Seorang teman yang belum pernah mengecap pendidikan tinggi bertanya; 'mengapa orang-orang beragama melakukan korupsi di Indonesia?'. Saya sempat tersentak dengan pertanyaan itu. Ternyata pernyataan itu benar adanya.

Sejauh kita ketahui, para koruptor di Indonesia belum ada yang mengakui dirinya tidak beragama maupun tidak percaya Tuhan. Bahkan ada koruptor yang membidangi urusan agama.

Tidak sedikit pula koruptor yang berlatar belakang anggota dan pengurus organisasi agama. Artinya mereka cukup paham bahwa korupsi diharamkan dalam agama. Bahwa mengambil hak orang lain apalagi hak orang banyak adalah kejahatan luar biasa.

Lalu mengapa korupsi tetap dilakukan meski sudah jelas hukumnya. Sudah jelas pula dampak destruktifnya bagi diri, keluarga, dan negara. Apakah karena agama mengenal konsep taubat sehingga korupsi tetap dilakukan.

Apakah dibutuhkan sebuah fatwa dari pemuka agama bahwa korupsi adalah kejahatan (dosa) kepada Tuhan sekaligus kepada manusia sehingga taubat belum tentu diterima. Boleh jadi Tuhan memaafkan, namun belum tentu rakyat memaafkan. 

Gemarnya orang-orang beragama melakukan korupsi setidaknya membuktikan bahwa beragama hanya sebatas formalitas. Barangkali sebatas syarat administrasi untuk boleh tinggal di Indonesia. Atau sekedar alat untuk meraih kekuasaan politik.

Dalam setiap momen politik, agama seseorang menjadi isu penting. Seseorang yang beragama A dapat dikatakan mustahil menang di daerah yang penduduknya beragama C. Bahkan menjadi Presiden Indonesia sekalipun, isu agama menjadi syarat penting.

Apakah prilaku korup meski seseorang beragama bahkan pemuka agama dapat dikatakan sebagai das man (manusia palsu), mengambil istilah Martin Heidegger. Dalam bahasa agama prilaku itu disebut munafik.  

Karenanya, orang-orang beragama perlu kembali merekonstruksi tujuan beragama. Perlu sebuah pemikiran mendalam, berkelanjutan, apa sih pentingnya beragama. Jangan sampai menjadi parasit bagi agama dan lingkungan sekitar bahkan negara.

Stigma negatif atas orang-orang beragama yang korupsi bahkan memunculkan suara kebencian atas agama. Agama dianggap musuh pancasila. Padahal pancasila lahir atas jasa para pemikir yang beragama.

Hal itu bermakna perspektif beragama seseorang yang kini mengalami reduksi esensi. Dampaknya, agama yang harusnya menjadi pencegah perbuatan jahat, memoralkan moral, malah yang terjadi sebaliknya.

Seringkali  agama dijadikan alat menipu. Kebanyakan politisi mempratikkan demikian. Melalui agama yang dianut, melalui ritual yang diekspos, harapannya pemilih terpesona. Ibarat trik pesulap, pemilih tak menyadari hal itu.

Pemilih sangat percaya dengan mata dan telinga namun melupakan nuraninya sendiri. Politisi pun sukses meraih kuasa, para koruptor dijadikan pembantunya. Dijadikan ATM sebagai upah atas jabatan yang diberikan. Sebagai cara membersihkan diri dan mengorbankan 'bidak' sial yang ditangkap KPK.

Realitas tersebut kemudian memunculkan pertanyaan teman saya tadi. Ia bingung melihat realitas tersebut, yang beragama yang korupsi katanya.

Pernyataan itu ada benarnya meskipun tidak sepenuhnya benar. Masih banyak manusia Indonesia yang beragama memiliki akhlak yang baik. Dan biasanya jika terjun dalam dunia politik tidak akan bertahan lama. Tidak pula memiliki peran strategis.

Realitas politik hari ini berkata demikian, dunia politik didominasi das man (manusia penipu). Sehingga apapapun agamanya jika tidak menjadi das man akan tersingkir. Sementara mereka yang berkutbah moral dan kebajikan asalkan mahir menjadi das man akan survived. 

Dan karena politisi  di Indonesia wajib percaya Tuhan dan beragama, maka pelaku korupsi sudah pasti beragama. Lebih jauh lagi buka kembali kitab 'fiqih' politik karya mas Machiavelli, Il Principle.

Seorang politisi ulung haruslah pintar dan tahu kapan waktunya berbohong, jadi politisi dilarang keras jujur. Menurutnya, pemimpin atau politisi yang jujur tidak akan bertahan lama di dunia politik.

Sebaliknya, politisi yang tahu kapan waktunya berbohong akan meraih kekuasaan yang lebih lama. Maka jangan heran ketika penceramah kebenaran dan kebaikan malah menjadi koruptor. 

Itulah mengapa kemudian Diogenes di kemudian hari mengkritisi gurunya. Menurutnya, orang baik itu bukan orang selalu ngomong tentang kebaikan akan tetapi orang baik itu ialah mereka yang melakukan kebaikan.

Orang baik atau tidak juga bukan diuji di hadapan publik akan tetapi ketika ia sendirian. Di hadapan publik banyak politisi layaknya manusia suci tanpa dosa. Petuah dan retorikanya mampu menghipnotis akan tetapi di belakang malah melakukan korupsi.

Hal itu mengingatkan kita pada petuah Alghazali. Katanya, "memberi nasehat sangatlah mudah, bagian tersulitnya ialah menjalankan nasehat tersebut".

Silakan tidak setuju dengan judul tulisan ini, namun realitasnya yang melakukan korupsi di negeri ini ialah mereka yang beragama, bahkan dekat dengan ormas agama ataupun kader sebuah ormas agama. 

Bahkan pengadaan kitab suci pun dikorupsi. Sayangnya, respon kita berbeda ketika ada yang menghina isi kitab suci tersebut. Tidak ada demo besar untuk pelaku korupsi kitab suci. Bukankah prilaku itu menghina agama, terutama kitab suci agama tersebut. 

Bukankah dengan beragama harusnya manusia lebih empati. Tidak ingin mengambil hak orang lain dengan korupsi, menjadi manusia yang bermanfaat bagi sekitar bukan malah mudarat. Menjadi rahmat bagi orang lain di manapun dan kapanpun ia berada.