Pencipta Lagu
1 bulan lalu · 17 view · 8 min baca menit baca · Lingkungan 25541_94521.jpg

Yang Dibutuhkan Tapi Juga Yang Mengancam

Kertas dan plastik, tiap hari dijumpai dan hampir tiap hari digunakan. Dua benda tersebut sangat dekat dengan keseharian manusia. Berbicara mengenai kertas, sangat tinggi intensitasnya bagi aktivitas manusia. Para pelajar ketika mengerjakan latihan soalnya dikelas biasanya menggunakan buku tulis sebagai media tulisnya.

Kemudian tissue, yang digunakan untuk membersihkan sesuatu, misalnya permukaan meja yang terkena tumpahan kopi, nota tulis manual yang biasanya masih digunakan oleh toko-toko tradisional, kertas kado yang umumnya digunakan untuk membungkus benda sebagai hadiah bagi sanak-saudara/teman yang sedang berulang tahun.

Bahkan, pedagang makanan ringan seperti gorengan biasanya melapisi kemasan plastiknya dengan selembaran kertas, entah itu koran bekas, lembaran-lembaran bekas teka-teki silang (TTS) atau bekas lembar kerja siswa (LKS) yang sudah tidak dipakai.

Realita tersebut ingin mengatakan bahwa, manusia membutuhkan yang namanya kertas. Hampir disetiap aktivitas, walau saat ini kita berada pada era modern, yang segala sesuatunya serba online, eksistensi kertas belum tergantikan.

Di perkatoran, di pasar, di tempat-tempat wisata, di rumah, di mall, di sekolah, dan berbagai tempat lainnya. Kertas masih menjadi aktor yang berperan untuk mendukung kegiatan-kegiatan tiap orang, tiap komunitas, tiap organisasi maupun perusahaan. Sehingga tidak dapat disangkal, kertas telah menjadi kebutuhan primer.

Kertas menjadi sesuatu yang mendukung berbagai kepentingan manusia, berperan bagi segala upaya cita dan cinta, bagaimana tidak? Ijazah pendidikan itu terbuat dari kertas, undangan pernikahan kamu dengan dia nantinya terbuat dari kertas. Nampaknya kertas menjadi jejak-jejak  peristiwa penting kehidupan manusia.

Selain kita tahu bahwa kita mebutuhkan kertas, pernahkah kita mencari tahu proses pembuatan kertas. Sebagian besar kertas berasal dari pohon. Serat kayu yang didapat dari hasil menebang pohon, kemudian diproses sedemikian rupa menjadi pulp (bubur kertas) sebagai bahan baku yang nantinya akan dijadikan berbagai jenis kertas.

Kita tahu kita membutuhkan kertas, tapi ada ancaman dan dampak yang dihadirkan setelahnya. Ada banyak pohon ditebang atas permintaan terhadap kertas yang begitu tinggi. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri mengatakan, “Saat ini konsumsi kertas di dunia mencapai 394 juta ton dan akan terus meningkat menjadi 490 juta ton pada tahun 2020.”

Kebutuhan kertas nasional diketahui sekitar 5,6 juta ton per tahun. Untuk membuatnya diperlukan bahan baku kayu dalam jumlah yang sangat besar. Sementara itu, untuk memproduksi 1 rim kertas diperlukan 1 batang pohon usia sekitar 5 tahun, dan untuk menghasilkan 2 pack tissue berisi 40 sheet membutuhkan 1 batang pohon usia 6 tahun.

Kemudian apa dampak dari tingginya konsumsi kertas? Sebelum berbicara mengenai hal itu mari kita membahas terlebih dahulu mengenai plastik. Sebagaimana kertas, plastik masih menjadi primadona untuk mendukung kebutuhan manusia.

Setiap keluar dari supermarket pasti ada benda/makanan yang kita beli dengan kemasan berbahan dasar plastik. Produk-produk yang dihasilkan mulai dari brand terkenal hingga brand lokal nyaris berbahan dasar plastik, 99,9%.


Coba saja lihat di kamar mandi kita masing-masing, mulai dari yang membersihkan rambut, gigi, wajah, hingga tubuh, kemasannya pasti berbahan dasar plastik.

Menjadi dilema ketika kita tidak punya pilihan, industri besar memaksa kita sebagai konsumen untuk mau tidak mau, setuju tidak setuju tetap menggunakan yang namanya plastik. Karena memang itu yang diciptakan.

Lalu ancaman apa yang akan melanda makhluk hidup di muka bumi ini, khususnya manusia. Dengan tren mudahnya kita membuang sampah plastik sembarangan.

Sampah plastik menjadi penghuni lautan selain ikan dan penghuni biota laut lainnya, di pesisir pantai plastik nongkrong dengan sesama rekannya, menjadi wujud sampah yang tidak indah dipandang mata, dan tidak nyaman berbaur dengan raga.

Pernahkah kita merasa sangat tidak nyaman saat berkunjung kesuatu tempat wisata, misalnya pantai, karena disana terdapat banyak sekali sampah, jawabannya pasti. Alih-alih ingin refreshing justru jadi pusing.

Mengapa sampah, khususnya sampah plastik, yang butuh waktu beratus-ratus tahun lamanya agar dapat terurai bisa berada dilautan? Jika bukan ulah manusia, siapa lagi?

Banyak kisah pilu dan sangat mengiris nurani. Sebagian dari kita mungkin pernah mendengar kematian paus sperma, yang mati karena didalam perutnya terdapat 5,9 kilogram sampah plastik, ini terjadi di Wakatobi dari perairan desa Kapota, Kecamatan Wangi-wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi Sulawesi Tenggara.

Tidak hanya itu, seekor penyu berjenis Lekang ditemukan mati di kawasan Pantai Congot, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulonprogo, DIY. Terlihat sampah plastik keluar dari lubang pembuangan (dubur) penyu. Masih banyak hewan yang menjadi korban keegoisan manusia. Itu kisah yang dijumpai, belum dengan kisa-kisah yang tidak diketahui.

Tidak hanya di Indonesia, di negara lain pun sama, ada kisah pilu yang terjadi. Artinya, masalah penggunaan plastik sekali pakai yang sukar terurai kemudian berakhir menjadi sampah plastik, telah menjadi masalah bagi dunia, yang tidak bisa dianggap remeh. Persolana ini menjadi tantangan bersama.

Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia adalah negara penyumbang sampah plastik terbesar nomor dua setelah Tiongkok.

Konsumsi rakyat Indonesia terhadap penggunaan plastik sangat tinggi. Menurut pusat penelitian kimia konsumsi plastik di Indonesia per kapita sudah mencapai 17 kilogram per tahun dengan pertumbuhan konsumsi mencapai 6-7 persen per tahun.

Dilansir dari National Geographic, setiap tahun sebanyak 1,29 juta metrik ton sampah plastik Indonesia berakhir di lautan. Terbayang seperti apa? Bayangkan saja, ini dapat disamakan seperti 215 ekor Gajah Afrika jantan dewasa dengan bobot masing-masing seberat 6 ton.

Ini menggambarkan, ketergantungan manusia terhadap plastik sangat tinggi. Lalu pertanyaan selanjutnya siapa yang salah? Sangat klasik jika kita selalu tunjuk-menunjuk, tidak akan ada perubahan jika kita masih saling menyalahkan satu sama lain.

Demikian dengan kertas. Semuanya menggunakan, pada akhirnya menuntut industri untuk memenuhi kebutuhan atas permintaan. Pohon menjadi korban, mudah menebangnya namun sulit menunggu pohon tersebut tumbuh besar dan lebat, ini jelas tidak sebanding.


100 pohon ditebang mungkin hanya membutuhkan waktu satu hari, sedangkan untuk menumbuhkan 100 pohon membutuhkan waktu belasan hingga puluhan tahun lamanya.

Walau disi lain ada beberapa industri kertas yang menggunakan sistem daur ulang untuk memenuhi permintaan konsumen, limbah kertas yang diolah kembali. Ini menjadi langkah yang sangat baik bagi kelestarian lingkungan.

Persoalan tetap ada. Akibat dari penebangan pohon yang berada di hutan, hutan menjadi gundul, longsor, kualitas udara yang buruk, satwa kehilangan rumahnya.

Lalu siapa lagi yang salah disini? Industri kertas, korporasi, para penebang hutan liar, atau pemerintah yang katanya tidak tegas, kebijakan yang tidak mampu menyelamatkan hutan? Siapa? Kemudian saling menyalahkan kembali.

Demikian ini seolah menjadi perbincangan yang tidak berujung, tidak ada solusi. Semua akhirnya kembali pada kesehariannya, sekadar menjadi diskusi formalitas diberbagai acara-acara seminar, selintas info yang disiarkan oleh berita dalam layar kaca yang lebih lama iklannya.

Terus bagaimana? Saya pun sejujurnya tidak tahu. Bahkan saya pun masih  berproses, apa yang bisa saya berikan bagi keadaan yang serba salah saat ini.

Namun, saat ini banyak gerakan lingkungan hijau, banyak komunitas/organisasi nirlaba yang mendedikasikan waktu, tenaga, gagasan serta finansialnya untuk memberikan perubahan, setidaknya menyadarkan. Paling tidak mengajak peduli mulai dari pikiran (bersimpati). Syukur-syukur ada sumbangsih tindakan (berempati).

Salah satu organisasi/komunitas yang peduli terhadap lingkungan khususnya hutan ialah, Hutan Itu Indonesia. Saya sangat mengapresiasi gerakan-gerakan yang dilakukan oleh organisasi ini, karena organisasi ini sangat fokus terhadap kelestarian hutan. Idealisme yang tidak sekadar ucapan, namun ada kontribusi nyata yang diberikan.

Hutan bagi mereka adalah sahabat, pohon adalah kawan yang tidak akan pernah menyakiti. Sedalam itu mereka memaknai hutan. Sedangkan disisi lain banyak pihak yang tidak peduli, yang penting semuanya sama-sama enak dan isi kantong penuh terisi.

Tidak munafik, kertas kita butuhkan. Tidak dipungkiri, kertas telah banyak berjasa bagi sejarah peradaban manusia, hingga detik ini. Lantas, apa yang perlu kita lakukan agar apa yang kita butuhkan tetap menjadi sesuatu yang tidak mengancam.

Saya orang yang tidak mau terlalu jauh untuk memberikan tindakan terhadap sesuatu permasalahan yang besar, apalagi sesuatu yang ingin dilakukan hanya sejauh ucapan. Tentu ujungnya tidak merubah apa-apa, berakhir sebagai wacana. Saya lebih suka segala hal yang kita khawatirkan kemudian kita benahi dari diri sendiri, berikan hal yang terlihat kecil namun pasti.

Misalnya, tidak boros terhadap penggunaan kertas, menghemat dalam menggunakan tissue, atau usahakan dirumah tidak menggunakan tissue, bisa kita ganti dengan kain lap (serbet) untuk membersihkan sesuatu, atau saat sedang berolahraga pun kita bisa bawa handuk kecil untuk mengelap keringat tanpa menggunakan tissue.

Dengan tidak boros menggunakan kertas berarti permintaan terhadap kertas akan menurun, pembabatan terhadap pohon memungkinkan akan semakin minim. Pun sama halnya dengan plastik, kita bisa mulai mengurangi penggunaan benda berbahan dasar plastik sekali pakai.


Saat ini banyak sekali gerakan zero waste, memang agak sulit jika kita berpikir pragmatis, jika kita tidak ada niat, tapi ini suatu proses bahwa di dunia ini memang tidak ada yang bim-salabim. Tapi setidaknya, kita mulai untuk sedikit demi sedikit memulai perubahan, diawali dari diri sendiri.

Banyak tips yang dapat dilakukan, dalam mengurangi penggunaan sampah plastik sekali pakai. Bisa kita mulai dengan membawa tempat minum sendiri (tumbler), dengan cara ini kita tidak perlu membeli air kemasan yang kemasannya akan menjadi sampah setelah isinya habis.

Banyak kantor-kantor yang telah menerapkan hal ini, mewajibkan para pegawainya membawa tempat minum masing-masing, air tinggal di isi ulang dari air galon yang telah disediakan.

Bisa juga dengan mengurangi penggunaan sedotan plastik. Saat ini banyak sekali yang menjual sedotan yang terbuat dari stainless straw dan bambu, ini dapat menjadi pilihan yang baik untuk meminimalisir lahirnya sampah plastik baru, atau jangan dikit-dikit pakai sedotan, langsung saja minum tanpa sedotan. Gambar dibawah ini adalah sedotan bambu yang saya buat sendiri.

Ada banyak pandangan yang perlu kita tempatkan sebagaima mestinya. Dilematis terkadang menjadikan manusia memilih untuk apatis. Disisi lain kita membutuhkan kertas dan plastik, disisi lainnya, ada ancaman serius bagi kehidupan manusia kedepan.

Dunia teramat luas, manusia teramat banyak. Mustahil kita memegang kendali atas semuanya. Bahkan memegang kendali bagi diri sendiri saja terkadang masih sulit. Hehehe. Paling realistis adalah mendedikasikan diri sendiri, biarkan yang lain mengikuti.

Kertas dan plastik akan selalu dibutuhkan manusia. Saat ini tinggal bagaimana kita menyeimbangkan apa yang kita gunakan tidak menciptakan konsekuensi yang lebih besar. Antisipasi perlu ada, kepedulian perlu terus dinyalakan, bahwa kita perlu berpikir mengenai masa depan penerus kita.

Tugas manusia mengambil tanpa merusak. Tugas manusia menikmati dengan tetap merawat. Jangan sampai dari apa yang kita butuhkan, justru mengancam kehidupan.

Artikel Terkait