1 tahun lalu · 711 view · 4 min baca · Politik 74688_30877.jpg
Ilustrasi: Yahya Cholil Staquf

Yahya Cholil Staquf untuk Perdamaian Israel-Palestina

Tak sedikit orang mengecam tindakan Yahya Cholil Staquf berkunjung ke Israel. Rasa marah membludak itu, bisa dipastikan, datang dari kalangan pembela Palestina. Mereka adalah aktivis Islam garis keras, pembenci Yahudi paling getol.

Di Indonesia, Komunitas Palestina menunjukkannya. Ia kutuk dan sesalkan kunjungan Anggota Watimpres ini ke Israel. Meski dalam rangka peredaman konflik Israel-Palestina, dukung upaya kemerdekaan, tetapi Komunitas ini menilainya sebagai penyesatan dan manipulasi.

Terlebih pertemuan Yahya dengan Wakil Duta Besar AS untuk Israel David Friedman. Karena kebencian akut pada Yahudi, yang mana Friedman adalah sosok Zionis dan pendukung pemukiman ilegal Israel di tanah Palestina, maka pertemuan itu dituding sebagai dukungan terhadap posisi Israel. Bagi mereka, ini jelas untuk konspirasi.

Terlepas misi sebenarnya di balik kunjungan, tetapi seruan Yahya untuk perdamaian Israel-Palestina tetap tidak bisa kita abaikan. Terdorong atas nama kegelisahan dan kesedihan, atas nama penderitaan, kekalutan, juga kegalauan, Yahya tampil begitu mengesankan.

“Senyatanya, saya datang ke sini bukan atas nama Indonesia, negeri asal saya. Bukan pula atas nama Nahdlatul Ulama, organisasi tempat saya mengabdi. Saya datang atas nama kegelisahan dan kesedihan saya pribadi," jelasnya dalam pidato yang ia sampaikan di Yerusalem.

Kegelisahan dan kesedihan itu, di diri Yahya, tumbuh atas kesaksiannya akan penderitaan orang-orang Palestina. Bahwa penderitaan mereka bukanlah milik mereka sendiri saja. Penderitaan mereka adalah juga kekalutan bangsa-bangsa Arab dan kegalauan dunia Islam.


Wajar belaka jika Yahya terharu kala diundang datang dan berbicara di forum Israel Council on Foreign Relations (ICFR). Berposisi sebagai seorang muslim, di mana atmosfer hari ini melulu diwarnai ketegangan, permusuhan, kebencian, dan dendam, tak menyurutkan pandangannya untuk tetap adil dalam melihat kondisi yang ada.

“Saya tidak melihat makna lain dari ini, selain bahwa Anda semua mempunyai niat baik. Anda tulus menginginkan jalan keluar dari kemelut ini. Anda percaya, atau sekurang-kurangnya ingin menguji kepercayaan Anda, pada harapan akan perdamaian dan masa depan yang lebih baik.”

Memberdayakan Inspirasi Agama

Kita tahu, sudah sejak berpuluh-puluh tahun lalu, orang-orang terus mencoba mengakhiri kemelut Israel-Palestina. Apa nyata? Gagal, gagal, dan gagal.

Kegagalan jalan damai itu lantaran seringnya hanya mempertimbangkan aspek politik dan militer saja. Maka itu, Yahya datang dengan menawarkan perlunya penambahan unsur baru dalam pengupayaan jalan damai, yakni unsur agama: memberdayakan inspirasi agama.

“Guru saya (Gus Dur) melihat gagasan itu sangat menarik. Tetapi, beliau juga melihat masalah besar: di dalam setiap agama, terdapat pertentangan-pertentangan pandangan, interpretasi, dan mazhab; maka gagasan itu kelihatan menarik sekali saat diucapkan, tapi pasti sulit sekali untuk diwujudkan.”

Meski tak sedikit orang juga mengamini ajaran Islam memang mendorong permusuhan—dalam hal ini—terhadap Yahudi, tetapi Yahya tetap percaya diri untuk menyerukannya. Memberdayakan inspirasi agama, baginya, adalah solusi yang tidak bisa ditunda-tunda lagi.

"Saya ingin mencari jalan keluar. Jika agama menghalanginya, mari kita tinggalkan saja (agama itu)."

Sebagai seorang pengiman agama, tentu Yahya tak menyarankan siapa pun untuk melepaskan diri dan membuang unsur ini. Ia menjelaskan, dogma (agama) adalah interpretasi. Jika suatu interpretasi agama tidak membantu kita memecakan masalah, maka mari kita jelajahi interpretasi-interpretasi lainnya.

Perdamaian adalah Pilihan

Musuh memang harus kita hancurkan. Tetapi, tiada cara paling ampuh menghancurkan musuh selain dengan menjadikannya sebagai teman—sebuah inspirasi berharga dari Abraham Lincoln: “Bukankah aku menghancurkan musuhku ketika aku menjadikan mereka temanku?”

Kunjungan Yahya ke Israel tampaknya membawa misi mulia seperti itu. Terlihat bagaimana ia menyeru bahwa jika kita terus ngotot memandang pihak lain sebagai musuh, Yahudi bagi Islam, atau sebaliknya, maka mustahil bagi kita mencipta peluang bagi perdamaian.

“Apa gunanya berbagi ini dan itu, menyepakati ini dan itu, mengatakan ini dan itu, jika kita tak pernah bersedia melepaskan cita-cita untuk membasmi musuh? Apakah kita akan terus bertarung sampai salah satu pihak musnah, walaupun harus selama-lamanya hidup dalam kesengsaraan?”


Tak ada kemenangan dari sebuah permusuhan. Akhir dari laku ini hanya akan menyisakan kerugian besar. Seperti kata pepatah: Kalah jadi abu, menang jadi arang.

Mungkin saja akar permusuhan itu sudah kita temukan. Bahwa penyebab terbesar adanya konflik adalah ketidakadilan. Sayangnya, masing-masing pihak punya konsep sendiri-sendiri tentang apa yang adil dan apa yang tidak adil itu. Maka permusuhan pun terus berlanjut tanpa ujung.

Lalu bagaimana menghadirkan keadilan bagi masing-masing peseteru?

“Keadilan bukan hanya soal menuntut, tapi juga soal memberi. Maka keadilan tak mungkin terwujud tanpa kasih sayang. Orang yang tidak bersedia memberikan kasih sayang, tidak mungkin mau mempersembahkan keadilan. Ini adalah ruh agama. Inilah ruh iman.”

Menjadi jelas bahwa akar konflik ini bukan lagi ketidakadilan, melainkan permusuhan. Kebencian kepada pihak lain senantiasa akan mendorong kita untuk terus berbuat tidak adil. Itulah kenapa Pram juga pernah menyeru: Berlaku adillah sejak dalam pikiran!

Sukar memang untuk meniadakan permusuhan dengan memuaskan semua pihak akan keadilan. Sebagaimana disebut di awal, masing-masing pihak punya perhitungan berbeda tentang apa yang adil dan tidak adil ini.

Tapi, dalam kesukaran, Yahya tampil menegaskan: hilangnya permusuhan adalah soal pilihan; perdamaian adalah pilihan.

“Apakah kita memilih dendam atau memaafkan? Apakah kita memilih kebencian atau kasih sayang? Apakah kita memilih bertarung hingga musnah atau berdamai dan bekerja sama?”

Ya, pilihan-pilihan yang jadi syarat bagi perdamaian bukanlah pilihan-pilihan mudah. Selama kita tidak mengubah pilihan dari mendendam dan memusuhi ke memaafkan dan berdamai, maka mustahil jalan keluar itu bisa teraih.

***

O, Palestina, dapatkah engkau mengistirahatkan jiwamu dari kemarahan dan dendam? O, Israel, dapatkah engkau menunda keresahanmu tentang rasa tak aman? O, Arab, dapatkah engkau merelakan ruang untuk berbagi? O, kaum Muslimin dan Yahudi, dapatkan kalian meletakkan rasa saling curiga dan membangun masa depan bersama dengan ruh iman?

O, Dunia! Dapatkah kalian membuat jeda dari perebutan kuasa dan sumber daya-sumber daya untuk peduli pada manusia? Manusia dengan darah dan daging seperti dirimu? Manusia dengan hati dan jiwa seperti milikmu? Manusia dengan orang-orang yang disayangi seperti engkau dengan kekasih-kekasihmu?


Artikel Terkait