Hanya 23,78% yang lolos SBMPTN 2021, lalu bagaimana dengan 76,22% yang tidak lolos SBMPTN?

SBMPTN pada tahun 2021 hanya meloloskan 184.942 peserta atau sebesar 23,78% dari total seluruh peserta. Peserta lain yang tidak lolos mau tidak mau harus berjuang lagi di jalan lain, salah satunya dengan memutuskan gap year untuk mempersiapkan ujian SBMPTN di tahun berikutnya.

Sekarang ini semakin tren dengan istilah gap year apalagi sekarang banyak konten yang bertebaran tentang gap year, sehingga peminatnya semakin banyak dari tahun ke tahun. Namun, tidak sedikit juga yang masih belum bisa berpikir secara terbuka dengan gagasan ini. Sebagian dari pembaca mungkin belum mengetahui tentang gap year, maka mari kita cari tau makna dari gap year.


Apa itu gap year dan apa saja manfaatnya?

Ketika seseorang mengambil jeda untuk melanjutkan pendidikan karena suatu hal, maka inilah yang disebut dengan gap year. Sebagian orang masih ada yang memandang bahwa gap year merupakan hal yang negatif karena beranggapan gap year hanya membuang waktu saja di rumah dan tidak ada manfaatnya sama sekali.

Padahal banyak sekali manfaat dari gap year, diantaranya yaitu menemukan passion yang belum diketahui sebelumnya, menginstropeksi diri, mempertimbangkan ingin menjadi seperti apa di masa depan, lebih siap dalam menghadapi ujian perguruan tinggi, serta bisa lebih memfokuskan diri dalam menjalani perkuliahan nanti.


Gap year = privilese?

Kegiatan gap year akan sangat menyenangkan dan bermakna apabila memiliki orang terdekat dan lingkungan yang mendukung, bisa melakukan berbagai kegiatan yang positif selain belajar serta memiliki finansial yang stabil. Akan tetapi, hal itu akan sangat memungkinkan apabila memiliki privilese.

Lingkungan dan orang terdekat yang mendukung serta finansial yang stabil bagi sebagian orang merupakan keistimewaan bagi mereka karena tidak setiap orang dapat merasakan kegiatan gap year dengan baik. Keistimewaan tersebut juga dapat dikatakan sebagai sebuah privilese karena tidak semua orang bisa mendapatkan privilese tersebut.

Masih banyak orang tua yang tidak menyetujui apabila anaknya akan gap year karena terkesan membuang waktu dengan pemikiran untuk apa menunda pendidikan dan bisa tertinggal dengan temannya serta belum tentu di tahun depan bisa mendapatkan jurusan dan universitas yang diinginkan.

Selain itu, belum lagi mendengar perkataan tetangga yang bisa menyakitkan hati, seperti “Si A di rumah aja, ya? Cuman bisa menjadi beban orang tua saja.” atau “Lihat si B sudah kuliah di X, tidak seperti si C yang masih gap year dan hanya menganggur di rumah saja.” dan sebagainya.

Ditambah lagi jika timbul rasa insecure dan minder ketika melihat teman yang sudah menjalani kehidupan di kampus, untuk diajak bertemu saja rasanya tidak enak hati dan berujung mencari alasan untuk tidak menghadiri pertemuan tersebut.

Lebih fatalnya lagi apabila finansial tidak stabil, maka mau tidak mau harus bekerja sambil belajar untuk mempersiapkan ujian SBMPTN di tahun berikutnya. Selain menyisakan waktu yang lebih sedikit untuk belajar, bekerja saat gap year pun dapat membuat diri sendiri tidak fokus dengan tujuan awal mengambil gap year karena sudah terlena bisa menghasilkan uang sendiri.


Apa pengaruhnya bagi pejuang gap year?

Berbagai pengalaman pahit tersebut dapat membuat pejuang gap year mengalami demotivasi, putus asa, stres, bahkan bisa mengalami depresi. Tentu saja reaksi dari setiap orang dalam menghadapi hal tersebut akan berbeda-beda, baik secara positif maupun secara negatif. 

Sebagian orang yang menanggapi masalah tersebut secara positif maka akan lebih giat belajar untuk membuktikan bahwa ia mampu mencapai apa yang ia mau walaupun di sisi lain memiliki rasa ketakutan karena bisa saja di tahun depan akan gagal lagi. Sebagian yang lainnya bisa menanggapinya secara negatif, seperti:

  • Menutup diri

Ia enggan berinteraksi dengan yang lain termasuk juga keluarganya. Jika dibiarkan saja maka ia dapat merasa sendirian karena tidak ada yang peduli dengannya, rasa percaya diri menurun untuk menghadapi SBMPTN, dan juga dapat merasa depresi karena stress berkepanjangan.

  • Mencari pelarian

Ia mencari pelarian dengan bermain games, menonton film, dan sebagainya secara terus-menerus sampai lupa belajar.

  • Menyerah

Jika sudah merasa demotivasi dan lupa dengan tujuannya, maka ia akan patah semanagat dan menyerah untuk mengikuti SBMPTN di tahun berikutnya.

Pikirkanlah lebih matang lagi apabila ingin gap year, bulatkan tekad untuk tidak pantang menyerah dengan keadaan apapun jika sudah memutuskan untuk gap year. Tentukan motivasi terbesar untuk gap year dan kegiatan apa saja yang akan dilakukan selama gap year.

Jangan lupa membuat target belajar dari awal hingga menghadapi ujian agar bisa mengatur waktu belajar dan yang lebih terpenting adalah mempersiapkan fisik dan mental dengan baik agar kegiatan selama gap year berjalan lancar. Apabila menghadapi kesulitan, cari teman seperjuangan agar saling menguatkan satu sama lain dan tidak merasa sendirian.