tidak mampu mengontrolnya. 

Waktumu akan terbengkalai. Jadwal kuliah bahkan jadwal makan serta ibadahmu juga akan amburadul. Betapa banyak mahasiswa mengidap mag karena bermain game? Lupa makan, hingga perut kosong dengan hanya diisi minuman bersoda.

Lakukanlah sesuatu sesuai tarafnya. Bermain game akan bermanfaat jika meletakkannya pada porsi yang tepat.

4. Lawan Jenis

Rasa suka dan cinta itu manusiawi. Tapi jangan sampai hal tersebut menghambat aktivitasmu. Malah sebaliknya, justru seharusnya jadikan cinta sebagai penyemangatmu dalam menempuh kehidupan.

Untuk sebagian besar orang yang menganggap pacaran itu sah-sah saja, perhatikan, ya. Jangan sampai hubungan pacaran jadi mirip hubungan suami istri. Si dia itu bukan pasangan sahmu! Jadikanlah dia sebagai temanmu berkeluh kesah, diskusi, dan tempat bercerita. Bukan tempat tidur!

5. Sahabat

Berteman dengan semua orang itu baik, namun tidak dengan bersahabat. Sahabat adalah orang yang secara personal memiliki kedekatan dengan kita. 

Di masa kuliah, apalagi jika kamu punya sifat humble dan friendly, akan banyak orang yang pasti menyukaimu. Dengan begitu, kamu juga akan dengan mudah mendapatkan sahabat. 

Tapi hati-hati, di tempat sebebas kota, tempat tanpa pengawasan orang tua, sahabat yang buruk bisa menjerumuskanmu jauh dari apa yang pernah kamu bayangkan.

Beberapa poin di atas, seluruh intinya bisa direduksi menjadi poin kelima ini saja. Kenapa? Karena ketika kita salah atau dengan sengaja memilih pergaulan yang salah dalam memaknai kebebasan, maka sekuat apa pun kita menahan diri untuk bertahan, pelahan-lahan semua itu akan hancur. 

Karena itulah ada pepatah yang mengatakan bahwa teman (dekat) adalah cerminan diri. Dengan seperti kebanyakan apa kamu berteman dekat dan bersahabat, seperti itu pulalah kamu, atau kamu akan berubah.

Jadi bijaksana, ya, dalam berkehidupan selama kuliah. Apresiasi kebebasan yang kamu miliki sekarang dengan mengeksplore potensi yang ada dalam dirimu. 

Bila kamu jenuh dan bosan serta butuh hiburan, cari pilihan yang sekiranya positif dan bermanfaat. Bisa dengan bermain futsal, basket, jalan-jalan ke toko buku, berorganisasi, bercengkrama dengan ibu-ibu kompleks, membuat kue, membuat kerajinan, menulis, membaca buku, mendaki gunung, berenang di danau kampus, memotret, iseng-iseng ke pasar tradisional, menemani nenek di depan kosan yang sepuh, mengajari anak Pak Ustaz mengaji, dan jutaan kebaikan lainnya.