Jauh sebelum Donald Trump menggunakan ujaran kebencian di pilpres AS atau Narendra Modi menggunakan hal yang sama di India, hate speech telah bersemayam di sekat-sekat kehidupan kita, bahkan sejak usia belia.

Saya masih ingat peristiwa dulu, bagaimana ketua genk di sekolah coba memanipulasi rekan-rekan yang lain agar ikut membenci saya. Tentu saja itu memiliki motif, agar kebenciannya ikut diamini teman-teman saya.

Pilkada DKI Jakarta adalah contoh lain yang sama relevannya bagaimana pelintiran kebencian itu diproduksi sedemikian masif dan terstruktur. Dikelola secara profesional oleh aktor di belakang layar (baik kalangan politisi dan agamawan), ujaran kebencian menjadi alat paling efektif untuk merebut kekuasaan politik.

Adalah buku maha komprehensif dengan situasi sosial-politik kita saat ini. Pelintiran Kebencian (2017), karya Cherian George, sang guru besar ilmu media dan Jurnalistik di Baptist University, Hong Kong, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh tim PUSAD Paramadina. Sebagai penulis buku Pelintiran Kebencian, George amat mendalami sekali perannya sebagai peneliti.

Sebagai akademisi, sudah menjadi tugasnya untuk menyingkap tabir. Rasanya, adalah hal yang tepat buku ini saya jadikan panduan untuk mengupas gejala benci-membenci ini.

Dengan menggunakan kata “Pelintiran Kebencian”, pembaca bukunya George akan diajak menyelami hasil investigasi George selama bertahun-tahun tentang politik identitas. George menganalogikan adanya partikel-partikel “bau amis” dalam ujaran kebencian yang ditimbulkan—sehingga menurutnya lebih tepat menggunakan terminologi “pelintiran kebencian”.

George berujar, “pelintiran kebencian adalah tindakan penghinaan dan ketersinggungan yang sengaja diciptakan, dan digunakan sebagai strategi politik yang mengeksploitasi identitas kelompok guna memobilisasi pendukung dan menekan lawan politik.”

Dalam bukunya, George dengan gamblang mengejewantahkan ujaran kebencian sebagai penggerak tindakan agresif. Dengan tidak menafikan kebebasan berekspresi yang menjadi hak fundamental manusia.

Dengan kata lain, adanya pemanfaatan kebebasan berekspresi yang dijadikan dalih untuk melakukan persekusi kepada kelompok rentan jadi observasi George selama penulisan buku itu. Sudah banyak sekali contoh konkret terkait perundungan yang terjadi di Indonesia, yang kebetulan dibahas juga oleh George.

Apabila hal ini amat erat kaitannya dengan politik identitas yang telah menjadi isu global, mengenai bahayanya pelintiran kebencian harus terus disuarakan. Namun, pelintiran kebencian perlu lebih diperluas lagi kajiannya, karena diskursus pelintiran kebencian, dengan diksi yang agitatif, terlalu fokus pada isu SARA.

Maka dari itu, selain SARA, memproduksi slogan bermuatan fasisme nasionalis pun sama bahayanya. Saya coba ambil contoh dari pidato Gubernur DKI Jakarta terpilih Anies Baswedan. Sesaat setelah menjalani pelantikan, ia berpidato dengan menggunakan narasi kepribumian yang memantik ketersinggungan publik.

Sontak saja, setelah pidato pribumi itu, kebencian terhadap etnis tionghoa makin menguat karena sebagian masyarakat Indonesia masih menganggap mereka adalah non-pribumi. Menilik dari sejarahnya, menyoal pribumi atau non-pribumi jadi duri dalam daging bangsa kita.

Sebagai alat politik, pelintiran kebencian amat efektif, semuanya bisa di kemas bahkan dalam isu ekonomi sekalipun, seperti wacana tenaga kerja asing dari Tiongkok. Tentu ini menjadi isu yang seksi, ultra—nasionalis konservatif menjadikan isu tenaga kerja asing adalah santapan empuk bagi makelar politik untuk memainkan psiko-sosial masyarakat yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.

Di Eropa maupun Amerika, isu nasionalisme dan imigran juga mirip seperti isu TKA di Indonesia. Presiden Amerika saat ini, Donald Trump sudah pasti menjadi ikon yang memproduksi serta menerapkan kebijakan anti imigran.

Dalam bukunya, George mengidentifikasi tindakan pelaku ujaran kebencian kerapkali menempatkan diri sebagai korban, jenisnya selalu sama; standar ganda. Aksi perundungan hingga tindakan intoleransi sering di barengi dengan menempatkan diri mereka sebagai korban. Tersinggung karena ekspresi verbal cenderung dibalas dengan tindakan kekerasan dan bahkan pembunuhan.

Parasit Demokrasi

Saya jadi ingat dengan kelakuan FPI baru-baru ini saat menggeruduk kantor majalah Tempo, dengan dalih tersinggung oleh karikatur yang menyerupai penampilan Rizieq Shihab, mereka mengintimidasi Tempo, melempar gelas air mineral dan membuang kacamata pimpinan redaksi tempo jadilah hal lumrah bagi FPI.

Bukan hal aneh FPI bertindak seperti itu, sebagai organisasi yang dipimpin oleh sang Habib, sudah jadi rahasia umum jika sedang ceramah, sang habib sangat piawai menata kalimat bermuatan ujaran kebencian terhadap pihak yang tidak disukainya.

Semoga saja tepat, dengan menggunakan terminologi “Parasit Demokrasi”, saya ingin memperluas sebuah paradigma “benalu sosial” ini, yang tujuannya hanya memanfaatkan sistem dan lingkungan sekitar demi kepentingan pribadi. Kita bisa telaah secara mendalam bagaimana orang atau kelompok menjadi sebuah parasit, justru berlaku sangat menjijikkan.

George menjelaskan adanya penegasan antara “mereka” dan “kita” menyebabkan apapun yang dilakukan oleh kelompok yang berbeda bukanlah penilaian obyektif, tapi collateral damage (kerusakan sampingan)

Mengonstruksi golongan luar (out-group) sebagai musuh, kelompok pembenci dapat menarik perhatian anggota baru, membangun solidaritas, dan memobilisasi anggota di sekitar agenda politiknya. Ujaran kebencian kemudian menjadi instrumen politik identitas.

Para sarjana sudah menggambarkan sebuah proses sistematis bagaimana propaganda membuat orang-orang rasional mau bertindak jahat pada orang lain. Hal itulah yang bisa kita saksikan hari ini, propaganda kebencian berhasil memanipulasi psikologi seseorang. Padahal, bias dan prasangka oleh FPI begitu kentara dalam penggerebekannya ke kantor Tempo.

Sama halnya yang dialami Susi Ferawati, seorang Ibu yang sedang menikmati car free day bersama anaknya mengalami persekusi dari sekelompok masyarakat yang mengenakan kaos #2019GantiPresiden. Dalam negara demokrasi, tindakan sekelompok masyarakat yang mengerubungi dan mengintimidasi sang Ibu adalah pelanggaran kebebasan paling nyata saat ini.

Para penindas biasanya mengenyampingkan aspek kemanusiaan sebagai kewajiban moral, kepuasan kolektif untuk menuntaskan tujuan kelompok menjadi satu misi. Misi itu misalnya, seperti intimidasi yang mereka lakukan terhadap kelompok yang mendukung Presiden Jokowi.

Situasi demokrasi seharusnya memungkinkan dua kelompok masyarakat yang berbeda pandangan politik seyogianya berdebat argumentasi secara fair dan konstruktif. Mereka yang membully Bu Susi memudahkan saya mengambil contoh bagaimana parasit demokrasi menggerogoti kebebasan berekspresi dengan merampas hak orang lain.

Parasit demokrasi menggunakan kebenciannya untuk membenarkan perilaku banalnya, sehingga perilaku reaktif yang timbul adalah balasan yang pantas diterima korban. Periksa saja dari video-video yang beredar di linimasa Twitter, Facebook, dan Youtube bagaimana masyarakat yang mendukung pergantian Presiden mengintimidasi Bu Susi.

Lucunya lagi, netizen yang membela para pelaku persekusi menggiring opini dengan mengatakan Bu Susi sengaja menyusupi kelompoknya yang sedang mengampanyekan ganti Presiden. Lah piye toh? Substansinya kan bukan itu? Kalaupun memang benar Bu Susi menggembosi aksi mereka dengan menggunakan kaos #DiaSibukKerja, itu hanyalah respons Bu Susi sebagai pendukung Presiden.

Astaga, Masa iya mereka kena jebakan batman Bu Susi? Selain itu, mereka pun jadi santapan empuk netizen karena tindakan biadabnya, dilaporkan ke polisi pulak oleh PSI. Ahai, kasihan.

Tanpa mengurangi empati saya pada Bu Susi, saya angkat topi untuk beliau. Mengekspresikan pilihan politiknya di acara car free day dengan menggunakan kaos juga adalah sikap yang demokratis, bukan perilaku barbar seperti yang dilakukan pembullynya. Setelah ia jadi korban persekusi, respon kita dalam menghadapi perilaku barbar dengan menyeretnya ke ranah hukum adalah perlawanan manusia beradab terhadap manusia biadab. Saya pikir begitulah seharusnya.