Hujan tiba pada sore hari
Begitu menentang terhadap rindu yang tiba sendiri
Awan mendung tak pernah menyesali air yang ditimangnya
Tanah sungguh merasa nestapa tanpa hadirnya
Antara malam dan hujan
Antara engkau dan pelukan
Kekasih,
Ingatlah kala itu secangkir kopi dihadapanku tertawa
Menyaksikan dua pasang mata bertatapan dengan segenap jiwa
Apa arti jarak yang berjauhan
Jika engkau dapat kuraba dalam satu kedipan
Hadirmu memang tak kuharapkan dalam saat ini
Sebab aku tahu jarak dan waktu bukan musabab sebuah esensi
Cukup dalam hati kubawa senyummu
Diperteduhan kusapa hujan di mataku

Yogya, 7 Desember 2019


**


Tak ada yang tahu kenapa desember selalu memberi warna
Jarak dan waktu yang kita hadapi sebab perasaan yang pernah ada
Sebelum kita berdeklarasi perkara cinta
Hati telah memberi sapa dalam sepi
Hatimu yang ramah menjadikan ku rumah
Mungkin untuk saat ini waktu saling pandang sedang pending
Penghujung tahun menjadi isyarat rindu yang rumit seperti renda
Jarak juga alasan kenapa memandang itu seperti mendung
Waktu seakan kelopak yang meminta sua menjadi asa
Ketika kamus kecil pak Jokpin menyapa
Ada satu ungkap yang harus kau tangkap
"Ketika akhirnya matamu mati
Kita sudah menjadi kalimat tunggal
Yang ingin tinggal
Dan berharap tak ada yang bakal tanggal"

J-J, 9 Desember 2019

**

Adinda, kasihku
Ku haturkan rindu untuk hatimu yang sendu, seperti daun kering yang menanti hujan, dibalik awan hitam yang menanti waktu untuk merekah.
Adinda, kasihku
Kau tau dimana makna senja? Dikala langit kota yang kemerah-merahan, diatas tanah basah yang digenangi air hujan, menuju penghujung hari menuju malam, kulukis rekah senyum mu pada susut awan kelabu.
Adinda, kasihku
Seberapa jauh jarak yang menyekat, ada satu kata yang membuatmu dekat, sekuat waktu yang menghadang, ada satu kata yang selalu mengundang.
Adinda, kasihku
Bilamana pohon memiliki akar, itulah aku yang memiliki engkau, yang bersemayam dibawah segala egomu, dan yang menari diatas mimpimu.
Adinda, kasihku
Ku kirimkan doa dalam dosaku

Yogyakarta, 12 Desember 2019

**

Kepada seorang wanita yang ingin kuhapus dari ingatan.
Din, berulang kali aku mengatakan
Engkau selalu saja tak mampu menghilang dalam ingatan
Aku mulai merasa jenuh dengan apa yang kurasakan
Namamu, wajahmu, apalagi senyum mu
Tanpa kenal waktu tiba menghampiriku.
Din, mengapa engkau selalu membantah saat ku usir
Aku ingin membuang ingatan itu jauh dari takdir
Yang selalu membuat hatiku menjadi getir
Wajah melankolis merayap padaku saat engkau hadir.
Din, sekali lagi dengarkanlah!
Saat kubilang pergilah
Segeralah bergegas tanpa usah resah
Tak kasihankah dengan batinku yang sudah lelah
Din, aku memohon sekali lagi
Dari ingatanku, engkau segera pergi
Agar dapat kembali pada yang namanya abadi
Ketika itulah engkau tak hadir dalam ingatan yang sepi
Tetapi engkau sudah menjadi bagian dari diri ini
Yang hadir bukan dengan telepon atau pesan setiap hari
Namun seatap kita dengan pernikahan yang menghiasi.
Adinda
Hilanglah dari ingatan
Tibalah dalam kenyataan
Tanpa jarak dan waktu yang menahan. 

Yogyakarta, 13 Desember 2019

**

Bolehkah aku menjadi payung di antara hujan yang membasahi pipimu?
Bolehkah namaku menjadi lirik doamu?
Bolehkah senyumku menjadi asal muasal dari kerinduanmu?
Jika tak boleh, aku ingin semoga hanya pikiranku yang tetap bersama dengamu.
Meskipun pikiranmu enggan, setidaknya hatimu masih terbuka secara perlahan.
Dan, sebelum aku menjumpai mimpi.
Izinkan aku bertamu pada ruang dibalik kedua payudaramu. 

Yogyakarta, 12 November 2019

**

Kepada malam yang tak punya iba

Kepada angin yang tak mengerti rasa

Kepada jangkrik yang berderu tak berirama

Malam tak lagi bersahabat dengan hati

Angin tak juga segera membawa kabar cinta

Jangkrik jauh dari hati yang diterka

Kisah tanggal ke-duapuluh sembilan seperti tak punya etika

Berlalu seperti dahan yang jatuh diatas kanvas berlukis domba

Ruang hati terasa dingin seperti kumbung jamur tiram di SMP tiga

Beberapa tahun silam rupanya semesta sedang bercanda

Jamur tiram dipetik oleh tangan dekil para siswa

Sekilas dua insan sedang mencoba merayu dalam tatapan mata

Gedung panjang berwarna putih biru juga membisu

Gerbang besi berwarna hitam menjelma jadi candu

Pukul tujuh kurang seperempat selalu ada senyum yang tertahan malu

Aksara "J" menjadi sebuah penyatu

Ketika angin malam menghempas ruang dan waktu

Dihadapan huruf yang tak bertuan, hanya satu kata yang menjadi pemandu

Sebut saja itu "Rindu"

ANC, 04 Desember 2019

**

Dulu,
Saat aku berada di fase yang rendah
Segala huruf dapat kugubah menjadi sebuah puisi tanda resah. 

Kini,
Saat aku berada di fase itu
Dari huruf A sampai Z tak alangnya bagaikan sampah yang tak berguna untuk diperbaharu. 

Dulu kini,
Berbeda dengan segala ceritanya
Tak ada yang bergerak pada porosnya
Hanya bualan semata

Dan aku ingin mengikrarkan kembali
Selanat datang cinta dalam hati
Semoga menjadi kisah abadi
Serta kasih yang suci

Yogya, 30 Oktober 2019