Kesetiaan barangkali adalah doktrin paling radikal dalam hidup. Tak peduli situasi berganti atau alam bertukar rupa, memegang janji setia adalah harga yang dibawa hingga mati. 

Tersebab itulah barangkali, kini di setiap petang, seorang perempuan berusia senja dapat kau jumpai duduk di tangga dermaga. Matanya memandang jauh ke batas air. Dua kakinya merendam resam. Rambut putih berkibar dilamun angin. Ia jadi buah bibir warga di kitaran Senapelan, kecamatan di mana pelabuhan Sungai Duku berada.

Perempuan yang menua di selasar pelabuhan itu pernah mengikat janji pada seorang pemuda yang hendak melarung samudera. Dulu, kala usia masih ranum dan para pemudi begitu mudah memperturutkan hati. Menyediakan diri bertahun-tahun diikat sepi. Lalu, seperti Puti Gondoriah yang ditinggal kembara Nan Tongga, pelaut besar kebanggaan orang Minang itu, tiap pekan sang perempuan menjumpai takdirnya di dermaga.

Tapi kau tak perlu ke pelabuhan mencarinya. Tak ada yang tahu apakah perempuan itu benar-benar nyata. Saya menjumpainya dalam cerpen “Tunggu Aku di Sungai Duku” karya Hary B Koriun, jurnalis senior cum sastrawan Riau yang termuat dalam antologi berjudul sama. 

Saya menemukan antologi itu terselip diantara obralan buku-buku Gramedia, di sebuah rest area dalam perjalanan dari Jakarta ke Pekanbaru akhir Desember 2018. Setelah tuntas membaca, saya pun lama melupakannya.

Hingga pada suatu Sabtu yang gerimis, alam yang romantis mengarahkan saya memutari kota yang baru dikenal. Saya seperti dibimbing mengikuti jalur acak ke sebuah pelabuhan. Di plang penunjuk jalan yang terpampang di perempatan lampu merah, tertulis “Pelabuhan Sungai Duku”. Saya terkesiap.

Sebelumnya, sesaat setelah membaca cerpen bang Hary, saya pernah mencari nama sungai itu di peta, dan tak saya temukan. Di aplikasi google map terpampang nama sungai-sungai besar di Riau beserta anak sungainya. Usut punya usut, rupanya nama “Duku” yang dilekatkan bukan nama resmi yang tercatat secara administrasi.

Mak Etek, penjual tumis kerang di pinggir pelabuhan, bercerita. Pelabuhan dinamai demikian karena di daratan seberang dermaga tumbuh banyak pohon duku. Buah tropis itu menjadi penanda bagi pelabuhan angkutan orang dan barang, seperti pelaut yang menandai persinggahannya dengan peristiwa. 

Sungai Duku sendiri adalah anak sungai Siak yang melewati wilayah Senapelan, salah satu kawasan tua dan bersejarah di kota Pekan Baru.

Pelabuhan biasanya didirikan di muara pertemuan sungai dan laut, atau di teluk yang berhadapan dengan samudera lepas. Tapi pelabuhan Sungai Duku berbeda. Ia mengada jauh ke dalam dari bibir pantai timur yang mengakhiri arus hilir sungai-sungai di Sumatra sebelum berpagut dengan laut. 

Ia berdiri di tepi badan sungai yang melintasi kampung demi kampung. Karakteristik Siak sebagai sungai terdalam di Indonesia memungkinkan pelabuhan berdiri di daerah semacam itu.

Gusti Asnan dalam buku “Sungai dan Sejarah Sumatera”, pendirian pelabuhan yang jauh di pedalaman, pada masa lalu, terutama karena faktor keamanan . Era ketika Raja-raja Pagaruyung menguasai 2/3 pulau Sumatera menjadikan jalur perdagangan pantai timur Sumatera kesohor sebagai  gula-gula yang mengundang para Lanun (bajak laut). 

Pelabuhan Sungai Duku barangkali adalah salah satu dari sekian sisa tinggalan pelabuhan purba yang telah ada sejak abad ke-14.

Disebut milik orang Riau, karena memang sungai ini berhulu dan bermuara di provinsi yang sama. Berbeda dengan tiga sungai besar lainnya, Yaitu Kampar, Indragiri dan Rokan yang melintasi dua provinsi. Berhulu di Sumatera Barat, mengaliri negeri Lancang Kuning dan bermuara ke pantai timur Sumatera.

Di papan informasi museum Sang Nila Utama Pekanbaru, disebut secara etimologis “Riau” berasal dari kata Rio (bahasa Portugis) yang berarti sungai (seperti Rio De Jeneiro). Dulu, orang Belanda menuliskannya “Riouw”.  Kini, penamaan dan penulisannya cukup dengan kata Riau saja.

Saya sendiri kurang setuju dengan rujukan ini. Mengapa selalu merasa perlu menyandarkan diri pada bangsa asing.  Soal asal usul, Riau tentu lebih tua dari penamaan kolonial terhadapnya. Sebutan orang Portugis dan Belanda, sifatnya menguatkan, bukan menjelaskan asal muasal.

Orang melayu Siak telah lama memiliki istilah “meriau” yang artinya musim ikan bermain-main. Di Kuantan, meriau berarti mengumpulkan ikan pada suatu tempat agar mudah ditangkap dalam jumlah yang banyak. Dari sini saya kira asal usul nama Riau.

Jika negeri tetangganya seperti Sumsel dan Jambi dialiri satu sungai besar yaitu Batanghari dan Musi, maka Riau disusui oleh empat sungai besar sekaligus. Dialah negeri sungai. Mata air yang mengaliri kehidupan setempat sejak masa ketika jalan aspal belum mengalihkannya.

Sore itu, pelabuhan tampak sepi. Beberapa pengunjung berpakaian indah datang bukan untuk bepergian. Mereka menikmati suasana selasar pelabuhan dan berfoto serta cengkrama. Beberapa datang dengan pasangan, yang lainnya sekeluarga. 

Setelah selfie, mereka pergi lagi. Pelabuhan ini memang tidak lagi seramai dulu. Lonjakan penumpang dan barang hanya terjadi saat jelang dan selama hari raya, demikian Mak Etek menambahkan.

Didirikan tahun 1976, sungai duku memiliki 12 armada kapal penumpang dan barang yang melayani beberapa rute perjalanan. Pemberangkatan domestik ke Kepulauan Meranti, Bengkalis, Kota Selat Panjang dan sekitarnya. Sedang rute internasional ke Melaka, Malaysia.

Gadis manis penjaga karcis berkisah tentang kedalaman airnya dan kisah mistis buaya putih yang kerap muncul di permukaan air, pertanda banjir akan melanda.

Belajar dari kabar lampau dan catatan yang lalu, jauh sebelum 1976, di tepi sungai ini kemungkinan telah berdiri sebuah pelabuhan tua. Bukan satu, melainkan beberapa titik yang menjadi tempat singgahan dan lalu lalang manusia pada masanya. Seperti halnya di tanah kecintaan saya, Jambi.

Sambil mengunyah kerang tumis sambal kacang racikan Mak Etek, saya menikmati tawa 3 bocah yang unjuk keahlian dengan alat pancingnya dan saling seru untuk berbagi umpan. Dua buah speedboat melaju lumayan kencang, entah hendak kemana. 

Seorang bapak mendayung perahunya yang ditumpangi sepasang pedagang paruh baya yang membawa buntalan-buntalan plastik berukuran besar. Mungkin keduanya baru pulang dari pekan (pasar).

Pelabuhan sungai adalah penanda aktivitas perniagaan yang ramai, baik di masa ini maupun di kelampauan.

Sampai kolonialisme tiba dan membuat rupa baru. Konstruksi negeri-negeri Eropa dibangun di sini. Diatas kontur tanah dan air yang jauh berbeda. Dibangun demi kenyamanan para tuan dan nyonya Belanda. Jembatan dibentangkan untuk menghubungkan daratan. 

Setapak jalan diaspal dan diperlebar. Para kelana kuasa itu tahu, jika mereka tak beradaptasi, di sini mereka hanya akan menjemput mati.

Sejarah kita mencatat, satu faktor penyumbang kekalahan pasukan kolonial dalam perang-perang gerilya adalah ketidakmampuan mereka menghadapi faktor alam. Nyamuk malaria yang ganas di hutan-hutan tropis sumatra adalah salah satu yang bisa disebut. Jumlah yang mati karena gigitan nyamuk tropika jauh lebih banyak ketimbang akibat besutan bedil atau bambu runcing pasukan pribumi.

**

Setelah pandemi, saya bertandang lagi. Tapi pelabuhan itu sudah semakin sepi. Kapal yang singgah nyaris tak ada karena memang juga tak ada lagi yang berangkat. Kapal penumpang ke teluk Meranti hanya berlayar seminggu sekali. Dan kesepian membawa kesedihan yang lain. Mak etek pun tak lagi berjualan. Meja kayu tempat kerang rebusnya digelar mematung di pojok pelabuhan, dibawah kanopi berwarna pudar.

Walau demikian, yang setia tetap ada. Kanak-kanak usia 7 sampai 12 tahun yang riang berlompatan dari anjungan kapal yang tak lagi beroperasi.  Dalam gerombolan yang kadang berjumlah 4 hingga 6 orang, anak-anak ini belum pernah merasakan berlayar menumpangi kapal walau tinggal di bantaran sungai. Mereka hanya menyaksikannya lewat dan mencicip menaikinya saat penumpang telah habis ke daratan.

Seperti perempuan dalam cerpen bang Harry yang bersetia di pelabuhan, mereka menanti kesempatan itu datang walau kemungkinannya semakin menghilang.